
Paijo sekarang bukan Paijo yang dulu. Dia benar-benar menjadi seorang pebisnis yang handal.
"Kamu apa cuma berbisnis restoran ini?"
"Tidak, Nara. Aku ada perusahaan juga, tapi sekarang ini masih diurus oleh asisten pribadiku. Aku masih mau di sini mencari ketenangan."
"Ketenangan? Memangnya kamu kenapa?"
Paijo menatap Nara datar, dan dia menghentikan langkahnya. "Ada apa, Jo?" Nara tau jika wajah Paijo seperti itu pasti dia ada masalah.
"Aku baru saja dikhianati oleh calon istriku, Nara."
"Apa? Kamu memiliki calon istri?"
"Iya, gadis pilihan aku sendiri. Pertemuan kita singkat dan aku kira dia gadis yang bisa membuat hidupku bahagia jika kita bersama. Aku melamarnya dan kurang sehari kita menikah, dia malah kepergok tidur dengan pria lain."
"Ya Tuhan!" Nara sampai menutup mulutnya.
"Padahal aku sudah sangat yakin dan percaya padanya, tapi dia mengkhianati kepercayaanku. Dia malah berselingkuh dengan kakak tirinya. Aku tidak mengira mereka ada hubungan sejauh ini, dan selama bersamanya aku sudah dibodohi"
"Kamu sabar ya, Jo. Lebih baik ketahuan sekarang, daripada nanti kalian sudah menikah. Hal itu pasti sangat menyakitkan." Nara mengelus-elus lengan tangan Paijo.
"Benar apa yang kamu katakan, tapi karena hal itu aku jadi takut percaya dan mencintai orang lain."
"Jangan begitu juga, Jo. Kamu harus bangkit dan move on. Tidak semua gadis seperti mantan kekasih kamu itu. Pasti suatu hari ada yang akan membuat kamu percaya cinta yang tulus."
"Memangnya ada? Rachel dan calon istriku dulu, mereka dua orang yang sama sekali tidak bisa dipercaya, dan kenapa mereka harus hadir di hidupku!"
"Untuk membuat kamu lebih kuat dan dengan begini kamu bisa belajar sesuatu untuk dapat mengenali dengan baik orang yang kamu cintai"
"Iya, dan sekarang yang membuat aku lebih pusing lagi. Ibuku menjodohkan aku dengan anak dari temannya waktu SMA dulu." Paijo menundukkan kepalanya.
"Apa? Kamu akan dijodohkan? Memangnya masih ada ya acara menjodohkan?"
"Buktinya aku, kalau aku tidak mau menerima ibuku tidak mau bicara denganku."
"Hahaha! Jadi ceritanya ini kamu kabur dari perjodohan itu?"
"Anggap saja seperti itu."
__ADS_1
"Kamu terima saja, Jo. Siapa tau gadis itu lebih baik dari dua gadis yang pernah kamu sukai itu."
"Aku tidak mau memikirkan. Membayangkan menikah dengan gadis yang tidak aku kenal saja sudah membuatku pusing."
"Tidak perlu dipikirkan. Ikuti saja jalan hidupmu seperti air."
"Hm!" Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Nara, kamu capek ya?" Paijo melihat wajah Nara yang berkeringat dahal udara di sana sejuk.
"Capek juga ternyata. Masih jauh ya?"
"Tidak terlalu, tapi memang kalau jalan begini ya terasa lama." Paijo meletakkan sepedanya dan dia malah dengan tanpa bertanya atau basa basi menggendong Nara dari depan.
"Jo! Kamu mau apa?"
"Aku tidak mau kamu tiba-tiba pingsan di sini. Terus kalau kamu sampai menggelinding ke bawah bagaimana?"
"Memangnya aku bola menggelinding?" Nara yang takut jatuh sampai mengalungkan kedua tangannya pada leher Paijo.
Paijo berjalan santai dengan Nara yang ada pada gendongannya. Sampai di restoran atas dia segera menurunkan Nara dan mengambil napasnya naik turun.
"Hamil? Aku tidak hamil, Jo." Nara teringat kembali dengan dirinya waktu hamil dulu dan dia berharap bisa kembali mengandung anak Jaden, tapi kalau dilihat keadaannya sekarang apa hal itu benar jika dia inginkan?
