Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Orang Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Bisa kebetulan sekali, mungkin kalian memang masih dijodohkan untuk bersama."


"Hanya kebetulan." Untuk beberapa menit mereka saling diam dan menatap.


"Dimas, aku mau membayar pasta gigi itu, lalu pulang."


Denna membayar barang yang dia beli lalu mereka keluar dari toko itu. Denna berjalan di depan Dimas, tapi pria itu dengan cepat menggandeng tangan Denna.


"Jangan berjalan sendiri."


Denna melihat tangannya di genggam oleh Dimas. "Aku tidak akan apa-apa. Lagi pula tidak enak kalau nanti sampai di lihat kekasih kamu tadi. Nanti gara-gara aku kalian tidak jadi balikan." Denna sekali lagi melepaskan tangan Dimas dan berjalan sendiri.


Dimas merasa Denna seperti menjaga jarak dengannya sekarang. Dimas berlari kecil mengejar Denna dan dengan cepat kembali menggandeng tangan Denna.


"Nona di sini adalah tanggung jawabku terlepas apa yang Mitha pikirkan." Dimas berjalan dengan tangan menggandeng Denna.


Ada perasaan senang dan sedih dalam hati Denna. Mereka sampai di tempat Nenek.


"Nek, aku sudah membelinya. Kita pulang sekarang saja karena aku capek."


"Kalian tidak mau minum dulu?"


Denna menggeleng. "Aku mau pulang, Nek." Miranti melihat ada yang salah dengan cucunya. Lalu, dia melihat pada Dimas.


"Nek, ayo pulang!"


"Iya, kita pulang sekarang."


Mereka bertiga naik mobil dan perjalanan pulang. Denna hanya duduk terdiam bersandar pada dada neneknya sampai tidak terasa dia tertidur.


Mereka sudah memasuki halaman besar rumah dengan bangunan gaya Eropa klasik.


"Dimas, Denna tertidur. Apa kamu bisa membawanya ke dalam kamarnya, aku mau membangunkan, tapi kasihan jika aku bangunkan."


"Iya, Nek, akan saya bawa nona Denna ke atas."


"Dimas, apa ada masalah tadi?"


Dimas menggeleng. "Semua baik-baik saja, Nek."


"Ya sudah kalau begitu kamu bawa Denna ke kamarnya."


Dimas menggendong tubuh Denna dan membawanya ke dalam kamar Denna. Gadis itu tampaknya kelelahan sampai tidak merasa jika tubuhnya dibawa oleh Dimas.


Dimas membaringkan Denna dengan perlahan di atas tempat tidurnya yang nyaman. Nenek duduk sebentar di ruang tengah karena kakinya terasa sakit.


Dimas memandang wajah gadis yang sudah membuat hatinya tidak tertata dengan baik seperti biasanya.

__ADS_1


Dimas mengecup kening Denna tanpa Denna ketahui. "Maafkan saya jika sudah lancang." Dimas menyelimuti gadis itu dan berjalan pergi dari sana.


"Apa Denna masih tertidur?"


"Iya, Nona Denna masih tertidur."


"Dimas, apa kamu tau Denna sudah memiliki kekasih atau belum?"


"Setahu saya Nona Denna tidak pernah dekat dengan siapapun."


"Teman dekat misalnya."


"Tidak ada, Nyonya besar, hanya saja ada seorang teman laki-laki Nona Denna saat masih sekolah sangat menyukai Nona Denna, tapi tidak pernah mendapat respon."


"Begitu. Sebenarnya aku dan kedua orang tua Denna tidak mau melarang jika Denna memiliki hubungan dengan seseorang, hanya saja aku masih khawatir saja jika dia mengenal jatuh cinta, tapi dia disakiti karena selama ini Denna tidak pernah memiliki suatu hubungan seperti pacaran."


"Saya tau tentang itu, Nyonya Besar."


"Panggil aku nenek saja. Kamu juga seusia cucuku. Ya sudah karena hari semakin malam, kamu boleh pulang dan beristirahatlah."


"Saya permisi dulu, Nek." Dimas berjalan pergi dari sana.


Dia membawa mobil keluarga Denna menuju rumahnya.


