Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kembali Bersama part 2


__ADS_3

Jaden duduk di dalam pesawat dengan Nara di atas pangkuannya. Dia tidak mau Nara sampai kenapa-napa. Gadis yang sangat dicintai Jaden itupun memeluk kekasihnya dengan erat.


"Apa kamu baik-baik saja?" Nara hanya mengangguk perlahan. "Maaf, aku tadi tidak jadi memberikan roti dan jus jeruk yang kamu minta."


"Tidak apa-apa."


"Aku janji, saat nanti kita sampai aku akan membelikan kamu jus jeruk dan roti yang sangat banyak." Jaden mengusap lembut punggung Nara.


"Sudah tidak mau, sekarang aku maunya buah alpukat dan sup ayam buatan mamaku."


"Hah? Sudah ganti? Cepat sekali?"


"Tidak tau. Tiba-tiba hilang saja selera makan roti dan jus jeruknya."


"Ya sudah nanti kalau kita sampai kamu boleh minta apa saja. Kenapa jadi bayiku cerewet begini? Jangan-jangan ini bukan anakku," celetuk Jaden yang didengar oleh Nara.


"Apa kamu bilang?" Nara menarik kepalanya melihat pada Jaden dengan kesal. "Kalau tidak mau mengakui, turunkan saja aku di sini dan kenapa juga membawaku pergi. Jacob lebih pengertian daripada kamu!" ocehnya.


"Aku cuma bercanda, Nara. Kenapa jadi mukanya marah seperti itu?"


"Bercanda kamu tidak lucu. Lepaskan tangan kamu!" Nara mencoba melepaskan pegangan tangan Jaden, tapi pria itu tidak mau melepaskan tangannya.


"Kamu mau ke mana? Tidak takut berada di atas pesawat kalau duduk sendirian?"


"Enggak! Lepaskan tangan kamu atau aku akan--."


"Apa yang bisa kamu lakukan?"


Nara mencium bibir Jaden kemudian menggigitnya sampai Jaden kesakitan dan melepaskan pegangan tangannya pada pinggang Nara.


"Sakit, Nara! Kenapa kamu jadi kejam begini?"


"Aku tidak peduli." Nara pindah tempat duduk di balik tempat duduk Jaden.


"Sepertinya aku salah. Bayi itu memang adalah anakku. Buktinya sekarang Nara berubah jadi kejam begini." Jaden mengusap bibirnya yang sakit karena gigitan Nara.

__ADS_1


Jaden membiarkan Nara yang sedang marah sendirian. Dia memilih duduk sambil menikmati minumannya.


Jaden beranjak dari tempatnya dan melihat pada Nara yang ternyata tengah tertidur. Pria itu tersenyum kecil dan menunduk melihat wajah Nara.


"Dia sepertinya habis menangis. Oh God! Apa ibu hamil sangat sensitif seperti ini? Aku hanya bercanda, dia menanggapinya dengan serius."


Jaden menggendong tubuh Nara dan membawanya ke dalam kamar tidur pribadinya. Jaden membaringkan Nara dan dia yang sebenarnya sangat lelah ikut tidur dan memeluk Gadisnya dari belakang.


"Semoga nanti saat dia bangun dia sudah tidak marah denganku." Jaden memejamkan kedua matanya.


Di sebuah rumah keluarga Thomson. Carlos tampak sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh putranya-- Jacob. Kenapa dia malah begitu saja melepaskan Nara. Dahal Nara bisa saja menjadi istrinya dan jika hal itu terjadi, maka Jaden tidak akan bisa berbuat apapun.


"Kenapa kalian berdua tidak cerita tentang ini semua padaku? Aku ini ibunya Jacob dan aku harus tau semuanya." Miranda tampak kesal


"Maaf, Ma. Aku tidak cerita karena menjaga kesehatan Mama yang sedang tidak baik. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Mama," terang Jacob."


"Tapi ini masalah serius dan kalian harus cerita pada mama. Bagaimana bisa Jaden membuat Nara hamil? Mereka itukan hanya pelayan dan majikan?"


"Ternyata Jaden dan Nara saling mencintai." Jacob bercerita kenapa Nara bisa sampai menyerahkan diri pada Jaden.