Nara mulai pekerjaannya hari ini. Dia menjadi kasir di sana. Nara tampak semangat memulai pekerjaannya hari ini.
Paijo di dalam ruangannya sedang mengamati Nara dari balik layar. "Entah kenapa aku tidak memiliki perasaan lebih sama kamu. Akan terasa berbeda jika aku mencintai kamu, Nara."
"Mba Nara ini kekasihnya Pak Joy ya?" tanya seorang gadis yang memakai bandana berwarna kuning pada kepalanya.
"Aku bukan pacar Paijo. Em! Maksud aku Jo. Kita ini sudah sahabatan lama, dan ternyata di sini tidak sengaja bertemu lagi."
"Tapi kenapa aku melihat kalian tampak sangat dekat sekali, bahkan tadi aku melihat Mba Nara di gendong oleh Pak Jo."
"Dia memang begitu orangnya, tapi kita tidak memiliki hubungan selain sahabatan." Nara sedang membantu mengelap meja karena dia tidak sedang berkutat dengan meja kasirnya.
"Mba, memang bisa ya kita bersahabatan cukup lama, tapi tidak memiliki perasaan sedikit pun dengan sahabat kita yang berbeda jenis?"
"Bisa, buktinya aku bisa dan Jo tidak memiliki perasaan apapun selama ini. Kita benar-benar hanya bersahabat."
__ADS_1
"Kalau Mba mungkin gak punya perasaan, kalau Pak Jo apa Mba tau perasaannya?"
"Dia sama denganku, Tami. Aku pasti tau jika Jo memiliki perasaan padaku. Eh, aku ke meja kasir dulu, lupa ada yang belum aku kerjakan."
Nara berlalu dari sana. "Persahabatan yang indah."
Di rumah sakit, Jaden dan Renata sedang menemani nenek yang lusa sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
"Nek, apa boleh aku izin tinggal di rumah nenek selama beberapa hari untuk menjaga dan merawat Nenek?"
Nenek Miranti melihat pada Jaden. Dia sebenarnya bingung antara memperbolehkan apa tidak karena di rumah tidak ada Nara.
"Kamu tinggal saja di rumah nenek tidak apa-apa. Aku nanti akan sering datang ke sana."
"Kamu mau ke mana, Jaden?"
"Aku akan tinggal di rumah di mana aku pertama kali bertemu dengan Nara. Ada banyak hal di sana yang bisa membuat aku tetap mengingat Nara, Nek. Jujur saja, beberapa hari ini aku tersiksa merindukan istriku, dan mungkin di sana aku bisa lebih tenang."
"Ya sudah kalau kamu menginginkan hal itu. Nenek tidak masalaha karena ada Renata di rumah. Iya, kan, Renata?"
"Oh iya," jawab Renata agak ragu.
"Kalau begitu aku mau pergi dulu, Nek. Aku mau mencari di mana Nara mungkin berada."
Jaden berjalan keluar dari ruangan nenek setelah mengecup pipi neneknya.
"Nek, aku mau bicara sebentar pada Jaden."
Renata mengejar Jaden sampai di depan ruangan pemeriksaa. "Ada apa Renata?"
"Si muka dingin." Renata dengan cepat memeluk Jaden. "Kamu jangan menyiksa diri kamu seperti ini. Aku sedih melihat kamu seperti ini." Renata tiba-tiba menangis.
"Apa maksud kamu?" Jaden melepaskan tangan Renata yang memelukmu.
"Soal Nara. Dia mungkin memang sudah tidak ingin kembali sama kamu. Jadi, kamu tidak perlu mencarinya terus, Jaden."
"Nara tidak ingin meninggalkan aku, tapi dia terpaksa melakukan ini dan kamu jangan membuat aku seolah berpikir Nara gadis yang tidak setia. Dia sangat mencintaiku."
"Kalau dia mencintai kamu, dia pasti akan kembali dan tidak takut dengan ancaman orang itu. Dia pasti tau jika suaminya adalah pria kuat dan tidak takut apapun."
__ADS_1