
Nara masih berdiri di depan suaminya yang tengah menatapnya heran. Jaden sampai beranjak dari tempatnya dan menarik tangan Nara sampai naik ke atas tempat tidurnya.
"Kamu kenapa aku tanya tidak menjawab?"
"Renata tadi mengancamku lagi," ucap Nara menatap datar Jaden.
"Apa? Mengancam kamu? Bagaimana dia bisa mengancam kamu?"
"Tadi ada panggilan dari nenek di ponsel kamu, tapi saat aku jawab ternyata itu Renata."
"Ponselku?" Jaden mengambil ponselnya dan melihat memang ada panggilan masuk dari nenek. "Apa yang dia katakan?"
"Aku harus meninggalkan kamu atau dia akan melukai nenek seperti hari itu membuat nenek masuk rumah sakit agar kamu mau pulang."
"Apa? Nara, apa benar yang kamu katakan? Renata mau melukai nenek?" Jaden seolah tidak percaya.
"Aku tidak mungkin berbohong sama kamu. Sebenarnya aku tidak mau mengatakan sama kamu karena aku takut kamu tidak percaya dan menganggap aku mencoba memfitnah Renata Karena cemburu."
Jaden terdiam sejenak. Dia kemudian memeluk Nara. "Ingatanku memang belum pulih, Tapi aku yakin kamu tidak akan berbohong padaku. Nanti akan aku selesaikan semua ini. Jangan pergi dariku, Nara. Jangan dengarkan ancaman Renata dan jangan melakukan hal apapun tanpa seizinku. Kamu paham?"
Nara mengangguk perlahan. "Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Sekarang kamu mandi dan kita makan pagi bersama."
Jaden mengangguk dan Nara menyiapkan baju ganti untuk Jaden. Mereka berdua makan pagi bersama.
"Tuan muda, maaf saya baru datang."
"Mas Leo, ayo ikut makan pagi bersama. Aku akan ambilkan makanan untuk Mas Leo."
Leo melihat ke arah Jaden dan Jaden memberi isyarat pada Leo agar Leo duduk dan mau makan bersama.
"Leo, kamu nanti tinggal saja di sini dengan Nara karena ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Baik, Tuan."
"Apa kamu malam ini tidak tidur lagi di sini bersamaku?"
"Sepertinya tidak Nara. Aku akan menjaga nenek dulu di rumah sakit apa lagi kamu baru saja mengatakan jika Renata mengancam akan melukai nenek."
"Apa, Tuan? Renata mengancam akan melukai nenek?" Leo tampak terkejut.
"Mas Leo pernah aku ceritakan siapa Renata itu, kan? Dia mengancamku kali ini."
__ADS_1
"Leo, kamu jaga dulu Nara di sini sampai aku membuat Renata mengaku di depan nenek jika dia sebenarnya wanita yang jahat."
"Apa tidak akan membuat nenek shock nantinya?"
"Nenek sudah tau jika kamu tidak selingkuh dengan pria yang ada di dalam foto yang ditunjukkan oleh Renata dan nenek ingin bertemu dengan kamu."
"Benarkah?" Ekspresi wajah Nara tampak senang. "Kalau begitu aku mau bertemu dengan nenek."
Tangan pria tinggi tegap itu memegang tangan Nara. "Jangan sekarang. Tunggu aku membuat dia keluar dari rumah nenek dulu."
"Iya, Nara. Kita harus hati-hati dan jangan bersikap gegabah."
"Aku menurut saja yang terpenting aku bisa terus bersama dengan suamiku tidak berjauhan seperti dulu." Nara menatap pada Jaden.
Setelah makan pagi selesai. Jaden langsung menuju rumah sakit di mana neneknya sedang di rawat.
Nara di rumah di temani oleh Mas Leo. "Mas Leo, Mas Leo sedang sibuk apa?"
"Nara, pakai ini." Leo memberikan sebuah benda kecil berbentuk oval pada Nara.
"Ini apa?"
Kedua alis Nara mengkerut bingung. "Untuk apa aku memakai ini?"
"Untuk berjaga-jaga saja nanti siapa tau kamu tiba-tiba menghilang sendiri seperti dulu."
