Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sikap Manis Roy


__ADS_3

Sandra membawa masuk Jaden. Nara di depan sedang bicara dengan Roy salah satu pengawal Jaden di sana dan yang usianya terbilang paling muda di antara penjaga lainnya.


"Nara, apa kita bisa bicara berdua?"


"Tentu saja, tapi nanti malam saja setelah makan malam karena aku harus mengurusi keperluan Tuan Jaden."


"Ya sudah kalau begitu. Oh ya! Ini untuk kamu, tadi aku pergi keluar karena ada barang yang harus aku antar ke kantor Tuan. Waktu pulang aku melihat toko kue dan di sana menjual puding cake yang enak."


"Ini untuk aku?" Nara tampak mendelikkan matanya melihat box transparan berisi puding cake.


"Iya, ini untuk kamu. Aku berterima kasih karena kemarin kamu sudah membuatkan aku jahe hangat."


"Terima kasih. Sebenarnya tidak perlu begitu, aku ikhlas membuatkan itu. " Nara mengambilnya dan izin masuk ke dalam.


Di dalam rumah Nara menyiapkan makan siang yang sudah dia masak tadi pagi. Nara hanya tinggal menghangatkan.


Jaden melihat box puding cake di atas meja makan. "Nara, itu dari siapa?" tanya Sandra.


"Dari Mas Roy, Mba Sandra."


"Mas Roy? Siapa Mas Roy?"


"Dia salah satu penjaga Tuan JL."


Jaden memicing melihat pada Nara. "Kamu cepat sekali sampai bisa akrab dengan anak baru itu?"


Nara melihat ke arah Jaden, kemudian berpindah ke arah mba Sandra. "Kita baru kenal kemarin malam, Tuan. Dia malam-malam masuk ke dalam rumah untuk meminta gula karena ingin membuat teh hangat."


"Memangnya di rumah samping tidak ada gula? Bukannya sudah disediakan semua."


"Habis, Tuan, dan kemarin aku sudah memberikan sekalian untuk stok."


Sandra memandang Nara dengan berpangku tangan serta memberikan senyuman kecilnya. "Kalian ada hubungan, Ya? Dia sampai memberikan kamu puding cake itu?"

__ADS_1


"Enggak kok, Mba. Aku dan Mas Roy baru kenal. Dia memberikan aku puding cake itu sebagai ucapan terima kasih karena kemarin aku sudah membuatkan dia jahe hangat saat dia merasa tidak enak badan."


"Kamu malam-malam membuatkan dia jahe hangat? Wow! Hal itu romantis sekali. Iya, Kan, Tuan Jaden?" Sandra bertanya pada Jaden yang sedang menikmati makan siangnya.


Nara melihat pada Jaden yang tidak menjawab apa yang Sandra tanyakan. "Mba Sandra mau? Aku akan ambilkan pisau untuk membagi puding ini. Tuan JL juga boleh menyicipinya."


"Tidak perlu, aku sudah kenyang. Panggilkan saja pengawalku karena aku mau istirahat di dalam kamarku." Jaden melihat ke arah Nara.


"Aku akan panggilkan, Tuan." Nara beranjak pergi dari sana.


"Tuan, Nara itu benar-benar gadis yang cepat sekali akrab dengan seseorang ya? Sama Mas Leo, sama Tuan juga, dan sekarang sama seorang pengawal Tuan Jaden. Gadis seperti itu biasanya pintar dalam merayu seorang pria."


Tangan Jaden seketika meletakkan gelas yang akan di minumnya. Pandangannya menatap tajam pada Sandra. "Jaga bicara kamu Sandra. Nara itu gadis yang baik tidak memilih teman."


Sandra yang melihat tatapan Jaden marah seperti itu tidak berani melanjutkan kata-katanya.


Para pengawal sudah datang dan mereka membawa Jaden ke dalam kamarnya, diikuti oleh Sandra yang waktunya memberikan obat untuk Jaden.


