Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Calon Ayah Yang Baik


__ADS_3

Suasana taman malam itu sungguh indah. Nara dan Jacob makan malam berdua di sana. Jujur Nara malah membayangkan jika saat ini Jaden lah yang melakukan semua ini walaupun kenyataannya bukan.


Apa yang dilakukan tuan JLnya saat ini. Nara sangat merindukannya.


"Nara, aku harap mama tidak perlu tau jika bayi itu adalah anak kakakku. Aku tidak ingin mama kecewa, apa kamu bisa membantuku?"


"Tapi nanti pasti akan ketahuan juga, Jacob."


"Aku tau, tapi untuk saat ini lebih baik kita sembunyikan saja dulu. Mamaku kapan hari pernah terkena serangan jantung."


"Ya Tuhan! Tapi bagaimana jika akhirnya mama mengetahui hal ini?"


"Nanti kita pikirkan untuk menjelaskan pada mama." Nara mengangguk.


"Jacob, terima kasih sudah sangat baik denganku."


Tangan Nara digenggam oleh tangan Jacob. "Kenapa kamu terus berterima kasih padaku? Nara aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu. Oh ya! Ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu." Jacob mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Apa ini?" Nara terkejut saat Jacob mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dan ada sebuah cincin berlian di dalamnya.


"Untuk kamu, Nara. Aku ingin kamu tau bahwa aku benar-benar serius sama kamu."


Deg!


Jantung Nara seolah berdetak cepat dan keras. Apa yang harus dirinya lakukan. Nara menerima Jacob karena ancaman itu, walaupun sebenarnya Nara juga menghormati pria ini.


"Jacob, aku tau kamu sangat mencintaiku, tapi kamu tidak seharusnya memberi cincin yang mahal ini."


"Cincin ini tidak lebih mahal dan berharga daripada kamu dan calon bayi kita."


Nara terenyuh mendengar ucapan Jacob yang sangat memperhatikan dirinya dan bayi di dalam kandungannya.


Jacob mendorong kursi rodanya dan mendekat pada Nara. "Kemarilah." Nara dituntun untuk duduk di pangkuan Jacob. Nara benar-benar bingung, dia seolah teringat saat dulu Jaden memakai kursi roda.


"Aku akan memakaikan cincin ini di jari kamu."


Jacob menyematkan cincin pada jari manis Nara dan dia mendekatkan wajah Nara sangat dekat. Samar wajah Nara tampak bingung, dia takut jika Jacob akan menciumnya. Bagi Nara hanya Jaden pemilik sah bibirnya tidak boleh ada yang lain, tapi Nara bingung harus menolak Jacob.


Nara membuka kedua mata dan dia tidak menyangka jika Jacob mengecup kening Nara.


"Jacob."


Pria dengan wajah lembutnya itu tersenyum pada Nara. "Sekarang kita lanjutkan makannya."

__ADS_1


***


Pagi itu Nara sudah siap untuk berangkat ke kampus dia naik mobil dan duduk di belakang dengan Jacob. Jacob tak melepaskan genggaman tangan Nara.


Di tengah perjalanan tiba-tiba mobil yang mereka naik hampir menabrak seseorang sampai Nara dan Jacob terjungkal. Nara jatuh ke bawa jok dan Jacob menahan tangannya pada kursi depan.


"Nara, kamu tidak apa-apa?" tanya Jacob cemas.


"Auw ...!" Nara memegangi sikutnya yang berdarah dan duduk kembali di kursinya.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu tidak hati-hati? Aku pecat kamu!" Jacob marah pada supir pribadinya.


"Jacob, sudah, aku tidak apa-apa." Nara mencoba menenangkan Jacob.


"Maaf, Tuan Muda, tapi tadi ada yang menyebrang jalan sembarangan jadi saya spontan berhenti."


"Sekali lagi kamu membahayakan diriku dan Nara, aku pastikan kamu keluar dari pekerjaan kamu dan tidak akan ada yang mau memakai jasamu. Kamu dengar?"


"Iya, Tuan. Nona Nara saya minta maaf."


"Iya, tidak apa-apa."


