
Tangan Denna menggandeng tangan Diaz berjalan pergi dari sana. Evans mengejar Denna dan Diaz yang berjalan menuju pintu keluar kelas mereka.
Tangan Evans menjulur seolah menahan agar Denna menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu, Denna! Aku bukannya tidak menghormati atau menghargai orang lain, tapi kenyataannya aku memang ingin menawari kamu, bukan Diaz."
"Maaf ya, Evans. Mobil kamu cuma muat dua orang dan aku biasa pulang dengan Diaz, jadi aku tidak bisa menerima tawaran kamu. Ayo Diaz kita pulang, aku sudah lapar mau makan masakan mamaku."
"Aku ke rumah kamu ya?"
"Tentu saja boleh. Nenek kangen pengen bertemu kamu."
Mereka berdua berjalan bersama dengan senang, meninggalkan Evans yang berdiri kesal di tempatnya.
"Lihat saja kamu, Denna. Suatu hari nanti, aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku, bahkan kamu akan sangat takut aku meninggalkan kamu." Tangan Evans mengepal erat.
Diaz dan Denna selalu pulang bersama-sama. Diaz tidak pernah mau dijemput supir pribadinya, dia lebih suka ikut dengan Denna.
Siang itu Diaz dan Denna makan siang bersama ditemani nenek dan Nara. "Tante, boleh tidak Denna hadir di acara ulang tahun teman kita Kirana besok malam?"
"Diaz, kenapa kamu yang bicara lebih dulu?" Denna melihat kaget pada sahabatnya yang mulutnya penuh dengan makanan.
"Diaz, habiskan dulu yang ada di mulut kamu," kata Nara.
"Heheheh maaf, Tante, masakan di sini selalu enak soalnya, aku tidak sabar kalau makan di sini."
"Memangnya ada undangan pesta ulang tahun, Denna?" Gadis itu langsung mengangguk cepat. "Kenapa tidak bilang sama mama?"
"Aku tidak bilang karena pasti tidak boleh datang. Bukannya besok malam kita mau pergi ke acara paman tampan di luar kota selama dua hari."
Nara tampak berpikir sejenak. "Oh iya, acara Paijo juga besok malam."
"Tante, Denna tidak usa ikut saja, biar dia pergi denganku di acara pesta ulang tahun itu. Boleh ya, Tante?" Rengek Diaz.
Nara melihat pada nenek Miranti yang juga melihat pada Nara. "Sayang, kamu ingin datang ke acara itu?" tanya nenek.
"A-aku sebenarnya ingin datang, Nek, tapi bagaimana dengan acara paman tampan?" Wajah Denna berubah sedih.
"Kalau kamu mau datang nanti mama akan bicara sama ayah kamu."
__ADS_1
"Benar, Ma?" Denna membulatkan matanya tidak percaya.
"Iya, nanti mama akan bicara dengan ayah kamu. Lagi pula paman tampan tidak akan marah kalau kamu tidak datang. Besok itu, kan, masih acara pertunangan paman tampan kamu."
"Iya, kalau pernikahan aku pasti akan datang."
"Ya sudah, kalau begitu kamu habiskan dulu makanan kamu."
"Tante, boleh nambah, gak?" Diaz menunjukkan piringnya yang sudah kosong.
Mereka bertiga tampak tertawa melihat wajah lucu Diaz.
"Diaz, katanya mau mengecilkan badan? Kenapa malah makannya nambah?"
"Kamu sih! Kenapa aku diajakin ke rumah kamu terus? Jadi lupa aku mau dietnya."
"Lah, kok aku yang disalahin?" Denna tampak heran. Dahal tadi Diaz yang minta ke rumah Denna.
Diaz berada di rumah Denna sampai sore hari, dan akhirnya supir keluarga Denna mengantar Diaz pulang ke rumahnya.
Di rumah. Diaz yang memasuki ruang tengah melihat dua orang yang sedang asik bermesraan dengan bagian atas sudah tampak polos tidak merasa malu atau sungkan saat mengetahui ada orang yang melihat mereka.
"Pergi sana! Aku tidak peduli denganmu!" usir wanita cantik yang hanya memakai bawahan rok mini berbahan jeans.
