Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Rasanya Tidak Karuan


__ADS_3

Malam itu Nara sedang makan malam dengan keluarga Jaden dan Jacob. Nara duduk tepat di sebelah Jacob, sedangkan Jaden duduk bersebelahan dengan mama cantik.


"Oh Ya, Nara kamu belum tau namaku. Kamu mulai sekarang boleh memanggilku Mama Miranda, dan ayah Carlos. Kamu jangan sungkan jika ingin meminta apapun pada kami karena kamu nanti juga akan menjadi bagian dari keluarga kami."


"I-iya, Nyo--, maksud saya mama Miranda."


"Jangan memakai saya Anda, panggil saja aku kamu biar kita lebih akrab."


"Jacob, kapan Nara bisa mulai masuk kuliah?"


"Secepatnya, Yah. Aku akan mengurus semuanya."


Nara benar-benar tidak menyangka dengan semua hal yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Jaden, kamu jadi, lusa kembali ke Indonesia?" tanya pria yang adalah ayah Jaden dan Jacob.


Nara seketika melihat pada pria yang entah masih ada perasaan cinta apa tidak di hatinya.


"Sepertinya begitu, Yah. Lagi pula tidak ada lagi yang aku lakukan di sini."


"Kamu selalu tidak betah berada di rumah. Lalu, nenek bagaimana keadaannya? Ibu sangat menyayangi kamu, sampai dia ingin tinggal di mana ada kamu."


"Nenek baik-baik saja." Jaden melihat pada Nara"Aku juga sangat menyayanginya, Yah, dan aku senang nenek berada di dekatku.


"Nara, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" seketika Nara kaget karena Jacob tiba-tiba bertanya.


"Tidak apa-apa, Jacob. Memangnya aku kenapa?"


"Kamu kenapa terlihat dari tadi melamun? Atau kamu tidak suka dengan makanannya?"


"A-aku--?" Nara tampak bingung. Jujur saja dia agak kaget mendengar tentang Jaden akan kembali ke rumahnya meninggalkan dia di sana.


"Kamu pasti masih asing dengan makanan di sini. Katakan saja apa makanan kesukaan kamu, biar nanti mama yang menyuruh koki rumah buatkan?"


"A-Aku biasa memasak makananku sendiri sewaktu di rumah Tuan JL."


Jaden melihat pada Nara. "Nara sangat pandai memasak, Ma, dan semua masakan yang Nara buat sangat enak," terang Jaden.

__ADS_1


"Really? Kamu benar-benar calon istri idaman, Sayang. Kamu baik, sopan dan kamu pandai memasak."


Nara agak aneh dipuji seperti itu. "Aku tidak sehebat itu, Mama Miranda."


"Kalau begitu kamu boleh menggunakan dapur milikku untuk kamu berkreasi sesuka hati kamu dalam membuat masakan."


"Iya, aku juga mau mencoba masakan kamu, Nara," ucap Jacob.


Malam itu selesai makan malam, wanita cantik bernama Miranda mengajak Nara ke kamarnya. Sebuah kamar yang indah yang memang sudah khusus disiapkan untuk tamu yang datang menginap di sana.


"Ini kamarku, Ma?


"Iya, ini kamar kamu mulai sekarang."


Nara tampak takjub melihat kamar yang begitu mewah dan ditata sangat apik dengan. dominasi warna putih dan coklat.


"Tapi ini terlalu besar, Ma."


"Tidak, Nara. Ini biasa saja, dan kamu buatlah diri kamu nyaman dan betah di sini. Jujur saja aku ingin kamu senang bisa tinggal di sini." Tangan wanita itu mengusap perlahan rambut Nara.


"A-aku akan mencoba membiasakan diriku, Ma karena bagaimanapun juga semua ini sangat cepat dan aku juga sangat baru mengenal kalian."


"Ma, apa boleh aku istirahat dulu karena aku sudah sangat mengantuk dan lelah."


Wanita cantik itu mengangguk, dia mengecup kening Nara. "Selamat tidur, putriku." Sebuah senyuman hangat dapat Nara rasakan saat wanita itu memberikannya.


