Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bulan Madu Sesungguhnya part 1


__ADS_3

Pagi itu Jaden yang ternyata sudah bangun dari tidurnya melihat istrinya yang masih tidur seperti orang yang sangat kelelahan.


"Gadis bodoh! Dia menyembunyikan sesuatu hal dariku di sini? Ini adalah tempatku. Mata-mataku di sini banyak. Apa lagi Mario adalah mata-mata terbaik yang aku miliki di sini." Jaden tersenyum tidak percaya sambil memandangi wajah istrinya yang bagi Jaden masih sangat polos.


Jaden ingat saat dia mendapat kiriman sebuah foto dari putra kecil Esme yang bernama Mario. Bocah laki-laki itu diam-diam memotret Nara saat latihan menembak dan bela diri di rumah ibunya. Padahal Jaden sama sekali tidak memintanya, tapi bocah itu seolah tau apa yang dia lakukan.


Jaden tersenyum gemas melihat penampilan Nara yang baginya sangat cantik dan **** dengan baju hitam yang ada dibalik dress selutut yang dia gunakan di depan Jaden.


Padahal Nara sudah meminta pada Mario kecil agar Jaden jangan sampai tau masalah ini, tapi Mario sudah lebih dulu memberitahu Jaden.


"Aku mencintaimu, Nara." Jaden mengecup bibir Nara yang masih tertidur. "Bagaimanapun, aku akan selalu melindungi kamu dengan nyawaku."


Jaden bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman dingin. Jaden membuka ponselnya dan memasukkan sim card baru kemudian dia menghubungi seseorang.


"Halo, Leo."


"Tuan Jaden." Leo yang masih tertidur kaget mendapat panggilan dari Jaden.


"Maaf mengganggu kamu malam-malam begini." Di tempat Jaden sudah pagi, sedangkan di tempat Leo masih malam hari.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sendiri juga tidak tidur nyenyak. Entah kenapa seolah ada hal yang mengganjalku."


"Apa semua baik-baik saja?"


"Semua masih baik-baik saja. Nenek di sini juga baik."


"Bagus kalau begitu. Leo, aku hanya ingin memberitahu kamu jika tiga hari ini mungkin tidak akan menghubungi kamu karena aku akan pergi ke tempat agak jauh dengan Nara dan kamu tunggu saja seperti biasa aku yang akan menghubungi kamu."


"Baik, Tuan, saya mengerti."


"Ya sudah kalau begitu jaga diri kamu baik-baik. Kalau kamu membutuhkan bantuan. Minta tolong saja Will. Dia pasti akan bisa membantu kamu."


"Iya, Tuan, saya mengerti. Tuan, tolong jaga Nara baik-baik dan titip salam saya buat Nara."


"Akan aku sampaikan." Leo memang belum pernah berbicara dengan Nara sejak Jaden membawanya pergi setelah pernikahan mereka di rumah sakit.

__ADS_1


Jaden mengakhiri panggilan mereka. Setelah itu Jaden mengambil sim card miliknya yang baru dia gunakan untuk menghubungi Leo. Jaden mematahkan sim card itu menjadi dua bagian dan membuangnya.


Sekarang dia beralih pada istrinya yang masih tertidur dengan pulas. Jaden perlahan-lahan menelusuri tubuh Nara mulai dari wajah kemudian turun ke bagian leher Nara dan tangannya yang usil mulai masuk ke dalam kaos tidur milik Nara.


Nara hanya menggeliat mendapat sentuhan lembut dan Nakal yang dilakukan oleh jari jemari Jaden.


Jaden menghentikan gerakannya dan menunggu istrinya sampai berhenti menggeliat. Kemudian dirasa Nara sudah kembali tenang, tangan nakal Jaden kembali bergerak melepas pengait bra milik Nara.


Tangan pria itu kembali menelungsup pada bagian yang dia sukai. Nara yang merasakan bagian dirinya ada yang menyentuh seketika membuka kedua matanya dan dia melihat wajah tampan suaminya yang tersenyum tidak berdosa di hadapannya.