Perjalanan sampai di kampus dan pelajaran di mulai sangat baik. Sampai jam istirahat berbunyi.


"Ini aku mau mengembalikan ke perpustakaan. Aku juga membutuhkan buku tentang bagian tubuh manusia, dan hanya ada di perpustakaan."


"Aku akan mendorong kamu ke perpustakaan. "


"Jangan Nara, kamu sedang hamil. Aku akan minta tolong tim atau Grace."


"Mereka sedang ada tugas diluar karena aku anak baru jadi aku tidak bisa ikut. Tidak apa-apa biar aku saja."


"Sebentar." Ternyata Jacob mendapat panggilan. "Nara, nanti saja soalnya aku mendapat panggilan di ruang rektor sebentar."


"Kalau begitu aku bawa saja sendiri ke perpustakaan dan akan aku carikan buku yang kamu inginkan."


"Kamu tunggu saja aku di sana. Aku akan segera menyusul kamu. Jangan lakukan hal apapun, Nara."


"Iya." Nara mengambil buku di pangkuan Jacob, dan membawanya ke perpustakaan.


Nara mengembalikan buku itu dan bertanya di rak mana buku yang diinginkan oleh Jacob.


Nara menuju lorong rak di mana buku yang diinginkan oleh Jacob. "Tinggi sekali tempat bukunya." Nara mendongak ke atas dan melihat buku itu ada di bagian rak paling atas. Nara mengedarkan pandangannya mencari tangga kecil yang biasa ada di perpustakaan.

__ADS_1


"Itu dia. Aku akan mengambilkan buku itu untuk Jacob. Jacob juga tidak akan bisa mengambilkannya. Lagi pula ini bukan hal yang terlalu beresiko."


Nara menaiki pelan-pelan anak tangga itu dan dia berhasil meraih buku yang di maksud. Nara turun perlahan, tiba-tiba Nara merasakan pusing dan tubuhnya tidak seimbang.


Blup!


"Dasar gadis bodoh!"


"Tuan JL? Kamu kenapa ada di sini? Bukannya Tuan JL sudah kembali ke rumah Tuan?"


"Aku memutuskan untuk tidak kembali karena aku ingin menjaga kamu dan bayiku."


"Apa? Jadi kemarin Tuan JL tidak jadi kembali? Lalu, Tuan tidur di mana?".


"Di rumah Cathy. Aku tinggal di sana."


Seketika Nara mukanya ditekuk kesal. "Pasti menyenangkan bisa sekamar dengan wanita secantik Cathy. Turunkan aku, Tuan JL!" Nara berontak minta turun. "Aku mau kembali ke kelasku."


"Diam! Kamu benar-benar ceroboh. Untuk apa naik-naik seperti ini? Apa kamu lupa kalau kamu hamil?"


"Aku ingin mengambil buku ini untuk Jacob karena dia membutuhkan buku ini."


"Letakkan buku itu di sana dan aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."


"Aku masih ada kelas, jangan main bawa anak orang begitu saja."


Jaden menurunkan Nara dan mengambil buku di tangan Nara, kemudian dia kembali menggendong Nara dengan cepat.


"Kenapa digendong lagi?"


"Jangan berisik, Nara. Kita sedang di perpustakaan. Kamu jangan membuat heboh."


Jaden berjalan menuju jalan belakang perpustakaan. Jaden tentu saja tau jalan lain di sana karena dulu dia sempat kuliah di sana, dan dia tergolong anak yang pendiam yang suka menyendiri di tempat-tempat sepi yang ada di kampus itu.


"Tuan JL, kita mau ke mana?" Nara tampak ketakutan melihat sekeliling mencari pria yang selalu di suruh mengawasi Jaden.


"Kamu ikut saja, jangan banyak tanya. Aku ingin bertemu dengan bayiku, Nara. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."


"Maksud kamu apa, Tuan JL?" Nara mengkerutkan kedua alisnya.


Jaden tidak menjawab, dia membawa Nara masuk ke dalam mobil yang terparkir di tempat sepi dan memasangkan sabuk pengaman kemudian mereka pergi dari sana.


__ADS_1


__ADS_2