Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Keputusan yang Diambil


__ADS_3

Jaden merasakan lembutnya bibir Nara bukannya senang malah menatap tajam pada Nara. Bahkan dia mendorong tubuh Nara menjauh darinya. "Pergi dari sini, Nara. Kamu jangan bodoh dengan menyerahkan diri kamu padaku!"


Nara tampak menangis melihat wajah Jaden yang seolah menahan rasa yang Nara sendiri tidak tau bagaimana itu, tapi Nara tidak tega melihatnya.


"Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Tuan. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk orang yang aku cintai." Nara membuka baju atasannya.


Jaden yang melihat hal itu benar-benar kaget, tangannya mencengkeram erat sprei tempat tidurmya, tapi dia tetap tidak bisa menahan reaksi obat yang dia sudah minum. "Sandra! Aku habisi kamu kalau sampai Nara membenciku." Jaden menarik tubuh Nara dan dengan liar dia menciumi Nara.


Gadis itu berderai air mata, bukan karena perlakuan Jaden, tapi dia merasa hal yang dilakukan seharusnya tidak dia lakukan, tapi dia tidak mau melihat pria dingin yang dia cintai sampai kenapa-napa.


Pergumulan di atas ranjang besar itupun terjadi. Jaden benar-benar tidak bisa menghentikan pergulatannya, dan Nara mengikuti semua apa yang Jaden lakukan padanya.


Nara yang sekarang berada di bawah tubuh Jaden tampak menatap kedua mata pria dingin yang sedang bermain-main di atasnya. Dengan meneteskan air mata Nara menahan rasa sakit pada pangkal pahanya. Jaden pun sedang menatap mata nanar Nara, hatinya rasanya sakit melihat tatapan mata Nara, tapi dia tidak bisa menghentikan gerakan naik turunnya pada tubuh gadis itu.


Hari ini Jaden benar-benar memiliki Nara seutuhnya, meskipun bukan dengan cara seperti ini yang mereka inginkan.


Perasaan Nara yang tadinya tidak karuan seketika lenyap diganti dengan perasaan lega saat tubuh pria di depannya jatuh tepat di sampingnya.


Nara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Nara melihat pria yang sudah mendapatkan hal yang selama ini dia pertahankan sedang tertidur pulas.


Nara yang terlihat kelelahan karena pergulatan mereka yang panjang akhirnya memilih menutup matanya juga.


***


Sinar matahari memasuki tirai kamar Jaden yang sedkit terbuka. Pria dengan tato di lengannya itu tampak terganggu dengan bunyi dari ponsel miliknya yang di letakkan di atas nakas samping ranjangnya.


"Siapa yang sudah mengganggu tidurku?" Tangan Jaden meraih ponsel dan melihat ada nama neneknya di sana.


"Halo, cucu kesayangan nenek. Sekarang nenek sudah berada di depan apartemen kamu, tapi sepertinya kamu tidak ada di sini."


"Apa?" Jaden langsung bangun dari tidurnya. "Nenek untuk apa datang ke apartemenku?"


"Untuk apa? Tentu saja untuk bertemu kamu dan nenek juga ingin sekali bertemu dengan Nara."

__ADS_1


"Nara?" Jaden baru teringat malam panas yang sudah dia dan Nara lakukan semalam. Dia langsung mengedarkan pandangannya mencari di mana gadis yang sudah menyelamatkan dia dari pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh Sandra.


"Nara, ke mana? Apa dia marah padaku dan pergi dari rumahku?" Jaden tampak panik.


"JL, kamu ini bicara apa? Kamu tidak mendengar nenek sedang bicara sama kamu?"


"Nek, nanti aku akan menghubungi nenek lagi. Sebaiknya nenek pulang saja."


"Memangnya ada apa? Kamu dan Nara ada di mana?"


"Nek, aku mohon, nanti aku akan menghubungi nenek dan kalau perlu aku akan datang ke rumah nenek."


