
Denna masih terdiam melihat ke arah luar jendela. Dimas semakin bingung dengan sikap Denna?
"Nona Denna." Dimas menarik pelan lengan tangan Denna membuat gadis itu akhirnya melihat pada Dimas. Mata sembab Denna dapat dilihat oleh Dimas.
"Ada apa?"
"Nona kenapa?"
"Aku tidak apa-apa. Kenapa lama sekali mereka memindahkan pohon dan mobil itu?" ucap Denna kesal.
Dimas melihat Denna memeluk tubuhnya sendiri dengan menyilangkan tangannya. Terlihat baju Denna yang membayang apa yang Denna kenakan di dalam karena baju Denna basah kuyup.
"Nona kedinginan?"
"Aku tidak apa-apa," jawab Denna singkat.
Dimas mengambil sesuatu di kursi belakang. Sebuah kemeja hitam milik Dimas yang Dimas bawa untuk cadangan.
"Nona ganti baju dulu supaya tidak sakit. Ini kemeja milik saya bisa Nona Denna gunakan."
"Aku ganti baju di sini?"
"Tentu saja, Nona mau berganti di mana? Saya tidak akan melihat Nona. Nona Denna bisa berganti di kursi belakang dan saya tidak akan melihatnya."
"Kamu sendiri basah kuyup begitu. Kamu saja yang pakai."
Dimas menggeleng. "Saya tidak apa-apa. Ini ada selimut yang bisa saya gunakan." Dimas membuka bajunya yang basah dan menutupnya menggunakan selimut hitam miliknya.
Denna berpindah duduk di belakang dan melihat pada Dimas yang memejamkan kedua matanya. "Nona silakan berganti baju."
Denna perlahan-lahan membuka bajunya dan menggunakan kemeja berwarna hitam milik Dimas. Kemeja hitam itu menjadi mini dress saat di pakai oleh Denna.
"Sudah selesai?" ucap Denna yang sekarang sudah duduk di samping Dimas
Dimas membuka kedua matanya melihat pada Denna. "Cantik sekali," celetuknya.
Denna memang tampak cantik. Kulitnya putih mulus semakin terlihat apa lagi saat dia merasa kedinginan. Di tambah saat dia menggunakan kemeja hitam Dimas. Rambut Denna pun yang masih basah karena terkena membuat dia tampak sangat cantik.
"Apa?" Denna agak terkejut mendengar apa yang baru saja Dimas katakan.
Dimas tersenyum kecil. "Tidak apa-apa Nona Denna."
"Kamu baru saja memujiku Dimas."
"Iya, saya memuji Nona Denna, dan apa yang saya katakan adalah hal yang sesungguhnya."
__ADS_1
"Terima kasih sudah memujiku."
Denna kembali duduk, dan hujan di sana masih saja kencang bahkan sudah terlihat air mulai naik. "Sampai kapan hal ini berakhir?" Denna menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin yang masih dia rasakan."
"Mungkin hal ini masih lama, apa lagi hujan masih sangat kencang. Nona, apa Nona tidak mau menghubungi orang tua Nona Denna di rumah agar tidak khawatir."
"Iya, aku akan memberitahu mamaku."
Denna mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya. Nara sedikit lega mendengar jika Denna bersama dengan Dimas.
"Kalau begitu kalian hati-hati saja. Ayah dan Nenek nanti akan mama beritahu."
"Iya, Ma."
Denna memutuskan panggilannya. Saat akan memasukkan ponsel dalam tasnya, tangan Denna yang kedinginan menjatuhkan ponselnya.
"Biar saya ambilkan, Nona."
Denna pun ingin mengambil ponselnya dan tangan mereka tidak sadar bertumpukan.
"Tangan Nona dingin sekali."
"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tidak suka dingin."
"Di sini hanya ada satu selimut. Nona pakai saja." Dimas mau melepaskan selimut yang dia pakai.
"Saya tidak apa-apa, Nona."
"Kita pakai berdua saja," ucap Denna cepat. Denna bukannya agresif, hanya saja dia tidak mau nanti Dimas memaksa memberikan selimut padanya.
"Apa Nona tidak akan marah akan hal itu?"
