Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hampir Celaka


__ADS_3

Wanita paruh baya itu tersenyum sendirian setelah mengakhiri panggilan dengan cucunya.


Leo yang baru saja tiba di sana tampak heran melihat wajah nenek Miranti.


"Nek, Nenek kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat nenek terlihat bahagia seperti ini?"


"Sini, Leo. Nenek mau menceritakan sesuatu hal yang sangat membahagiakan buat nenek."


"Apa itu, Nek?" Leo yang penasaran duduk di depan nenek Miranti yang sedang menikmati teh hangatnya di waktu sore. Perbedaan waktu di Kanada dan Indonesia, ya.


"Sebentar lagi nenek akan memiliki cicit yang sangat lucu," tuturnya senang.


"Cicit? Memangnya tuan muda Jacob akan menikah?" tanya Leo heran.


"Kenapa jadi Jacob? Aku akan memiliki cicit dari Jaden dan Nara."


"Apa? Apa maksud Nenek dari memiliki cicit dari tuan Jaden dan Nara. Memangnya tuan Jaden dan Nara akan menikah, terus memberi Nenek cucu?"


"Huft! Cucuku itu sudah membuat gadis lugu dan baik hati seperti Nara mengandung anaknya sebelum dia menikahi Nara," ucapnya lemas.


"Hah! Jadi sekarang Nara mengandung anak dari tuan Jaden?" Nenek mengangguk. "Huft! Aku benar-benar tidak punya kesempatan kalau begitu."


"Tidak punya kesempatan? Memangnya kamu juga menyukai Nara?"


Leo malah meringis mendengar pertanyaan nenek. "Aku akui, dulu aku menyukai Nara saat Nara tinggal di rumah tuan Jaden dan menjadi pelayan di sana."


"Gadis itu memang memiliki pesona yang tidak bisa diabaikan. Bahkan cucuku si super dingin itupun bisa takluk padanya."


"Nenek benar. Nara hanya seorang gadis biasa, tapi yang ada di hatinya itu luar biasa. Nek, tapi yang aku dengar jika Nara sedang bersama tuan muda Jacob."


"Itu benar, dan kamu tidak perlu khawatir. Nara adalah milik Jaden, dan aku yakin jika cucuku akan membawanya kembali ke sini."


***


Hari ini Jaden izin akan kembali ke Indonesia. Carlos tampak menatap senang melihat kepergian putra angkatnya. Beda sekali dengan Nara. Dia ingin sekali menggandeng tangan Jaden dan ikut pergi dengannya, tapi dia tidak bisa melakukannya.


Nara tampak terdiam di dalam kamarnya setelah mengantar Jaden keluar dari rumah keluarga Thomson.

__ADS_1


Ponsel Nara berdering dan Nara sontak kaget. Dia berharap Tuan JL yang menghubunginya.


"Jacob? Ada apa dia menghubungiku?"


"Halo, Nara."


"Jacob, ada apa kamu menghubungiku?"


"Nara, turunlah sebentar, ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."


"Memangnya apa yang mau kamu tunjukkan padaku, Jacob?"


"Sesuatu yang aku yakin kamu akan menyukainya. Turunlah, aku akan menunggu di bawah."


"Iya." Nara segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan turun ke lantai bawah. Saat akan menginjak anak tangga ke lima dari bawah, tiba-tiba Nara terpeleset dan berteriak.


"Nona Nara!" teriak salah satu maid di sana.


Jacob dan yang lain, mendengar teriakan itu langsung keluar dan kaget melihat Nara dalam pelukan maid yang usianya hampir sama dengan mama Miranda.


"Nara, kamu kenapa?" tanya Jacob cemas.


"Kenapa kamu tidak hati-hati, Nara? Apa kamu baik-baik saja?" Jacob mencoba memeriksa keadaan Nara.


"Aku baik-baik saja, tadi bibi pelayan berhasil menangkap aku, jadi aku tidak sampai jatuh."


Tampak Jacob menghela napasnya pelan. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja Nara, aku tidak mau kamu kenapa-napa." Jacob memegang tangan Nara.


