
Nara celingukan menunggu Mba Sandra yang belum kembali dari kamar mandi. Dia berjalan menuju kamar mandi di sana setelah bertanya pada salah satu penjual sayuran yang tadi dia beli.
"Mba Sandra mana? Kenapa dia lama sekali?" gerutu Nara yang berdiri di lorong ruko-ruko yang sudah tutup. Nara masih mencari di mana kamar mandinya. Nara celingukan sendiri.
"Mba ... Mba ... tolong!" Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang mendekati Nara dengan cemas, bahkan tangannya memegang lengan Nara dengan panik.
"Ka-kamu kenapa? Ada apa, Dik?" Nara memanggilnya adik karena anak laki-laki itu jika dilihat usianya di bawah Nara.
"Mba, tolong teman saya yang berada di sana, dia merintih kesakitan memegangi perutnya, aku tidak tau dia kenapa?"
"Teman kamu? Coba kamu minta tolong satpam penjaga di pasar ini, siapa tau dia bisa menolong." Nara bukannya tidak mau menolong, hanya saja dia baru mengenal anak itu. Nara harus waspada setiap mengenal orang baru.
"Kami hanya orang tukang angkat barang-barang, Mba, jadi tidak ada yang memperdulikan kita. Aku melihat Mba mungkin orang baik yang mau menolong kita, makannya aku ke sini."
__ADS_1
"Tapi aku sedang menunggu temanku, dia katanya tadi sedang ke toilet."
"Mba, nanti aku bantu carikan temanku, tapi tolong temanku dulu," ucap anak itu sedih. Nara yang memang tidak tegaan langsung berjalan pergi dengan anak itu menuju tempat di mana teman anak laki-laki itu berada.
Nara ditunjukkan sebuah ruko yang sudah tidak terpakai dan memang benar dia mendengar suara seseorang merintih kesakitan.
Nara masuk lebih dalam dan tiba-tiba Nara jatuh pingsan karena ada yang sudah memukul kepalanya dari belakang.
Kedua anak laki-laki itu segera berlari dari sana setelah mengikat dan mengurung tubuh Nara di dalam ruko itu.
"Mba Sandra ini yang Mba Minta." Pengawal itu memberikan bungkusan berwarna hitam pada Sandra, dan Sandra mengambilnya. Setelah beberapa menit Sandra keluar dari dalam kamar mandi.
"Kalau begitu kita pergi ke tempat Nara, siapa tau dia menunggu kita."
__ADS_1
"Baik, Mba."
Mereka berdua mencari di mana Nara karena terakhir mereka meninggalkan Nara di penjual kentang dan wortel.
"Nara tidak ada, Mba. Coba saya tanyakan dulu pada salah satu penjual di sini." Pengawal itu bertanya pada penjual kentang dan wortel dan mereka bilang tidak melihat Nara. Pengawal itu seketika langsung panik.
Dia dengan cepat menghubungi teman-teman lainnya dan kepala pengawal yang kenal baik Nara segera menyuruh mereka menyebar di semua tempat untuk mencari keberadaan Nara.
Hampir setengah jam mereka berpencar mencari Nara. Namun, mereka tidak menemukan di mana Nara berada.
"Bagaimana ini? Tau begitu aku tidak meninggalkan Nara seorang diri, tapi dia tidak mungkin di culik. Apa Nara sengaja memang ingin pergi sendiri?" Mba Sandra berbicara dengan kepala pengawal itu.
"Nara pergi sendiri?"
__ADS_1
"Iya, Pak. Sekarang untuk apa menculik Nara. Kalau Nara memang diculik dia bisa berteriak minta tolong atau melawan.Di sini sangat ramai pasti akan ada yang menolongnya. Kalau Nara tiba-tiba menghilang mungkin saja dia memang sengaja pergi sendiri?"
Kepala pengawal itu akhirnya juga mempunyai pikiran seperti itu mengingat Nara sebenarnya adalah tawanan Tuan Jaden yang dulu dia culik atas perintah Jaden.