
Setelah pulang dari kantornya, Jaden langsung menuju ke rumah neneknya dengan membawa beberapa hadiah.
Pria tinggi besar itu masuk ke dalam rumah dengan membawa banyak hadiah. "Di mana Nenek?" tanyanya pada kepala pelayan di sana.
"Nenek Miranti sedang berada di paviliun Tuan Hyden."
"Kalau begitu aku akan ke sana."
"Tuan Muda Jaden," panggil wanita yang tampak beberapa uban di rambutnya.
"Ada apa, Bi?"
"Bibi lihat kamu mulai jarang datang ke sini untuk menemani nenek kamu, bahkan kedua orang tua kamu juga sudah tidak pernah mengunjunginya.".
Jaden diam di tempatnya menatap datar pada wanita paruh baya di depannya. "Aku tau, Bi."
"Kalau bisa kamu tinggal di sini saja agar nenek kamu tidak kesepian."
"Aku sedang banyak urusan yang harus segera aku selesaikan, Bi. Aku akan coba mengatur jadwalku agar lebih banyak menghabiskan waktu untuk nenek nantinya."
__ADS_1
"Kalau kamu tidak ada waktu buat nenek kamu, setidaknya kamu bisa mencarikan teman untuk nenek kamu."
"Kan ada Bibi. Apa maksud Bibi, aku mencarikan calon kakek baru untuk menemani nenekku?" celetuknya, dan akhirnya mendapat cubitan pada lengan tangan Jaden.
"Bukan begitu. Dasar kamu anak nakal!" serunya kesal.
"Aku tau maksud Bibi. Aku di suruh menikah dan mencarikan nenek cucu menantu untuk bisa tinggal di sini, kan? Kalian berdua sudah berkomplot untuk bekerja sama merayuku, tapi maaf Dua Wanita Tua Cantikku. Aku tidak ingin melakukan hal itu."
Jaden tersenyum kecil dan berjalan pergi masuk ke dalam rumah. Jaden menuju paviliuan dengan dominasi warna putih yang ada tepat di belakang rumah besar milik nenek Jaden.
Jaden membuka pintu perlahan dan dia melihat neneknya duduk dengan menyimpangkan kakinya di bangku dan di depannya tampak lukisan seorang pria dengan janggut berwarna putihnya, dan wajahnya tampak tegas dan dingin. Lukisan yang dilihatnya itu sangat besar.
Jaden memperhatikan neneknya yang sedang berbicara sendiri dengan lukisan wajah kakeknya.
"Kamu tau, Hyden. Cucuk kesayangan kamu itu sekarang sudah tidak pernah mengajakkua jalan-jalan lagi karena semua kesibukan yang kamu wariskan kepadanya. Kadang aku merasa kesal karena hal itu, tapi itulah cucu kamu."
"Kenapa harus mengadu pada kakek?" suara Jaden yang mengagetkan neneknya dari belakang langsung memeluk wanita tua yang masih cantik itu dari belakang.
"Kamu ada di sini!"
__ADS_1
"Selamat ulang tahun untuk kalian berdua. Maaf jika selama ini sudah membuat nenek bersedih."
Ulang tahun nenek dan kakek Jaden ternyata tepat di tanggal dan bulan yang sama. Jadi setiap tahun mereka berdua selalu merayakannya bersama-sama.
"Terima kasih, Sayang. Dahal nenek kira kamu tidak ingat dengan ulang tahun nenek dan kakek." Tampak tangan dengan gerutan keriput itu mengusap lembut pipi Jaden yang menempel pada pundaknya.
"Tidak akan aku melupakan hari istimewa kalian. Ini jadi dariku."
Jaden memberikan sebuah buket bunga tulip berwarna putih dan ada kotak lumayan besar pada neneknya.
Nenek Miranti membuka hadiah itu dan tampak matanya berkaca-kaca melihat hadiah pemberian Jaden.
"Terima kasih, Jaden. Kado ini akan selalu nenek simpan bahkan saat nenek meninggal. Nenek ingin membawa serta kado dari kamu ini."
"Nenek jangan bicara soal kematian. Nenek akan menikmati hidup nenek lebih lama. Sekarang nenek akan aku ajak kencan, kita akan pergi makan malam berdua, dan nenek silakan memakai baju pemberian kakek saat kalian pertama kali pergi berkencan."
"Kamu ini apa-apa sih!" Wajah cantik itu tampak malu.
"Aku tunggu di luar, dan nenek bersiap-siaplah. Aku tidak mau kita hanya saling bicara di rumah dan yang nenek bahas hanya tentang kapan aku menikah." Jaden berjalan keluar dari Paviliun itu dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong celananya.
__ADS_1