
Mereka masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Denna.
"Dimas, aku mau makan dulu di cafe seberang jalan itu." Telunjuk Denna menunjuk ke arah sebelah kiri mereka.
"Nona tidak makan di rumah saja?"
"Aku ingin makan di sana karena aku dengar mereka ada menu baru dan aku ingin makan di sana."
"Tapi, Nona, kita tidak lama sudah sampai di rumah."
Denna melihat kesal pada Dimas. "Kalau kamu tidak mau mengantarkan aku. Kamu turunkan saja aku di sini dan biarkan aku ke sana sendiri."
"Saya akan antarkan, Nona Denna."
Denna tersenyum seolah dia mendapatkan kemenangan debat dengan pria dinginnya melebihi kutub utara ini. Denna sebenarnya tidak ingin makan di sana, tapi dia lakukan karena Dimas pasti belum makan dari pagi dan dia akan mengajak Dimas makan bersama di sana.
Dimas menghentikan mobilnya tepat di depan cafe di mana Denna inginkan.
"Dimas, kamu kenapa berdiri di sana?"
"Saya akan menunggu Nona Denna di sini sampai selesai."
"Apa? Kamu juga ikut masuk dan kita makan bersama. Aku tidak mau seperti orang hilang yang makan sendirian."
Denna menarik lengan tangan Dimas sampai pria itu kaget dan pasrah mengikuti Denna masuk ke dalam cafe.
Denna memilih duduk di dekat jendela besar dengan bangku hanya cukup untuk dua orang.
"Kamu mau memesan apa?"
"Saya tidak lapar."
"Bisa tidak kamu bersikap jangan menyebalkan? Sehari saja, Dimas." Dimas tampak bingung dengan perkataan Denna. "Aku akan memesankan makanan untuk kamu saja kalau begitu."
Dua nasi hangat plus sup hangat serta lemon tea tersedia di atas meja mereka.
"Kalau kamu tidak mau makan, aku akan menyuapi kamu di sini," ancam Denna.
"Memangnya, Nona berani?"
"Mau menantang?" Wajah Denna tampak menunjukkan tidak takutnya.
Dimas berpikir sejenak. "Tadi saja Denna bisa memaksanya begitu. Dia pasti bisa melakukan lagi yang dia katakan," Dimas berbicara dalam hati.
"Saya bisa makan sendiri, Nona." Dimas akhirnya makan dan hal itu membuat Denna tampak senang.
__ADS_1
Setelah makan siang, mereka pulang ke rumah dan Dimas disuruh oleh Denna pulang saja karena dia tidak akan ke mana hari ini.
"Nona Denna, terima kasih untuk makan siangnya."
"Aku juga berterima kasih kamu sudah mau makan tadi. Oh ya, Dimas! Ini milik kamu yang aku temukan di saku suit kamu waktu itu. Dia mamamu?"
Dimas mengambil foto dari tangan Denna. "Iya, Dia mama saya."
"Cantik sekali mama kamu."
"Cantik, tapi sayang hidupnya tidak secantik wajahnya."
"Di mana mama kamu sekarang? Apa kamu pernah bertemu dengannya? Kata mamaku kamu di asuh oleh orang tua asuh yang menjaga kamu dari kecil."
"Mamaku sudah meninggal, Denna."
"Aku minta maaf, Dimas."
"Tidak apa-apa. Saya permisi dulu." Dimas berjalan pergi dari sana.
Nara tampak tertegun dan merasa bersalah sudah menanyakan hal itu. Denna masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar tidurnya.
"Kenapa aku merasa Dimas itu menyimpan sesuatu yang dia tidak mau berbagi bahkan orang lain tau."
Tidak lama pintu kamar Denna diketuk oleh seseorang. "Denna, kamu tidak makan siang dulu?"
"Ehem! Kamu mengajak Dimas makan siang?" Nara melihat curiga pada putrinya.
"Mama jangan berpikiran yang tidak-tidak soal ini. Dimas sedang sakit, Ma dan aku tau dia belum makan dari tadi karena tadi saat dia tidur aku mendengar bunyi di perutnya."
"Dia sakit apa?"
