Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Melepas Rindu


__ADS_3

Leo pun akhirnya mencoba mencari jejak si penelepon itu dengan meminjam ponsel Nara. Nomor pria itu saja tidak di tampilkan bagaimana bisa mencari?


Di tempatnya pula pria itu sudah membuang SIM cardi miliknya yang tadi baru saja dia gunakan untuk menghubungi Nara.


"Mas Leo, apa suamiku masih ada kesempatan untuk bebas dari tuduhan ini?"


Leo kembali terdiam sejenak mendengar pertanyaan Nara. "Mas Leo jawab aku? Jangan diam begitu!"


"Nara, kemarin bukti yang terkumpul mengarah semua pada Tuan Jaden Luther dan hal ini membuat pihak kita dalam posisi yang bersalah."


Kaki Nara seolah merasakan lemas. Nara yang ingin jatuh dengan cepat menahan tangannya pada pegangan kursi di sana.


"Nara kamu tidak apa-apa?" Leo melihat Nara yang wajahnya langsung tampak pucat.


"Lalu, apa ada cara lain supaya suamiku dapat terbebas Mas Leo? Atau kita membayar uang jaminan untuk kebebasan suamiku." Tangan Nara memegang tangan Leo dengan erat.


"Nara, aku akan terus berusaha untuk membebaskan Tuan Jaden. Kalau uang bisa membebaskannya, aku akan lebih dulu menggunakan itu, tapi ini kasus pembunuhan berencana Nara. Hal ini agak sulit."


"Leo, antarkan aku bertemu dengan suamiku."


Leo agak terkejut. "Tapi ini masih jam dua pagi Nara?"


"Tidak apa-apa, aku mau menunggunya di sana, atau aku akan meminta izin agar dapat di bolehkan melihat suamiku "


"Nara, sebaiknya kamu istirahat dulu saja dan biarkan pikiran kamu tenang. Kalau kamu ke sana sekarang yang ada Tuan Jaden akan semakin panik sama kamu."


"Aku tidak mau sampai suamiku kenapa-napa, Mas Leo." Nara menangis kembali. Leo yang melihatnya tidak tega segera memeluknya erat. Nara semakin besar suara tangisnya.


Nenek Miranti yang sebenarnya tidak bisa tidur malam ini. Semakin teriris hatinya melihat Nara yang saat ini menangis dalam pelukan Leo.


"Nara, kamu harus kuat dalam menghadapi semua masalah ini. Sayang, kenapa dulu harus kamu jadikan Jaden seperti kamu. Kenapa dia tidak seperti orang lain yang hidup di dunia yang biasa saja?" Nenek Miranti berdialog sendiri.


Pagi ini Nenek Miranti yang baru saja turun dari kamarnya melihat Nara tidur di atas sofa dan Leo yang duduk terjaga dengan secangkir kopi di tangannya.


"Nenek, Nenek baik-baik saja? Kenapa wajah Nenek terlihat sembab?"


"Nenek baik, Leo. Nara bagaimana?"

__ADS_1


"Tadi jam dua pagi Nara ingin pergi untuk menemui Tuan Jaden, tapi saya melarangnya dan mengatakan nanti saja jika sudah jam untuk berkunjung."


"Aku tidak sengaja mendengar semua yang kalian bicarakan Leo. Leo jujur saja aku juga bingung harus berbuat apa? Leo, kamu usahakan agar cucuku bisa bebas bagaimanapun caranya."


"Nek, Nenek tidak perlu memintaku. Aku akan melakukan apa yang bisa membuat Tuan Jaden bebas karena memang Tuan tidak bersalah."


"Aku tau kamu adalah orang yang dapat di percaya. Leo, aku mau membuat makanan kesukaan Jaden dan nanti aku dan Nara akan mengantarkan ke sana."


"Iya, Nek. Saya juga mau menghubungi pengacara Tuan Jaden untuk mencari tau perkembangan selanjutnya."


Nara mengerjakan kedua matanya dan dia tampak terkejut. "Aku kenapa tidur di sini?" Nara mengingat tentang semalam dia yang menangis dalam pelukan mas Leo.


"Aku harus bersiap-siap, aku mau menemui suamiku." Nara segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamar tidurnya untuk mandi dan bersiap-siap.