"Tuan JL Sayang ... Apa yang kamu lakuka" Nara segera memukul-mukul kecil tangan Jaden yang ada di balik kaos tidur Nara. "Aku masih mengantuk!" seru Nara kecil.


"Tapi aku ingin membangunkan kamu, Nara sayang."


"Huft! Apa kamu lupa aku tidur jam berapa kemarin malam? Aku masih harus menyiapkan barang yang kita bawa untuk pergi ke tempat yang aku sendiri tidak tau mau kamu bawa ke mana."


"Aku mau mengajak kamu berbulan madu yang sesungguhnya. Sekarang kamu bangun dan kita bersiap-siap pergi ke sana. Kamu pasti akan menyukai tempat itu."


Nara terlihat malas. Bukan malas untuk pergi berbulan madu sebenarnya, tapi Nara masih sangat capek dan mengantuk.


"Tidak bisa, Nara. Kapal kita sudah menunggu di dermaga. Kita harus segera berangkat ke sana sekarang."


"Tapi mataku masih sangat mengantuk dan aku tidak kuat untuk membukanya." Nara berkata dengan mata tertutup.


"Kalau begitu aku akan membuat kamu terbangun Nara, Sayang."


"Hem ...!" Nara hanya menjawab dengan deheman, dan kembali membuat posisinya nyaman untuk memejamkan kedua matanya.


Jaden menunjukkan senyum miringnya. Tidak lama terdengar suara cekikikan geli Nara karena ada sesuatu yang menggelitik di balik selimut tidurnya.


"Sayang, hentikan! Jangan membuatku kesal dan akhirnya kita tidak jadi berbulan madu."


"Kalau begitu kita berbulan madu di sini saja sekarang."


"Terserah," jawab Nara santai.

__ADS_1


Jaden yang seolah mendapat lampu hijau dengan segera mengecup bibir Nara sampai istrinya itu terbangun dan membuka kedua matanya.


"Aku ikuti apa yang kamu inginkan, istri tersayangku."


"Serius? Sekarang?"


Jaden mengangguk dan tangannya membuka kaos tidur Nara. Mau tidak mau Nara, Nara yang sebenarnya belum siap karena masih ngantuk membalas ciuman Jaden.


Jadilah adegan ciuman mesra di mana Jaden yang tepat di atas tubuh Nara.


Jaden mendekatkan tubuhnya yang bagian atas sudah polos pada tubuh Nara yang atasannya sudah dibuka oleh Jaden dan dibuang entah ke mana kaos tidur Nara. Mereka saling membalas ciuman satu sama lainnya.


Hingga Jaden kembali merasakan hal yang sangat luar biasa di mana dia dulu pernah merasakan pertama kali, dan kali ini rasanya lebih luar biasa.


Nara yang tadinya sangat mengantuk harus benar-benar terbangun untuk mengimbangi suaminya yang begitu bersemangat.


"Terima kasih, Sayang," ucap Jaden parau sambil memeluk tubuh polos Nara yang berada tepat di atasnya.


Mereka beristirahat beberapa menit sampai akhirnya Naralah yang mengajak Jaden untuk mandi kemudian dia sekarang yang bersemangat untuk pergi berbulan madu.


"Kenapa? Ingin lagi?" tanya Jaden yang sekarang menggendong Nara membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku sudah tidak mengantuk dan aku penasaran dengan tempat yang kamu katakan indah itu."


Jaden tersenyum dan mereka mandi bersama, hanya mandi ya.


Nara dan Jaden sudah siap. Mereka memakai baju senada berwarna biru laut dan siap menuju dermaga di mana kapal yang membawa mereka sedang menunggu.


"Sayang, apa kamu yang akan mengemudikan sendiri kapal ini?"


"Tentu saja, kita akan berbulan madu, tidak mungkin aku akan membawa orang lain ikut."


Nara terkesiap melihat kapal fery yang akan membawa dirinya dan Jaden. "Memangnya kamu bisa mengemudikannya, Sayang?" Nara melihat seolah tidak yakin.


Jaden memberikan senyum lebarnya. "Bahkan aku bisa mengemudikan pesawat tempur, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2