Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bulan Madu Sesungguhnya part 2


__ADS_3

Nara tampak senang duduk di depan kapal yang sedang dikemudian oleh suaminya sendiri. Nara menikmati pemandangan yang sungguh sangat indah. Jaden tak hentinya melemparkan senyuman manis pada istrinya yang sekarang berdiri menghadap padanya dan memberikan kecupan dari jarak jauhnya.


"Kenapa baru sekarang kamu membawaku ke sini, Tuan kesayangan?"


"Aku masih menunggu saat yang tepat untuk membawa kamu ke sini. Dan sekarang lah saat yang tepat itu."


"Kenapa harus sekarang, memang saat yang tepat untuk apa?" Nara turun dari atas dan berjalan menuju ruang kemudi mendekat pada suaminya.


"Kamu sudah sembuh, dan kita sudah bisa memproses Jaden kecil," bisik Jaden pada telinga Nara.


Nara yang mendengar hal itu seketika wajahnya jadi malu. "Bukannya tadi sudah?" kata Nara lirih.


"Itu tadi, kan, hanya makanan pembuka, belum hidangan utamanya."


"Makanan pembuka? Hidangan utama? Memangnya aku makanan?" Nara mengerucutkan bibirnya.


Jaden menghentikan mesin kapalnya dan dia melihat lekat pada Nara. Nara malah bingung ini kenapa kapalnya berhenti, sedangkan dia tidak melihat daratan atau tempat yang bisa di singgah. Nara hanya melihat banyak pepohonan hijau dan air yang tampak jernih, sehingga terlihat ikan yang sedang berenang di dalamnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Nara heran.


"Ini masih awal perjalanan bulan madu juga Nara." Jaden melepas kaos berwarna birunya dan malah masuk ke dalam air. "Kemarilah, Sayang, ayo ikut berenang denganku." Tangan Jaden melambai saat di dalam air.


"Tidak mau! Aku tadi sudah mandi, kenapa mengajakku berenang?"


"Ayolah! Airnya sangat segar dan kamu pasti menyukainya. Ini bulan madu kita, apa kamu tidak ingin membuat bulan madu ini sangat indah?" rengek Jaden seperti anak kecil.


Nara yang melihat hal itu jadi tidak tega, dia membuka bajunya dan hanya menyusahkan satu set dalaman berwarna hitamnya masuk ke dalam air mengikuti suaminya. Si tuan mafia tampan itu tak melepaskan pandangannya dari sang istri yang tampak takut melihat sorot mata menginginkan dirinya lagi itu.

__ADS_1


"Jangan melihatku seperti itu, kamu pasti mau minta lagi hal yang tadi? Aku tidak mau, kita sedang berada di alam terbuka dan aku tidak mau melakukan hal yang aneh-aneh di sini." Nara yang sudah jago berenang karena diajari oleh Jaden, berenang menjauh dari suaminya.


"Di sini hanya ada kita berdua, Nara, kenapa kamu malah takut?"


"Pokoknya tidak mau!" teriak Nara tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Memangnya dia mau kabur ke mana? Dasar keras kepala, tapi aku mencintaimu, Nara," Jaden berdialog sendiri.


Jaden menyusul istrinya yang berenang menelusuri tempat itu. Nara berhenti di sebuah daratan dengan ada bebatuan membentuk goa dan ada pasir yang sangat halus di sana. Nara tampak senang melihat pemandangan di sana.


Jaden yang baru datang langsung memeluk Nara dari belakang, dan mengecupi leher istrinya. "Tempat ini indah sekali. Aku menyukainya."


"Kamu belum melihat semuanya."


"Maksud kamu?" Nara heran dengan ucapan Jaden.


"Ikut denganku." Jaden menggandeng tangan Nara dan membawa wanita itu ke belakang goa yang ternyata di sana Jaden sudah menyiapkan sesuatu hal yang Nara tidak pernah sangka.


"Aku yang menyiapkan semua ini untukmu, Sayang."