Diaz yang sudah biasa dengan perlakuan maminya berlari pergi menuju kamarnya. Dia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
"Kenapa aku harus dilahirkan oleh wanita seperti dia? Kenapa aku tidak memiliki kehidupan sempurna seperti Denna?" Diaz mencengkeram erat sarung bantalnya menahan amarah.
Malam itu di rumah Nara. Seluruh anggota keluarga seperti biasa sedang makan malam bersama, tapi hari ini uncle Leo tidak ikut makan malam bersama.
"Ayah, uncle Leo mana? Kenapa dia tidak ikut makan malam di sini?"
"Dia sedang ayah tugaskan untuk mengurusi sebuah masalah," ucap Jaden dengan tangan masih memotong stik buatan Nara.
"Ayah, jangan sering memberi tugas yang berat untuk uncle Leo. Lihat uncleku, dia sampai tidak punya waktu untuk mengenal seorang wanita. Aku kasihan melihat uncle Leo."
"Kenapa ayah yang disalahkan kalau uncle kamu tidak punya kekasih? Ayah tidak pernah melarang dia untuk dekat dengan seorang wanita, hanya saja uncle kamu memang orangnya sangat tertutup."
"Ayah, aku pernah dengar uncle bicara dengan seseorang di telepon, dan dia bilang jika dia akan menemuinya nanti pada saat hari ulang tahun seseorang yang ditelepon itu. Apa itu kekasihnya, ya?" Denna melihat serius pada ayahnya.
__ADS_1
Jaden yang memang tidak tau malah melihat pada Nara. "Sayang, apa Leo pernah bercerita tentang seseorang sama kamu? Bukannya kalian sangat dekat."
"Mas Leo tidak pernah bercerita apa-apa, tapi saat kita bicara waktu itu tiba-tiba ada panggilan dan dia langsung izin mau menjawab panggilan itu. Wajahnya tampak langsung berubah ceria."
Mereka semua yang di sana semakin penasaran saja tentang siapa yang sekarang dekat dengan Leo.
"Nanti biar ayah tanya langsung sama Leo. Kalau dia tidak mau mengaku, ayah akan pecat dia dan menyuruhnya kembali ke rumahnya."
"Ayah kejam sekali." Denna mengerucutkan bibirnya.
"Baru tau kalau ayah kamu orang yang tega?" Nara melirik pada suaminya.
"Sebenarnya apa yang Leo pakai sehingga dua wanita kesayanganku. Em! Maksud aku tiga wanita kesayanganku dengan Nenek sangat menyukai Leo?" Salah satu alis Jaden naik ke atas.
Denna menahan senyumnya. "Aku juga sayang ayah."
"Ayah tau, oleh karena itu ayah mengizinkan kamu untuk pergi ke acara pesta ulang tahun teman kamu besok malam."
Kedua mata Denna seketika membulat lebar mendengar apa yang baru saja ayahnya katakan. "Ayah benar memberi aku izin? Acaranya malam Yah, dan aku tidak tau jam berapa selesainya."
"Tidak apa-apa. Kamu sudah dewasa dan ayah percaya kamu bisa menjaga diri kamu." Jaden tersenyum kecil pada putrinya.
Di dalam kamarnya. Denna mencari ponselnya dan segera menghubungi sahabatnya.
"Halo," ucap lirih Diaz.
"Diaz, kamu habis menangis? Ada apa?" tanya Denna cemas.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya sambil terisak.
"Mami kamu? Apa kamu bertengkar lagi sama mami kamu?"
"Denna, aku ingin pergi dari rumah ini. Aku benar-benar tidak betah tinggal di sini." Terdengar suara tangis Diaz.
Denna di tempatnya terdiam mendengar suara tangis sahabatnya. Dia bingung ingin membantu, tapi apa yang bisa dia lakukan.
"Diaz, kamu mau ke mana? Apa kamu mau tinggal dengan papi kamu?"
"Aku tidak tau. Kenapa aku harus dilahirkan jika mereka berdua tidak menginginkan aku?" Denna semakin sedih mendengar ucapan Diaz.
__ADS_1