Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Nara tampak ditekuk mukanya saat ini. Dia berjalan dengan di gandeng oleh Jaden kembali ke rumah. Jaden beralasan jika nenek menyuruh mereka malam ini datang ke rumah untuk diajak makan malam.


"Selalu saja mengelak, atau memang tidak mencintaiku, tapi takut melukai perasaanku," Nara menggerutu.


Mereka sudah sampai di depan rumah, Nara langsung masuk ke dalam rumah melepaskan gandengan tangan Jaden. Jaden tau jika gadisnya itu pasti marah. Dia berjalan mengikuti Nara dari belakang. Melihat Nara berada di dapur, sepertinya Nara sedang menyiapkan makanan untuk mereka.


"Nara," panggil Jaden lirih.


Nara yang mendengar, tapi pura-pura tidak dengar, tidak menjawab panggilan Jaden.


"Kamu marah denganku?" Jaden tiba-tiba memeluk Nara dari belakang. Namun, Nara masih tetap diam tidak menjawab.


"Nara, aku sedang bertanya sama kamu?"


"Memangnya aku harus menjawab apa? Seorang pelayan apakah boleh marah dengan majikannya? Bisa-bisa dipecat." Nara berbicara dengan terus mengupas kentang di tangannya.


"Nara, aku tidak ingin kita terus-terusan berdebat masalah seperti ini. Kita sudah sering kali membahas masalah seperti ini dan kamu sudah bisa menerima semua sikapku. Apa yang aku lakukan sama kamu. Apa perlu kamu tuntut jawabannya?"


"Auw!" Jari Nara tiba-tiba terkena pisau dan berdarah. Jaden yang melihatnya langsung memasukkan jari Nara ke dalam mulutnya untuk menghisapnya.


Nara melihat pria yang sedang menghisap jari tangannya yang berdarah.


"Aku memang sudah putuskan untuk menerima semua ini, tanpa meminta jawaban atas sikap kamu, Tuan, tapi entah kadang dalam hatiku, aku ingin sekali mengetahui perasaan Tuan padaku."


"Aku akan melindungi kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu, Nara." Jaden mengusap pipi Nara. "Cukup itu saja yang kamu tau."


"Miris sekali kisah cintaku yang baru jatuh cinta pada seorang pria. Kenapa dulu aku tidak jatuh cinta saja pada Paijo atau Mas Leo. Setidaknya mereka mungkin tidak akan menggantung perasaanku."


"Kamu bicara apa?" Jaden menarik tangan Nara dan membuat mereka berdua saling menatap.


"Aku tidak bicara apa-apa, Tuan. Aku juga berjanji mulai saat ini dan detik ini aku tidak akan bertanya-tanya lagi tentang perasaan Tuan JL padaku. Aku anggap saja hubungan kita ini hanga sebatas bersenang-senang saja. Aku sudah lelah juga." Nara melepaskan tangan Jaden dan pergi dari sana.


Jaden menghela napasnya panjang. "Jika duniaku tidak sekejam ini, aku pasti akan memberikan kepastian pada kamu, Nara." Lagi-lagi Jaden berdialog sendiri.


Siang itu mereka makan pagi bersama karena pagi tadi mereka belum sarapan, jadi siang hari, tapi sarapan pagi.


"Nara, setelah ini kamu bersiap-siaplah


karena kita akan ke rumah nenek."

__ADS_1


"Tuan, apa aku harus ikut ke rumah nenek, Tuan? Aku malu."


"Malu kenapa?"


"Aku hanya seorang pelayan, kenapa Tuan malah memperkenalkan aku dengan nenek Tuan?"


"Nenek yang minta untuk bertemu dan berkenalan sama kamu. Kalau aku tidak membawa kamu, aku tidak akan bisa bertemu dengan nenekku lagi."


"Kenapa begitu?" Nara tampak bingung.


"Karena tadi wanita cantikku itu sudah mengancam begitu." Nara malah terkekeh. "Ada yang lucu?"


"Ada. Ternyata nenek Tuan lebih sadis mengancamnya."


"Sekarang ganti baju kamu dan kita akan pergi ke rumah nenek."


Nara mengangguk dan dia pergi lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Jaden yang masih berdiri di sana tampak terdiam. "Maaf, jika aku akan selalu menyakiti kamu, Nara."


