
Nara yang mendengar jika Jaden tidak ingin memiliki sebuah keluarga kecil ada rasa yang berdenyut sakit pada hatinya.
Samar tangan Nara memegang perutnya yang tertutup meja makan. Dia berpikir bagaimana jika dirinya hamil setelah kejadian malam itu dengan Jaden? Apa yang akan pria itu lakukan padanya dan calon bayi mereka nantinya?
"Nara, kamu kenapa?"
"A-aku tidak apa-apa. Tuan, aku boleh permisi dulu mau ke belakang sebentar?"
"Tentu saja. Pengawalku akan mengantar kamu."
"Tidak perlu, Tuan, aku bisa sendiri."
Nara berjalan pergi dari sana. Jaden melihat ada yang aneh pada wajah, Nara.
Nara berjalan menuju kamar mandi sendirian, dalam benaknya dia masih memikirkan tentang pembicaraan dengan Jaden tadi.
"Aku jangan sampai hamil. Tuan Jaden tidak akan membiarkan aku hidup jika aku hamil. Dia tidak ingin memiliki seorang bayi," Nara berdialog sendiri.
Saat Nara membuka pintu utama kamar mandi, Nara agak terkejut melihat saudara sepupunya ada di dekat wastafel. Nara pura-pura tidak peduli dan dia berjalan melewati Mona begitu saja.
"Hei! Gadis tidak tau diri!" Mona menarik tangan Nara.
"Lepaskan, aku tidak mengenalmu." Nara melepaskan tangan Mona.
"Tidak mengenal? Apa kamu lupa siapa yang sudah merawat dan membesarkan kamu selama ini? Ayah dan mamaku, dan sekarang kamu lupa dengan kita?"
"Apa kamu juga lupa siapa yang sudah memberi kalian makan selama ini? Harta peninggalan kedua orang tuaku, tapi sayangnya aku tidak dapat menikmati semua itu dengan baik. Ayahmu malah menghabiskannya di meja judi. Aku tidak mengenal kamu bahkan keluarga kamu karena sejak ayahmu menjualku pada Tuan Jaden untuk melunasi hutangnya, di saat itulah aku sudah tidak merasa memiliki keluarga!" seru Nara marah.
Beberapa orang wanita di sana tampak melihat ke arah mereka, dan tak banyak dari mereka saling berbisik membicarakan tentang ayah Mona.
Mona yang merasa mendapat malu karena dibicarakan oleh orang-orang di sana mengeram marah.
"Kamu lihat saja, aku akan merebut Jaden dari tangan kamu." Mona berjalan pergi dari kamar mandi, dan Nara langsung masuk ke dalam toilet. Dia sampai menyandarkan kepalanya pada daun pintu.
"Memangnya siapa yang peduli jika kamu mau merebut Tuan JL? Aku dan dia tidak ada apa-apa." Nara menangis.
Beberapa saat kemudian Nara yang sudah puas menangis di dalam kamar mandi tampak mencoba membuat wajahnya tidak seperti habis menangis.
Nara kembali berjalan menemui Jaden di ruangan mereka. Pria itu memandang Nara sampai Nara duduk di sebelahnya.
"Apa semua baik-baik saja?"
__ADS_1
"Baik, Tuan. Memang kenapa?" tanya Nara berpura-pura bahagia. "Kita lanjutkan makan lagi." Nara menghabiskan makanannya.
"Nara, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu."
"Ada apa, Tuan?"
"Kamu ingat bocah laki-laki yang sudah menolong kamu waktu berandalan pasar itu menculikmu?"
"Maksud Tuan JL si Dimas?"
"Iya, Dimas. Anak itu sedang dirawat secara intensif di rumah sakit karena mengalami luka serius akibat mendapat pengeroyokan dari berandal pasar."
Nara seketika meletakkan sendok makannya. "Dimas di rumah sakit? Apa keadaannya parah, Tuan?"
"Dia koma, Nara. Aku sudah menyuruh tim dokter untuk dapat menolongnya."
"Apa? Koma? Tapi bagaimana bisa dia sampai dikeroyok begitu?"
"Waktu para pengawalku mencari mereka, ternyata mereka sedang menghajar Dimas dan pengawalku langsung membawa Dimas ke rumah sakit."