"Dengan Nara?"


Jaden menarik napasnya panjang. "Iya, aku akan datang dengan Nara. Nenek puas?"


"Baiklah! Nenek akan menunggu kalian. Nenek saya kamu."


Langkahnya terhenti tatkala dia melihat sosok yang dicarinya berada di dapur sedang melakukan pekerjaannya seperti biasa Nara lakukan.


"Nara, apa yang kamu lakukan?" panggil Jaden.


"Aku sedang memasak untuk Tuan." Nara tidak menoleh sama sekali pada pria di belakangnya.


"Nara, apa kamu baik-baik saja," tanya Jaden lirih.


"Hem!" Nara hanya menjawab dengan deheman, tetap tanpa menoleh pada pria itu.


Jaden berjalan perlahan mendekati Nara dan membalikkan tubuh gadis itu. Sekarang Jaden dapat melihat mata Nara yang sembab.


Hati pria dingin itu seolah dicubit dengan keras melihat wajah sayu gadisnya.


"Tuan."

__ADS_1


Jaden dengan cepat menarik tubuh Nara d


ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Nara menangis dalam dekapan pria yang telah mengambil semua masa depannya.


Jaden pun tau bagaimana perasaan Nara sekarang. Jaden sangat merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan pada Nara walaupun sebenarnya bukan murni karena keinginannya.


"Menangis saja, Nara, atau kalau kamu ingin memukul bahkan memberi hukuman buatku, aku akan menerima semuanya." Jaden mengeratkan pelukannya.


Nara hanya terdiam. Perlahan tangannya terangkat dan memeluk pinggang Jaden dengan erat, terdengar tangisan Nara yang lebih keras.


Setelah beberapa menit Nara meluapkan tangisannya. Perlahan tidak lagi terdengar tangis Nara.


Jaden menarik tubuh Nara agar dapat melihat wajah gadis itu. "Nara, aku minta maaf dengan apa yang sudah terjadi dengan kita semalam." Tangan Jaden menelusup perlahan pada pipi Nara, dan mengusapnya lembut.


"Semua bukan salah, Tuan. Aku melakukannya juga karena keinginanku sendiri."


"Kamu melakukan karena kamu ingin menyelamatkan aku, Nara. Nara, aku tidak bisa memberi kebahagian untuk kamu. Jika kamu ingin aku bertanggung jawab untuk menikah kamu. Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Di dunia hitam yang aku jalani, aku memiliki banyak sekali musuh yang tidak hanya melukaiku, bahkan mereka tega melukai orang-orang terdekatku, dan aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu." Ibu jari Jaden mengusap perlahan bibir Nara.


"Apa Tuan sudah selesai bicara?"


"Nara, kalau kamu ingin pergi dariku saat ini. Aku akan membiarkannya. Aku akan memberi uang yang bisa kamu gunakan untuk menata masa depanmu. Pergilah sejauh mungkin ke tempat orang-orang yang tidak mengenalmu."


"Jika Tuan sudah selesai bicara, aku akan mengatakan sesuatu yang sudah aku putuskan. Aku tidak ingin pergi dari sini, dan aku tidak akan meminta pertanggung jawaban dari Tuan Jaden untuk menikahiku. Aku akan tetap menjadi pelayan Tuan di sini. Itu sudah cukup bagiku."


Entah apa yang ada dipikiran Nara. Dia ini memang bodoh atau gadis yang dibutakan oleh cinta yang baru pertama kali dalam hidupnya dia rasakan?


Jaden tercengang dengan apa yang baru saja Nara katakan.


"Apa kamu serius dengan yang kamu ucapkan Nara?"


Nara mengangguk perlahan. "Aku serius, Tuan. Sekarang Tuan Jaden mandi dan bersiap-siaplah. Aku akan mau menyiapkan sarapan pagi untuk Tuan." Nara berjalan perlahan pergi dari sana.


__ADS_1


__ADS_2