Di ruang tengah Jaden beserta ayah dan adiknya sedang berkumpul. "Nanti biar aku kirim baju-baju Nara ke sini."


"Kak, tidak perlu, biar nanti aku akan membelikan baju untuk Nara. Biar saja baju Nara yang ada di tempat kamu bisa kamu buang. Nara akan memakai baju baru pemberian dariku."


Jaden tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa mengangguk. "Ma, Yah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku mau istirahat di tempat Cathy. Aku permisi dulu."


Jaden berjalan pergi dari sana. "Dia selalu saja tidak mau tidur di sini."


"Biarkan saja, Ma. Dia bisa mengatur hidupnya sendiri."


"Kenapa Jaden tidak pernah memperkenalkan kekasihnya itu pada kita? Kalau dia dan Cathy sudah saling mencintai, kenapa dia tidak pernah membawanya ke rumah?" Jacob terlihat berpikir.

__ADS_1


"Mungkin dia hanya ingin bersenang-senang dengan gadis bernama Cathy itu. Dia tidak mau terikat akan suatu pernikahan."


Nara yang berada di dalam kamarnya sedang berdiri di depan jendela besar yang menuju arah luar. Dari atas Nara dapat melihat sosok pria yang ternyata masih bertahta penuh di hatinya. Pria itu berjalan dengan masih membawa aura dinginnya masuk ke dalam mobil hitamnya. Jaden terlihat menyuruh supir keluarganya tidak ikut dengannya.


"Mau ke mana dia malam-malam begini? Apa dia tidak tidur di rumah?" Nara berdialog dengan hatinya sendiri.


Saat Jaden menoleh dan melihat ke arah jendela kamar Nara, Nara sudah lebih dulu bersembunyi di balik tirai kamarnya.


"Maafkan aku, Nara. Mungkin ini semua hal terbaik yang bisa aku berikan untuk kamu."


Jaden masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya pergi ke tempat yang selalu menjadi favoritnya saat pulang ke Kanada.


Malam itu Nara yang mencoba memejamkan kedua matanya tetap saja tidak bisa dia pejamkan. Nara mencoba menenangkan hatinya sendiri dari perasaan yang datang tidak karuan.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya aku memaafkan orang yang sudah membuat kehidupanku dalam neraka?"


Nara berjalan mondar-mandir di kamarnya. Membayangkan Jaden akan kembali ke rumah. Jujur saja hatinya tidak menginginkan hal itu. Nara tidak mau jauh dari Jaden, tapi saat teringat kecelakaan kedua orang tuanya hatinya juga sakit.


Jaden saat ini sedang berada di sebuah bar kecil dengan segelas minuman di tangannya, dari kejauhan tampak sepasang mata memperhatikan Jaden yang sedang duduk melamun sendirian.


"Thank you," ucap seorang gadis dengan rambut hitam legamnya pada salah satu pelanggan di tempatnya.


Gadis itu berjalan menghampiri Jaden dan duduk tepat di depan Jaden.


"Kamu merindukan aku ya?"


Jaden hanya melirik sekilas pada gadis yang ternyata memiliki lesung pipit. "Buatkan aku minuman seperti biasanya. Aku ingin melupakan semua hal yang terjadi dalam hidupku."


Kedua mata gadis itu membulat lebar. "Apa ini tentang seorang gadis? Cinta?" tanyanya dengan suara bersemangat.


"****! Ternyata sudah benar keputusanku waktu itu untuk tidak mengenal namanya cinta."


"Kamu jatuh cinta? Dengan siapa?" Tangan gadis itu menggenggam tangan Jaden.


Jaden hanya meliriknya sekilas. "Bisa tidak, kamu tidak perlu ikut campur masalah ini? Buatkan saja aku minuman yang sesuai pesananku."


"Hem ...! Bertanya saja tidak boleh." Gadis itu beranjak dari tempatnya dan bersedekap lalu melihat ke atas langit-langit.

__ADS_1


"Lihat adik kamu Kay, dia sedang jatuh cinta, tapi sepertinya cintanya tidak terbalas. Miris sekali," oceh gadis itu.


__ADS_2