"Demam, dan mungkin karena kehujanan kemarin waktu di rumah Tante Citra. Dia berdiri di depanku agar aku tidak terkena hujan, dan dia sekarang malah yang jatuh sakit."
Nara duduk di samping ranjang putrinya. "Denna, kamu suka tidak sama Dimas?"
"Hah? Maksud Mama?" Denna bingung dengan maksud mamanya.
"Dia sangat peduli dan perhatian sama kamu. Apa kamu tidak jatuh cinta sama dia?" Nara malah menyenggol lengan tangan putrinya.
"Hah? Jatuh cinta? Sama Dimas? Dia bukan tipeku, Ma. Dimas itu terlalu kaku dan dingin. Dia juga ucapannya kadang membuat aku kesal."
"Kenapa seperti ayah kamu dulu?" gerutu Nara.
"Seperti ayah? Memang ayah menyebalkan begitu?" Nara mengangguk. "Tapi aku lihat ayah sangat manis pada Mama. Apa lagi waktu Mama menyediakan makanan untuk ayah, tangan ayah suka nakal di balik baju Mama," celetuk Denna.
__ADS_1
"Ya ampun! Kamu melihatnya?" Wajah Nara tampak malu. "Sekarang saja ayah kamu lebih manis bahkan sangat romantis. Dulu?" Nara memutar bola matanya jengah.
"Tapi ayah orang yang sangat menyayangi keluarga."
"Itu memang benar, dan ayah kamu sangat setia. Dimas jika memiliki sifat seperti ayah kamu. Dia pasti pria yang sangat manis dan setia sebenarnya."
"Tapi tetap saja aku tidak suka dengan sikap dinginnya. Aku suka pria yang tidak terduga melakukan hal yang mengejutkan dan romantis."
"Kamu pasti akan menemukannya suatu hari nanti." Nara beranjak dari tempatnya.
"Mama mau ke mana?"
"Mama lupa tidak membawa ponsel mama. Ayah kamu biasanya menghubungi mama, tapi kenapa sampai sekarang ayah kamu tidak menghubungi mama?"
"Manja sekali minta dihubungi tiap hari. Bukannya tiap hari sudah bertemu?"
"Tidak apa-apa, Kan?"
"Tidak apa-apa, dan Mama tenang saja karena ayahku itu setia." Denna mengedipkan salah satu matanya.
Di dalam gedung pencakar langit yang tinggi. Jaden dan Leo sedang membahas tentang proyek mereka yang ada di luar negeri.
"Masuk," ucap Jaden pada sekretarisnya yang mengetuk pintu.
"Pak Jaden, ada seseorang yang ingin menemui Pak Jaden."
"Siapa? Bukannya aku tidak ada janji lagi dengan orang lain?"
Leo yang dilihat oleh Jaden juga tampak heran. Tidak lama masuk seseorang berjalan seolah sedang ingin merayu seseorang.
"Mauren?"
"Hai, Sayang. Kamu apa kabar?" Tangan Mauren mengusap lembut rahang tegas Jaden.
"Jaga sikap kamu di sini, Mauren."
"Maaf, masih terbawa dengan sikap aku dulu sama kamu." Telunjuk Mauren sekarang menelusuri perlahan-lahan lengan tangan Jaden.
Tangan Jaden menahan tangan Mauren agar tidak bertindak lebih jauh. "Katakan ada apa kamu tiba-tiba datang ke kantorku setelah lama sekali aku tidak pernah melihat kamu."
"Jaden, aku ke sini ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan milikku."
"Apa? Bekerja sama dengan perusahaan milik kamu? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, Mauren?" tanya Leo tegas.
"Tentu saja aku serius, Leo. Aku membutuhkan perusahaan milikku bisa berkembang karena aku sekarang seorang singel parent yang memiliki seorang putri remaja."
__ADS_1
"Memangnya ke mana suami kamu?"
"Dia pergi dengan wanita lain dan aku tidak peduli karena aku hanya menginginkan hartanya. Dia yang sangat terobsesi padaku, tapi dia juga yang meninggalkanku." Sikap Mauren seolah tidak sedih dengan kandasnya rumah tangga yang sedang dia hadapi.