Hampir setengah jam mereka berada di dalam kamar masing-masing. Nara bingung sendiri nanti dia harus bicara apa saja di depan nenek Jaden?


Sedangkan Jaden sedang berbicara dengan Leo di telepon. "Tuan, urusan bisnis kita sudah selesai dengan baik, tapi sepertinya sebentar lagi Tuan akan memiliki musuh baru yang baru saja kita hancurkan bisnisnya."


"Sama sekali tidak. Bahkan kematian juga sudah menjadi bayanganku di mana aku berada."


"Aku tidak akan membiarkan kamu kenapa-napa. Aku sangat senang bisa menghancurkan pria tua itu yang sudah mengambil wilayah kakekku dulu."


Tok ... tok ...


Terdengar suara ketukan dari luar kamar Jaden. "Leo, nanti kita bicara lagi. Aku mau pergi ke rumah nenek dengan Nara."


"Apa? Tuan mau pergi ke rumah nenek dengan Nara? Apa Tuan tidak salah mengajak Nara bertemu dengan nenek?"


"Wanita tua itu yang mengancamku agar aku ke rumah membawa Nara, atau kalau tidak dia akan membuat aku tidak akan bisa menemuminya."


"Mungkin Tuan akan disuruh menikah dengan Nara," celetuk Leo.


"Kamu mau nasib Nara berakhir tragis jika menikah denganku?" Leo langsung terdiam. "Ya sudah kalau begitu. Cepat selesaikan urusan kamu dan cepat kembali."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Mereka mengakhiri panggilan dan Jaden berjalan membuka pintu.


Tampak di depan pintu seorang gadis cantik dengan baju non formal berwarna hitam dan dia hanya menjepit samping rambutnya yang terurai.


"Tuan kenapa belum memakai baju?" Nara dapat melihat roti sobek perut Jaden.


Pria itu tidak menjawab malah menarik baju Nara masuk ke dalam kamarnya. "Siapkan baju untukku," bisik Jaden lirih pads telinga Nara.


Nara melepaskan tangan Jaden yang melingkar pada perut Nara. Nara berjalan santai masuk ke walk in closet untuk memilihkan baju Jaden.


"Pakaikan untukku, Nara"


Nara tanpa membantah memakaikan baju pada Jaden dan seperti biasa dia naik ke atas ranjang agar dapat merapikan kra kemeja Jaden.


"Aku yakin nenek akan senang bisa bertemu dengan kamu."


"Aku yang bingung nanti bicara apa sama nenek Tuan?"


"Nenekku orang yang baik. Bukannya kamu juga pernah mengatakan hal itu?"


"Iya, tapi tetap saja beda antara bicara di telepon dan berhadapan langsung."


"Kamu tenang saja, Nara. Oh ya! Jangan sampai kamu mengatakan di mana kita tinggal, selama ini nenek mengira aku tinggal di apartemenku, dan jangan katakan tentang semua yang sudah terjadi selama ini. Bersikaplah wajar."


"Memangnya selama ini aku tidak wajar? Tuan ini yang tidak wajar," Nara bicara lirih.


"Susah sekali ya menghilangkan sikap menggerutumu itu?" Jaden mencubit kecil hidung Nara.


"Tuan JL juga. Susah sekali ya bersikap tidak aneh? Dasar Tuan aneh," Nara mengolok Jaden dan berlari dengan cepat dari kamar Jaden.


"Nara! Awas kamu!" Geram Jaden kesal karena di panggil Nara Tuan Aneh.


Mereka berada di dalam mobil menuju rumah nenek. Di sepanjang perjalanan Nara bertanya tentang sifat nenek Miranti dan segala hal yang disukai dan tidak disukai oleh Nenek Jaden.


"Kamu kenapa banyak tanya? Memangnya kamu mau melamar menjadi cucu menantunya?"


"Ya siapa tau nenek mau mengangkatku menjadi menantunya, tapi bukan untuk cucunya yang ada di sampingku ini." Nara melirik Jaden.


"Nenekku juga memiliki cucu satu lagi, dan dia sangat jauh berbeda denganku," ucap Jaden tanpa melihat pada Nara.

__ADS_1


__ADS_2