"Kenapa bisa licin? Tolong kamu periksa anak tangga itu kenapa bisa licin." Perintah Miranda pada maid di sana.


Salah satu Maid memeriksa anak tangga itu. "Nyonya Miranda, saya menemukan ada bekas air di salah satu anak tangga yang menyebabkan jadi licin."


"Air? Kenapa bisa ada air di sana?" Miranda tampak marah dan dia berjalan menuju anak tangga itu dan mengusap tangannya. Ternyata benar ada air di sana.


"Apa kalian habis membersihkan lantai atas sampai ada air di sini?" tanya Miranda marah.


"Maaf, Nyonya Miranda, tadi saya dari lantai atas dengan membawa teko minuman yang saya baru ambil dari kamar Tuan JL. Mungkin pas saya turun airnya jatuh. Nona Nara saya minta maaf."

__ADS_1


"Kamu ceroboh sekali! Bagaimana kalau Nara sampai jatuh, dan bayi dalam kandungan Nara mengalami keguguran? Aku pecat kamu!" seru Jacob marah.


"Apa? Nara hamil?" Mata Miranda membulat.


Nara tampak tidak enak melihat pada mama Miranda karena hanya mama Miranda yang tidak tau jika Nara hamil.


"Kalian sudah--?" Mama Miranda melihat pada Jacob dan Nara.


"Cepat bereskan semua ini! Dan enyah dari hadapanku!" usir Jacob ketus.


Mereka semua pergi dari sana dan hanya ada mereka berempat. "Jacob, apa kamu bisa jelaskan sesuatu pada mama tentang kehamilan Nara?"


"Iya, Ma. Nara hamil anakku dan aku akan bertanggung jawab pada Nara."


"Oh Tuhan! Jadi Nara hamil anak kamu? Dan aku akan menjadi nenek?" Seketika wanita cantik itu memeluk Nara dengan erat dan mengecup pipi. "Mulai sekarang kamu harus menjaga kesehatan diri kamu dan bayi kecil cucu Mama. kamu jangan capek-capek dan jangan naik turun tangga. Mama akan menyiapkan kamar kamu di bawah dekat dengan Jacob. Atau kalau perlu kamu tidur di kamar Jacob."


"Saya tidur di kamar saya sendiri saja, Ma."


"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti akan mama atur tempat tidur kamu."


Nara hanya bisa mengangguk perlahan. Nara melihat wajah bahagia mama Miranda. Sebenarnya Nara ingin jujur mengatakan siapa sebenarnya ayah dari bayi yang sedang dia kandung, tapi tangan Jacob sudah melarang lebih dulu.


Jacob mengajak Nara menuju taman depan rumah karena sudah menyiapkan sesuatu yang indah di sana.


"Jacob, apa ini semua?" Nara tampak terkesima melihat dekorasi makan malam sederhana yang Jacob sudah persiapkan untuk Nara.


"Aku ingin menunjukkan ini sama kamu. Apa kamu suka?"


"Suka Jacob, aku sangat suka sekali. Aku tidak menyangka jika kamu bisa membuat hal romantis seperti ini." Jacob membuat acara makan malam di taman depan rumah dan memberinya sentuhan sederhana. Lampu, bunga dan ada lilin yang menyala menambah suasana tampak romantis.


"Jacob, kenapa kamu bersusah payah seperti ini? Kalau kamu capek bagaimana?"


Tangan Jacob memegang kedua tangan Nara dengan erat. "Aku akan baik-baik saja dan bahkan sangat baik jika kamu menyukai apa yang aku lakukan untuk kamu."


"Kalau begitu kita makan malam sekarang saja. Bayi dalam perutku sudah minta makan dari tadi," bisik Nara pelan.


Jacob tersenyum manis. "Nara, besok kita akan periksakan kandungan kamu, aku khawatir karena kamu tadi hampir terjatuh. Kita akan pergi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku baik-baik saja Jacob. Jacob, kenapa tadi tidak kamu katakan pada mama yang sejujurnya?"



__ADS_2