
Siang itu Nara yang sudah membersihkan rumah dan dia juga sudah menyiapkan makan siang berjalan menuju kamar Jaden untuk menanyakan apa tuannya itu mau makan siang sekarang karena Jaden juga harus minum obat.
Nara yang menyelonong masuk tidak sengaja melihat Jaden dan Sandra seolah sedang memeluk, padahal Sandra sedang memberikan terapi pada punggung Jaden.
"Maaf!" Nara langsung membalikkan badannya.
Jaden dan Sandra yang melihatnya tampak terkejut. "Nara! Kamu kenapa?" tanya Jaden heran.
"A-aku tidak bermaksud mengganggu kalian berdua." Nara berbicara tanpa menoleh.
"Jika kamu bicara dengan seseorang, kamu harus melihatnya Nara. Sekarang balik badan kamu!" Titahnya.
Nara perlahan-lahan membalikkan badannya dan melihat Sandra yang memegang pundak Jaden. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti orang yang sedang melakukan hal romantis.
"Maaf, Tuan JL, apa Tuan JL mau makan siang sekarang? Aku sudah menyiapkan, dan ini juga waktunya Tuan JL minum obat."
"Huft! Kenapa juga kamu harus mengingatkan tentang minum obat, dan si Will itu memang keterlaluan," umpatnya kesal.
"Tuan Jaden masih aku terapi, Nara. Mungkin sekitar lima belas menit lagi selesai. Kamu bisa menunggunya dulu di depan karena aku benar-benar membutuhkan suasana yang tenang," terang Sandra.
"Kamu tidak lelah memangnya, Sandra? Atau kita bisa istirahat dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi."
"Hanya tinggal sedikit, Tuan Jaden, dan aku tidak suka menunda pekerjaan yang tinggal sedikit. Apalagi menerapi kamu sangat menyenangkan, kamu orangnya sangat cocok jika bicara denganku." Terapis itu tersenyum pada Jaden.
Nara yang berdiri di situ hanya bisa memperhatikan mereka saja. "Kalau begitu aku permisi pergi dulu kalau begitu. Nanti saja aku kembali lagi." Nara langsung berlari kecil keluar dari dalam kamar Jaden.
__ADS_1
"Pelayan kamu itu sangat polos sekali. Bagaimana kamu bisa mendapatkan pelayan seperti Nara?" tanya Jaden.
"Maaf, Sandra, tidak semua hal harus kamu tau di rumah ini. Lakukan saja pekerjaan kamu." Jaden kembali melihat ke dalam tabletnya.
Sandra yang mendengar jawaban Jaden bukannya sakit hati, tapi malah penasaran, dan dia akan mencari tau.
"Mereka berdua kenapa tampak serasi saat aku melihatnya, tapi--." Nara terdiam sejenak teringat dengan apa yang tadi dia lihat.
Beberapa menit berlalu, dan dari tadi yang di lihat Jaden di dalam laptopnya adalah Nara. Jaden selalu mengawasi apa yang Nara lakukan saat kakinya diterapi tadi.
Sekarang karena Sandra pindah melakukan pada punggung Jaden, jadi Jaden pura-pura membuka tentang pekerjaannya.
"Tuan Jaden, untuk hari ini terapi kita sudah selesai, besok saya akan datang ke sini lagi, dan besok kita akan mencoba berjalan-jalan di luar karena suasana di luar sungguh indah. Itu juga salah satu yang bisa mempercepat terapi kita. Apa kamu setuju?"
"Iya, terima kasih, tapi saya mau izin untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Apa boleh?"
"Tentu saja. Kamu bisa menggunakan kamar mandi yang ada di dekat kamarku di sebelah kiri."
"Terima kasih."
Wanita bernama Sandra itu berjalan keluar dan Jaden segera mengambil tabletnya ingin tau apa yang sedang Nara lakukan. Jaden melihat setiap sudut ruangan yang dia pasang kamera CCTV.
"Di mana gadis itu? Kenapa dia tidak ada di setiap ruangan? Apa dia kabur dari rumahku? Awas saja kalau dia berani." Kedua alis Jaden tampak mengkerut kesal.
Tidak lama ada gambar yang menangkap di mana keberadaan Nara. Terbit senyum dari bibir Jaden melihat apa yang di lakukan oleh gadis yang menjadi pelayannya itu.
__ADS_1
Terdengar suara Nara yang sedang berbicara dengan beberapa pengawal di sana. "Kue buatan kamu enak, Nara."
"Apa benar? Jangan mengatakan hal yang tidak benar hanya karena sungkan denganku, Pak Pengawal."
"Benar, kue buatan kamu enak. Benarkan apa yang aku katakan?" tanya salah satu pengawal yang berbicara dengan Nara pada pengawal satunya.
"Iya, ini enak sekali. Rasanya pas dan tidak eneg. Aku saja sampai habis tiga tadi."
"Wah ... senang sekali aku mendengarnya. Padahal aku baru saja mencoba resep baru yang aku tadi barusan lihat di televisi. Lain kali Bapak Pengawal semua harus mencoba kue buatanku lainnya."
"Pasti," jawab mereka serempak.
Tidak lama ponsel salah satu pengawal berbunyi. Pengawal itu tampak terkejut melihat siapa yang menghubunginya.
"Iya, Tuan Jaden. Baik, saya akan segera memberitahu Nara."
Nara yang melihatnya tampak bingung. "Ada apa, Pak Pengawal?"
"Nara, kamu dipanggil oleh Tuan Jaden untuk segera ke kamarnya."
"Apa mereka sudah selesai terapinya. Ya Tuhan! Tuan Jaden waktunya minum obat." Nara segera beranjak dari tempatnya dan berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Nara yang tidak hati-hati malah tidak sengaja menabrak Sandra yang baru keluar dari kamar mandi dan baki yang dibawa oleh Nara tumpah mengenai baju wanita terapis itu.
"Nara! Apa yang kamu lakukan?" Kedua alis wanita itu mengkerut.
__ADS_1