"Nara gadis yang baik, tapi Jaden bukan pria yang baik dan ini semua salah anak brengsek itu!" Carlos mengeram marah.


"Yah, jangan lakukan apapun pada Jaden. Kalau ayah menyakiti kakak, itu sama saja ayah juga menyakiti Nara, dan aku tidak mau itu terjadi."


"Kamu masih membela anak tidak tau terima kasih itu. Dia bahkan mengungkit pengorbanannya beberapa tahun yang lalu, saat kamu menabrak mobil kedua orang tua Nara dalam keadaan mabuk."


"Apa Jaden bercerita pada Nara soal itu?"


"Tidak, katanya dia sudah sangat berkorban dengan menjadi orang yang bersalah dalam hal ini, dan tidak akan menceritakan pada siapapun."


"Sebaiknya kamu lupakan saja, Nara. Untuk apa kamu bersama dengan gadis yang mengandung bayi dari orang yang kita benci," ucap Mama Miranda. "Sekarang, mama juga tidak akan menganggap Jaden sebagai anak yang pernah aku rawat."


"Terserah bagaimana kalian menganggap Jaden, dia tetap kakakku." Jacob mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar.


Tidak lama dari dalam kamar Jacob terdengar suara benda-benda berjatuhan. Jacob kelihatannya sedang melampiaskan kesedihannya. Jujur saja Carlos sangat khawatir jika Jacob akan kembali menyakiti dirinya seperti saat ditinggal oleh Mauren dulu.

__ADS_1


"Carlos, apa yang sekarang akan kamu lakukan? Kita biarkan saja


seperti keinginan Jacob atau kita beri pelajaran untuk mereka berdua? Aku kesal sekali dengan mereka."


"Kita biarkan saja mereka dulu karena nanti pasti ibuku akan ikut campur jika kita menyakiti cucu kesayangannya itu." Kedua rahang Carlos mengeras menahan amarah.


***


Malam hari di dalam pesawat, Nara merasakan beban di atas perutnya. Dia kaget dan segera menyingkirkan tangan yang menumpu pada perut ratanya.


"Tuan JL ini kenapa malah tidur satu ranjang denganku? Siapa yang menyuruhnya berada di sini?" Nara mukanya masih ditekuk kesal.


"Hai, Sayang, kamu sudah bangun?" sapa Jaden yang merasa tidak bersalah.


Nara tidak menjawab, dia malah turun dari atas tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa dia masih marah? Aku kan sudah memeluknya. Aku kira marahnya akan hilang?" Jaden bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Jaden mencoba membuka pintu kamar mandi, tapi ternyata Nara mengunci pintu kamar mandi itu.


"Dia benar-benar marah kelihatannya sampai-sampai pintu kamar mandi dia kunci juga."


Jaden pergi ke dekat laci yang ada di sebelah ranjangnya dan mencari sesuatu di sana.


"Apakah setelah ini kamu masih marah padaku?" Jaden bicara dengan kunci cadangan yang dia temukan di dalam lacinya.


Jaden berjalan santai sambil membuka bajunya dan hanya menyisakan boxer mahal miliknya dia membuka pintu kamar mandi dan tampak pemandangan indah di depannya.


Jaden berjalan perlahan dan memeluk Nara yang sedang berdiri menikmati guyuran shower air hangat di sana.


"Tuan JL, apa yang kamu lakukan?" Nara tampak kaget dan melepaskan pegangan tangan Jaden pada pinggang Nara.


"Aku mau mandi. Memangnya tidak boleh kalau aku mandi?"


"Boleh, tapi tunggu aku selesai dulu, dan bagaimana kamu bisa masuk ke sini. Bukannya aku sudah menguncinya?"


Jaden tersenyum kecil. "Kamu lupa ini pesawat pribadi milik siapa? Tentu saja aku memiliki kunci cadangannya, Nara. Lagipula kenapa kamu mandi sendiri? Kalau kamu mengajakku, aku bisa menggosok punggung kamu."

__ADS_1


"Tidak mau! Kamu keluar sekarang!" Nara malah menutup tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya.


__ADS_2