***


"Kalian memang cocok, sama-sama dari kelas bawah. Nara si pelayan dan Roy si pengawal. Gadis itu bermimpi terlalu tinggi jika ingin menjadi wanita di samping Jaden Luther karena Jaden Luther hanya cocok berdampingan dengan wanita yang sekelas dengannya," ucapnya dengan penuh keangkuhan.


Sandra masuk ke dalam kamar Jaden karena malam ini dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Jaden.


"Sandra, ada apa? Bukannya aku sudah minum obatku." Jaden agak kaget melihat Sandra masuk ke dalam kamarnya.


"Maaf, apa saya sudah mengganggu kamu, Tuan Jaden?"


"Tidak, kamu tidak menggangguku, aku hanya mengerjakan pekerjaan kantorku dari rumah."


"Kamu pasti sibuk karena Leo masih di luar negeri. Saya ke sini karena tadinya saya mau berbincang dengan Nara, tapi Nara sudah memiliki teman ngobrol, jadi saya ke sini saja karena saya tidak bisa tidur."


"Nara dengan siapa, Sandra?"

__ADS_1


"Nara dengan pengawal Tuan Jaden yang bernama Mas Roy itu. Mereka tampak akrab bicara berdua di teras depan rumah."


"Apa? Nara dan Roy berduaan di teras rumah?" Jaden tampak berpikir sejenak.


"Iya, dan tadi aku lihat Nara tampak tersenyum bahagia saat bicara dengan Roy. Mereka seperti nyambung sekali."


"Kalau kamu ingin mengajak Nara berbicara, kamu panggil saja Nara, dan biarkan Roy kembali bertugas."


"Jangan, Tuan. Aku tidak apa-apa, Kok. Aku bicara sama Tuan Jaden saja di sini. Tuan Jaden tidak keberatan, Kan?"


"Tentu saja, tapi aku mau menyelesaikan dulu pekerjaanku yang belum selesai." Sandra mengangguk cepat.


Di teras luar Nara dan Mas Roy sedang berbicara tentang kehidupan masing-masing waktu mereka masih sekolah.


"Jadi Mas Roy adalah murid yang paling pandai ya di sekolah?"


"Tentu saja, dan berkat kepandaianku itu aku bisa dapat banyak uang dengan mengerjakan tugas sekolah yang anak-anak malas untuk mengerjakannya."


Nara terlihat tertawa mendengar pengakuan Mas Roy. "Sebenarnya tidak salah yang Mas Roy lakukan, tapi kalau setiap tugas rumah teman Mas Roy dikerjakan oleh Mas, bisa-bisa teman-teman Mas Roy jadi anak yang pemalas, dan yang parahnya mereka menjadi anak bodoh karena tidak mau belajar."


"Aku tidak peduli akan hal itu, Nara, yang terpenting aku bisa dapat uang dan bisa membeli ponsel baru yang aku inginkan."


"Huft! Kalau aku mungkin tidak mau. Bukan karena aku sok bijaksana ya, tapi orang tua kita menyekolahkan kita agar kita mau belajar dan jadi pintar supaya bisa mencari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan orang tua," terang Nara.


"Pemikiran kamu bagus juga, tapi kuno, Nara."


"Kok Kuno?" Kedua alis Nara mengkerut.


"Teman-temanku itu anak-anak orang kaya, mereka kadang berpikir tidak perlu sekolah pintar-pintar mereka akan tetap bisa kuliah nantinya karena uang orang tua mereka, dan keluar dari universitas bisa langsung mendapat pekerjaan di perusahaan orang tua mereka."


"Kalau memilliki orang tua kaya raya enak. Kalau seperti aku, harus banting tulang dulu." Bibir Nara cemberut.


"Nara, kamu cantik sekali kalau sedang cemberut begitu." Tiba-tiba Roy menatap wajah Nara sangat lekat.

__ADS_1


Nara yang melihat hal itu hanya bisa mengedipkan kedua matanya beberapa kali. "Wajahku biasa saja, Mas Roy," ucap Nara terbata.


Tangan Roy tiba-tiba terangkat dan menyentuh bibir Nara. Nara sontak kaget dan memundurkan tubuhnya ke belakang.


__ADS_2