Wajah Nara langsung terlihat sedih. "Ini semua karena salahku. Dimas harus menerima semua ini karena sudah menolongku dan mereka mungkin mengetahui hal itu."
"Bisa jadi, tapi kamu tidak perlu menyalahkan kamu, Nara. Kita berharap saja keadaan Dimas akan segera pulang. Aku akan melakukan hal apapun agar Dimas sembuh. Dia bocah laki-laki yang sangat pemberani."
Pria itu tersenyum dan menarik tangannya untuk mengusap lembut pipi Nara. "Aku tidak tau bagaimana hidupku jika Dimas tidak menolong kamu, Nara."
"Maksud, Tuan?"
"Kamu sangat berharga bagiku, Nara."
Nara ini bingung, yang dimaksud berharga bagi Jaden itu apa? Dia saja tidak mau menjadikan Nara kekasihnya. Menyatakan cinta saja pun tidak. Nara kadang bingung dengan perasaan yang Jaden tunjukkan.
"Nara, habiskan makanan kamu lalu kita akan membeli ponsel untuk kamu."
"Ponsel? Untukku?" Nara sampai tidak percaya.
"Iya, aku sudah bilang jika aku akan memberikan sebuah ponsel untuk kamu dan harus kamu bawa terus."
"Tapi untuk apa membeli baru? Milik Tuan Jaden kan banyak? Aku diberi itu saja satu daripada harus membeli yang baru, Tuan."
"Jangan memakai bekas milikku, Nara, nanti kamu akan terkejut melihat apa yang ada di dalam ponselku." Jaden melirik Nara.
__ADS_1
"Memangnya apa yang ada di dalam ponsel, Tuan JL?"
"Wanita cantik tanpa memakai apa pun."
"Apa?" Nara langsung mendelik kaget. "Jadi Tuan suka melihat hal seperti itu?"
"Memangnya kenapa? Wajar jika seorang pria suka melihat hal seperti itu, Nara. Kamu jangan terlalu polos."
"Tidak wajar," gerutu Nara. "Wajar itu jika seorang pria hanya melihat tubuh istrinya saja, tidak perlu melihat tubuh wanita lain walaupun hanya lewat video di ponsel."
"Kalau begitu aku pria yang wajar karena aku hanya melihat tubuh kamu saja."
"Maksud, Tuan? Tuan bohong soal banyak gambar wanita tanpa busana itu?"
Jaden tidak menjawab dan hanya tersenyum. Kemudian dia melanjutkan makannya. Nara dan Jaden keluar dari restoran itu dan berjalan ke sebuah toko ponsel karena Jaden akan memberikan ponsel tipe terbaru untuk Nara.
"Kamu mau warna yang mana?" tanya Jaden.
Nara tampak berbinar melihat ponsel yang berjejer dengan beberapa warna di atas meja.
"Ponsel-ponsel ini bagus sekali. Apa ini mahal, Tuan?" tanya Nara dengan polosnya.
Jaden dilihatin oleh pegawai toko itu. "Sayang, kenapa kamu bercanda dengan memanggilku, Tuan? Pilih saja ponselnya dan kita akan segera menonton bioskop." Jaden memberi isyarat pada Nara.
"Ah, Iya." Nara paham akan isyarat yang diberikan oleh Jaden. Bukan paham sebenarnya, tapi lebih ke arah takut karena Jaden mengeluarkan mata tajamnya.
Jaden tau arti tatapan pegawai toko itu. Dia pasti mengira Nara adalah gadis nakal yang sedang kencan dengan pria-pria kaya seperti Jaden.
Nara akhirnya memilih warna biru dan jaden melakukan pembayaran atas ponsel Nara. Saat Jaden masih melakukan pembayaran atas ponsel Nara. Nara berjalan-jalan ingin melihat-lihat model casing ponsel.
"Kamu cantik sekali," sapa seseorang pada Nara.
Nara menoleh dan agak mundur ke belakang saat melihat ada seorang cowok yang tiba-tiba memujinya.
"Maaf, kamu siapa?"
"Aku Bruno, apa dia kekasih kamu? Tapi kok sudah Tua?"
"Dia bukan kekasihku." Nara melihat pada Jaden dari kejauhan.
"Bukan? Apa dia sugar daddy kamu?" bisik cowok itu.
__ADS_1
"Sugar Daddy?" Nara tidak tau maksud pria itu.