Nara menangis haru melihat apa yang sudah Jaden siapkan untuk dirinya. Sebuah candle light dinner, dan ada tempat tidur pengantin dengan selambu putih dihiasi bunga-bunga coklat kering dan ada lampu kecil-kecil. Tidak hanya itu di sana juga ada banyak foto polaroid masa kecil Nara dan kedua orang tuanya, bahkan foto Jaden kecil juga ada.


"Foto kita tidak ada. Kamu memang tidak suka di foto."


"Nanti saja saat kita memiliki seorang anak dan kita akan berfoto bersama dengan nenek juga." Nara mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada suaminya dengan cara memberi kecupan yang hangat dan dalam.


"Kamu sukanya membuatku menangis." Nara memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


"Dan kamu sukanya memberiku kebahagiaan. Aku mencintaimu, Nara."


"Aku juga sangat mencintaimu, Tuan aneh."


"Kamu sengaja memancingku, ya?"


"Memancing apa? Auw!" Nara berteriak kaget saat tubuhnya dibawa oleh Jaden ala karung beras dan Jaden meletakkannya perlahan di atas tempat tidur yang dihias sangat indah. "Kita akan merayakan pesta pernikahan kita berdua di sini."


Nara yang berada di bawah tubuh Jaden, menggelayutkan tangannya pada leher Jaden dan menatap lekat manik mata pria itu. "Aku milikmu, Sayang," ucap Nara.


Jaden kembali melakukan apa itu bulan madu sesungguhnya. Mereka berdua menikmati waktu bersama dengan sangat baik. Setelah makan malam di sana, Jaden kembali mengajak Nara kembali ke kapal karena mereka akan pergi ke tempat yang menjadi tujuan utama di sana. Esmera sudah menyiapkan tempat itu untuk mereka berdua. Jadi, tempat itu benar-benar hanya ada Jaden dan Nara.


Kapal mereka tiba di sebuah pondok terbuat dari kayu dan di bawahnya tepat air danau laut yang sangat jernih. Sekilas pondok itu terlihat biasa dan kecil, tapi saat masuk ke dalam, Nara disuguhkan dengan pemandangan tata ruangan yang sangat apik. Barang-barang di sana pun terbilang bukan barang-barang yang murah.


"Ini rumah siapa, Sayang?Jangan bilang kamu membeli rumah ini juga? Untuk apa dibeli?"


"Ini pondok milik Esmera dan suaminya, dan dia memberikan pondok ini untuk kita."


"Apa? Diberikan untuk kita? Tapi kenapa diberikan untuk kita? Ini pondok kenangan mereka berdua, kan?"


"Iya, dan Esme memberikan pondok kenangan miliknya ini pada kita untuk kita jaga dan rawat."


Nara jadi bingung. "Bukannya Kak Esme bisa merawatnya sendiri pondok ini? Pondok ini tidak perlu diberikan kepada orang lain. Apa lagi ini kenangan tentang suaminya."


"Aku tidak tau, tapi begitulah Esmera, jika dia memutuskan sesuatu maka dia akan lakukan."


"Memangnya Kak Esmera suatu hari nanti tidak mau menikah lagi dan bisa tinggal di sini dengan orang yang mencintainya dan Mario?"

__ADS_1


"Di sini dulu tempat dia dan suaminya bersembunyi jika musuh suaminya mencari mereka, dan memang tempat ini tersembunyi. Esme sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika dia tidak dapat hidup bersama mendiang suaminya. Dia tidak akan pernah menikah lagi. Sebenarnya dia ingin tinggal di sini hanya berdua dengan Mario setelah penculikan putranya, tapi Mario butuh teman dan berkumpul dengan orang-orang baik yang masih ada di sekitarnya. Aku memberikan jaminan pada Esme akan melindungi Mario dan dirinya, dan karena hal itu juga aku memiliki permusuhan dengan Damian karena Damianlah yang membunuh suami Esme. Damian mencintai Esme, tapi ternyata Esme lebih mencintai Mendiang suaminya."


"Cerita cinta yang rumit dan menyedihkan." Nara memeluk Jaden.


__ADS_2