Beberapa menit kemudian Nara melihat nenek di ruang makan. "Nek, aku mau pergi menemui suamiku."


"Nara, kita makan pagi dulu dan nenek juga sudah menyiapkan makanan kesukaan Jaden untuk kita bawa ke sana."


Nara duduk dengan lemas. Kenapa dia sampai tidak ingat untuk membawakan makanan untuk suaminya? Yang dia ingat hanya ingin bertemu dengan suaminya saja terus.


"Maafkan aku ya, Nek," ucapnya lirih.


"Karena hanya ingin bertemu dengan suamiku, aku tidak memikirkan hal lainnya."


"Tidak apa-apa. Sekarang kamu makan dulu dan nanti kita ke sana bersama-sama."


"Nek, aku tidak lapar. Nenek saja yang makan."


Miranti dapat melihat kesedihan yang mendalam yang Nara rasakan. Miranti pun ketakutan akan Jaden yang kali ini akan susah untuk terbebas dari tuduhan.


Musuh Jaden kali ini tidak main-main, dia seolah bisa membuat Jaden akan susah untuk terbebas dari masalah ini. Dahal biasanya Jaden dapat membereskan masalah seperti ini tanpa ada saksi dan bukti.


"Nara, kamu makan dulu, atau nanti kamu sakit."


"Aku baik-baik saja, aku tidak lapar. Suamiku di sana juga belum makan, Nek." Nara menangis sambil membunyikan wajahnya di bawah meja makan.


Nenek akhirnya mengajak Nara pergi untuk menemui suaminya. Sesampai di sana mereka menunggu di ruang tunggu. Nara tampak tidak sabar ingin melihat keadaan suaminya.

__ADS_1


Pria yang di tunggu Nara itu pun akhirnya berjalan keluar. Nara melihat suaminya dari atas sampai bawah. Penampilannya agak berantakan, tapi aura dingin dan ketampanan Jaden tidak menghilang dari wajah pria itu.


"Hai, Sayang," sapa Jaden yang tidak mau menunjukkan kesedihannya yang juga merindukan Nara, walaupun baru beberapa jam mereka berpisah.


Nara berlari memeluk pada suaminya dan Nara menangis dengan kencang. "Kenapa menangisinya keras sekali? Apa tidak malu dilihat banyak orang?" goda Jaden sambil mengecup kening Nara.


"Aku tidak peduli."


Mereka berpelukan beberapa detik sampai akhirnya Jaden bergantian memeluk neneknya. Mereka bertiga duduk berhadapan dan Nara masih saja memeluk suaminya di sana.


"Nak, kamu baik-baik saja, Kan?"


"Aku baik, Nek. Kalian berdua tidak perlu khawatir."


"Kalau begitu kamu makan dulu karena dari kemarin malam kamu pasti belum makan. Nara juga." Nenek melihat pada Nara.


"Aku tidak lapar Nek."


"Bagaimana nanti bayiku bisa tumbuh sehat jika kamu tidak mau menjaga kesehatan?"


"Aku belum hamil, Suamiku."


"Aku tau, tapi mulai sekarang harus kamu jaga kesehatan kamu biar kamu bisa cepat hamil."


"Sekarang kalian berdua makan dulu. Nara, kamu juga harus makan."


"Baiklah, suapi aku dan kamu juga makan. Bagaimana?"


Nara mengangguk dan dia menyiapkan makanan untuk suaminya. Nara menyuapi Jaden sambil sesekali menghapus air matanya.


Jaden mengusap air mata istrinya yang dari tadi seolah tidak mau berhenti. "Jangan menangis lagi. Katanya mau menjadi wanita yang kuat di sampingku. Kalau begini saja menangis, bagaimana mau menjadi kuat?"


"Orang kuat juga bisa menangis. Aku menangis karena melihat keadaan kamu ini."


"Sayang, aku baik-baik saja." Jaden memang tampak tenang, tapi Nara tetap saja tidak bisa tenang sebelum mendengar kabar jika suaminya bisa terbebas dari tuduhan.


Nara menyuapi sambil tidak melepaskan pandangannya dari suaminya yang sesekali memberikan dia senyuman.

__ADS_1


"Sayang, semalam ada yang menghubungiku dan dia seperti orang yang merencanakan semua ini."


__ADS_2