Saat membuka pintu Dimas melihat adiknya sedang duduk dengan kaki lurus di atas sofa panjang di ruang tamu.


"Kaki kamu kenapa V?" Lihat Dimas heran.


"Tidak apa-apa, Kak."


"Tidak apa-apa? Kalau tidak apa-apa kenapa dibalut perban begitu?"


"Hanya tertabrak kursi roda seseorang di rumah sakit."


"Coba aku lihat."


"Eh jangan, Kak! Kak Dimas jangan menyentuh perban di kaki aku karena itu dibalut oleh calon dokter muda yang bagiku sangat cantik."


"Kamu suka seseorang? Siapa gadis yang akhirnya bisa membuat adikku jatuh cinta?" Dimas bersidekap menunggu jawaban adiknya.


"Dia mahasiswi dari kampus lain yang sedang praktik di rumah sakit yang sama denganku, tapi dia mengambil jurusan spesialis anak. Dia sangat cantik dan menyenangkan, Kak."


"Oh jadi dia calon dokter juga? Siapa namanya?"


"Namanya Denna, tapi aku tidak tau nama panjangnya."


"Denna?"

__ADS_1


"Namanya bagus, kan, Kak?" tanya V, tapi dia tidak mendapat jawaban dari kakaknya. "Kak, Kakak melamun apa?"


"Tidak ada."


"Nama gadis itu bagus, kan?"


"Iya, namanya bagus, dan pasti orangnya cantik. Kalau begitu sekarang kamu tidur saja supaya kaki kamu cepat sembuh."


"Kakak tidur duluan saja soalnya aku masih menunggu dessert alpukat yang aku buat jadi. Besok aku akan memberikannya pada Denna."


"Kamu benar-benar menyukainya?"


"Sepertinya. Apa aku salah ya, Kak?"


"Tidak salah, tapi kakak hanya mengingatkan untuk tetap menjaga hati kamu untuk menerima ada kepahitan juga di dalam sebuah cinta. Kamu mengerti, kan?"


V mengangguk paham. "Aku tau, Kak. Walaupun nanti Denna tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku tidak akan sakit hati."


"Bagus. Satu lagi, kamu jangan melupakan kuliah kamu." Tangan Dimas mengacak-acak rambut adiknya.


"Tenang saja, Kak. Aku tidak akan melupakan masa depanku."


"Karena biasanya cinta itu bisa membuat orang lupa akan tujuan utamanya dalam hidup."


"Kakak sok tau soal cinta. Hubungan Kak Dimas saja berakhir dengan kak Mitha waktu sekolah," ejek V.


"Itu hanya cinta biasa, V, aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Sudah! Kakak mau tidur dulu. Kamu cepat tidur. Kakinya sakit malah tampak bahagia. Aneh."


Dimas berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan tanda tanya besar. Apa Denna yang di maksud adiknya adalah Nona Dennanya. Dimas baru ingat jika rumah sakit di mana adiknya praktik tempat yang sama dengan Denna.


Pagi itu Dimas melihat adiknya sudah siap akan pergi tampak sangat bahagia membawa box kue berisi dessert alpukat yang dia buat.


"Kak, aku mau ke makam ibu dulu karena ibu belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku mau membelikan karangan bunga yang indah untuk ibu."


"Kakak juga mau ke rumah Tuan Jaden untuk mengantar putrinya ke kampus."


"Kalau begitu aku pergi dulu, Kak."


"Hati-hati, V."


V mengendarai motornya pergi dari sana. Dia pergi ke toko bunga dahulu untuk membeli bunga mawar merah yang sangat disukai ibunya.


Sesampai di pemakaman V tampak kaget karena ada orang yang berada tepat di samping pusaran ibunya. Dua orang paruh baya dan satu pria yang duduk di kursi roda dengan tatapan kosongnya.


"Kalian siapa? Dan kenapa ada makan ibuku?" tanya V mendekat pada mereka.


Wanita cantik dengan rambut digelung ke atas langsung melihat pada V. Dia melepas kaca mata hitamnya dan tampak pandangannya sangat terkejut.

__ADS_1


"Kamu bilang ini makam ibu kamu? Apa kamu putra Renata?" tanya penasaran.


__ADS_2