"Mas Leo ini." Nara mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak akan menghilang lagi karena aku tidak mau jauh dari Jaden."
"Aku tau, hanya untuk berjaga-jaga saja."
"Baiklah. Lalu, ini aku simpan di mana?"
"Kamu jadikan sebagai kalung saja dan masukkan ke dalam baju kamu."
Nara menurut kemudian dia memakainya. Leo menemani Nara selama Jaden di rumah sakit.
"Sayang, kamu dari mana? Apa dari kantor kamu?" tanya wanita tua yang sekarang keadaanya terlihat lebih baik.
"Aku dari rumah Nara. Dia ingin sekali bertemu dengan Nenek." Jaden menatap Renata yang sedang mengupas buah untuk Nenek.
Nenek melihat sekilas pada Renata. "Bagaimana keadaan Nara?"
__ADS_1
"Nara baik. Nek, aku ingin bicara sebentar dengan Renata. Apa Nenek tidak keberatan!"
"Bicara denganku? Memangnya ada apa? Kenapa juga wajah kamu begitu? Apa aku sudah berbuat sesuatu yang salah?" Renata tampak tidak memiliki rasa takut sama sekali dengan Jaden.
"Kita bicara di luar, Renata."
"Sayang, ada apa? Apa Renata sudah berbuat sesuatu?" Wajah Nenek mulai cemas.
Jaden hanya diam saja dan tidak menjawab neneknya. "Jaden, jawab Nenek, atau Nenek akan bertanya pada Nara."
"Apa yang kamu katakan pada Nara tadi pagi, Renata?"
Miaranti tampak kaget dengan pertanyaan Jaden pada Renata.
"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak bicara dengan Nara dan untuk apa aku bicara dengannya?"
"Jangan berbohong. Kamu memakai ponsel nenek dan menghubungi ponselku, tapi Nara yang mengangkatnya dan kamu mengancam Nara."
"Jaden, Renata memang tadi menghubungi kamu, tapi tidak kamu angkat dan nenek melihat sendiri dia tidak bicara apa-apa."
Jaden menunjukkan ponselnya dan ada dua panggilan di ponsel Jaden. "Pagi tadi, Nek."
"Jaden, Renata dari tadi keluar untuk membeli salad buah karena ingin membelikan nenek dan ponsel Nenek ada bersama Nenek."
"Aku tidak memakai ponsel Nenek lagi."
Jaden menunjukkan panggilan atas nama nenek pada ponselnya pagi tadi. Renata mukanya tampak bingung. "Aku tidak menghubungi kamu pagi tadi. Kenapa Nara sekarang malah memfitnah aku? Aku tidak ada masalah dengannya."
"Sayangnya aku lebih percaya pada istriku. Renata, sebaiknya kamu pergi dan kembali ke Kanada sebelum aku mengetahui semua kejahatan kamu dan mungkin aku tidak akan memaafkannya."
"Kamu ini kenapa? Kamu percaya pada Nara padahal kamu sendiri belum bisa mengingatnya, dan sekarang malah menganggap aku orang jahat yang jelas-jelas tidak ada bukti aku melakukan kejahatan."
Renata dan Jaden tampak bersiteru di sana. "Jaden, nenek tidak membela Renata ataupun membela Nara, tapi Nenek akan menerima kedatangan Nara kembali ke rumah, dan nenek juga mempersilakan Renata jika dia masih mau tinggal di rumah nenek."
"Tidak perlu, Nek. Jaden sudah mengusirku hanya karena ucapan istrinya yang bahkan tidak dia ingat. Aku akan pergi dan tidak akan mengganggu hidup kamu lagi." Renata tidak mengira jika Nara berani mengatakan ancamannya pada Jaden. Renata mengira jika Nara akan pergi setelah mendapat ancaman itu.
"Bagus kalau begitu."
Jaden melihat dengan tajam pada Renata. "Renata, kamu masih boleh di sini. Rumah Nenek akan selalu terbuka untuk kamu."ini Bu
"Nenek, lebih baik memang Renata kembali ke Kanada. Bagaimanapun aku memiliki seorang istri dan tidak semestinya Renata di rumah Nenek dan ada Nara."
__ADS_1