Denna menggeleng. Tangan Dimas menjulur dan Denna menyambut tangan Dimas. Denna berpindah tempat dan duduk dengan posisi miring pada pangkuan Dimas.
Pria itu memasukkan Denna dalam selimutnya. Denna dapat merasakan hangatnya tubuh Dimas dan sekarang mereka berada di dalam satu selimut.
Denna dan Dimas terdiam sejenak. "Apa sudah tidak dingin?"
"Hangat," ucap Denna lirih.
Dimas terdiam sambil mendekap gadis yang sangat Dimas sukai matanya.
"Nona, tadi kenapa Nona marah pada saya?"
Dimas mendongak melihat wajah pria yang memeluknya. "Iya, sebenarnya tadi aku sangat marah sama kamu, Dimas."
__ADS_1
"Apa karena aku menolong orang di dalam mobil itu?"
"Iya. Aku tau hal yang kamu lakukan benar, tapi pikirkan juga keselamatan kamu. Bagaimana perasaan orang yang menyayangi kamu jika kamu kenapa-napa."
"Maaf sudah membuat Nona Denna khawatir."
"Iya, aku khawatir sama kamu."
Dimas tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Denna pun menjulurkan tangannya memeluk erat punggung Dimas.
Denna dan Dimas tidak tau kenapa mereka seolah merasakan suatu hal yang sangat nyaman saat ini?
Di rumahnya. Jaden yang diberitahu Nara tentang keadaan Denna tampak khawatir.
"Apa aku susul saja Denna menggunakan motor?
"Tidak apa-apa. Aku percaya jika Dimas akan bisa menjaga Denna di sana. Apa lagi tadi aku baru saja mendengar berita di televisi tentang keberanian pria kecil yang dulu pernah menyelamatkan aku."
"Maksud kamu apa, Nara?" tanya Nenek.
"Tadi di televisi ada berita tentang mobil tertimpa pohon besar dan di dalamnya ada satu keluarga terdiri dari tiga orang. Orang-orang pengguna jalan lainnya mencoba membantu mengeluarkan mereka karena petugas belum sampai di tempat kejadian disebabkan banyak jalan yang terjadi kemacetan. Dimas pun ikut membantu dan dia yang paling berani karena dia menahan tepat di pintu mobil agar orang di dalam mobil dapat keluar. Dahal hal itu sangat berbahaya. Dimas bisa saja terluka bahkan meninggal," terang Nara."
"Dia benar-benar tumbuh menjadi pria yang pemberani. Aku bangga bisa mengenal dia."
"Dia cocok tidak menjadi menantu kita?" celetuk Nara.
Jaden yang wajahnya tadi terlihat senang, seketika berubah heran. "Maksud kamu?"
"Aku tidak keberatan jika Denna dan Dimas menjadi sepasang kekasih. Apa lagi kita sudah mengenal Dimas dari kecil. Bagaimana menurut Nenek?"
"Nenek terserah Denna saja. Siapa pun pria yang dicintai oleh Denna selama dia baik dan mencintai Denna juga, nenek tidak akan keberatan."
"Tapi aku keberatan," jawab Jaden cepat.
Kedua alis Nara seketika mengkerut. "Kenapa tidak setuju? Apa karena Dimas adalah seorang bodyguard Denna? Kamu lupa siapa aku dulu dan kamu malah mencintaiku."
"Bisa tidak jangan langsung berpikiran buruk dengan apa yang aku maksud?"
"Habisnya, aku kesal dengan kamu yang dengan tegasnya mengatakan tidak setuju. Dimas itu baik dan sangat bertanggung jawab."
"Aku tau, Nara, tapi putriku masih kecil. Dia baru saja lulus sekolah dan biarkan dia meraih cita-citanya dulu. Nanti saja memikirkan untuk mencari seseorang dalam hidupnya."
"Kamu takut putrimu memiliki orang yang dia cintai selain kamu, Jaden?"
"Itu Nenek paham."
__ADS_1
Nenek dan Nara seketika terkekeh mendengar apa yang Jaden katakan.
"Aku belum siap jauh dari putriku, Nara. Kalian jangan menertawakan aku," ucapnya tegas.