
Tangan Jaden terlihat mencengkeram erat pegangan kursi rodanya. Di dalam hatinya Nara tampak bingung dengan tatapan Jaden yang seolah ingin menelan Nara hidup-hidup.
"Leo, kamu jadi, kan, nanti malam berangkat?"
"Iya, Tuan, dan tadi aku memberikan pelukan selamat tinggal pada Nara, entah kenapa beberapa hari mengenal Nara dia adalah teman yang menyenangkan," kata Leo sembari melemparkan senyuman pada Nara.
"Tapi apa harus memeluk seperti itu?" celetuk Jaden.
Leo melihat mimik Jaden yang tidak biasa saat mengatakan hal itu. "Itu hanya pelukan persahabatan, Tuan."
"Pelukan lebih dari sahabat juga tidak apa-apa, Leo. Lagipula kalian berdua sama-sama sendiri, jadi tidak masalah, apalagi kalian terlihat cocok, sama-sama manis," terang Sandra.
"Mba Sandra dan Tuan JL juga cocok. Satunya dingin, satunya hangat."
Pria yang duduk di kursi roda itu secepat kilat mengarahkan pandangan tajamnya pada Nara. "Siapa kamu yang sudah berani memberi pendapat tentang diriku?"
Nara seketika mukanya tampak kaget dan ada rasa sakit sekali lagi di dalam hatinya mendengar ucapan Jaden.
"Ma-maaf Tuan." Nara menunduk.
Leo yang tau hati Nara pasti sedih mendengar hal itu menepuk perlahan pundak Nara. "Nara, mana nasi goreng buatan kamu? Aku mau mencobanya." Leo berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya Ampun! Aku belum memasak untuk Tuan Jaden."
"Kenapa tidak makan nasi goreng Nara saja, Nara sudah membuat banyak nasi goreng, dan tadi baunya harum sekali."
"Tapi Tuan JL belum boleh makan masakan yang banyak mengandung minyak seperti nasi goreng, jadi hari ini aku mau membuatkan sup saja."
"Aku belum lapar, nanti saja aku makannya. Kalau kalian ingin makan, makan saja dulu."
"Tapi Tuan harus minum obat," ucap Nara.
"Aku sudah baik-baik saja, kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Leo, ikut aku ke tempat kerjaku, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Baik, Tuan. Nara, kalau mau kamu sarapan dulu, tapi sisakan buatku ya." Nara mengangguk dengan tersenyum.
Leo mendorong kursi roda Jaden menuju ruang kerjanya. Di dapur Mba Sandra segera membuatkan sup untuk Jaden.
"Nara apa Jaden suka makan sup?"
"Sebenarnya Tuan Jaden tidak terlalu suka sup, tapi waktu itu aku membuatkan dan memaksanya makan. Dia mau akhirnya.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu buatkan supnya, tapi jangan bilang kalau kamu yang membuatkan. Kamu tau, kan, Nara, aku ingin dapat menarik hati Tuan Jaden yang benar-benar sudah mencuri hatiku. Aku jatuh cinta padanya."
Nara tambah merasa bersalah saat melihat wajah bahagia mba Sandra saat menceritakan tentang perasaannya. Di teringat tentang kejadian semalam dengan Jaden.
"Aku harus tau posisiku, dan aku tidak mau dicap sebagai pengkhianat," Nara berbicara lirih.
"Nara, kamu bicara apa? Ayo buatkan sup untuk Tuan Jaden, dan nanti akan aku siapkan untuknya."
"Iya, Mba."
Nara mulai memasak sup, dan Sandra hanya duduk dengan santai sambil berkutat dengan ponselnya.
Di dalam ruang kerjanya Jaden sedang memeriksa beberapa berkas yang kemarin Leo letakkan di sana.
"Leo, sepertinya ada kesalahan dengan laporan tentang club malamku yang di Miami. Kamu coba lihat." Jaden memberikan
dokumen pada Leo.
Leo membaca dengan teliti dan tampak kedua alis Leo mengkerut. "David, sepertinya mulai berulah, Tuan."
Terlukis senyum devil pada sudut bibir Jaden. "Sudah lama aku tidak bermain-main menembak buah apel yang diletakkan di atas kepala seseorang."
Leo tampak sudah tau arah bicara Tuannya itu. "Setelah urusan penjualan senjata Tuan, saya akan segera kirim David menemui Tuan Jaden."
Jaden kembali membaca beberapa laporan di sana. Tidak lama ponsel milik Jaden berdering, dan Jaden melihat ada nama nenek pada layar ponselnya.
"Halo, Nek, ada apa?"
"Syukurlah kalau kamu masih ingat dengan suara nenek. Nenek kira kamu lupa karena sudah lama tidak menghubungi nenek kamu."
"Nenek ini kenapa manja sekali, aku sedang sibuk sekali beberapa hari ini, Nek."
"Kamu itu memang pria yang dingin. Kasihan besok jika kamu mempunyai kekasih, kalau dia ingin manja sama kamu pasti kamu omeli dia."
"Kalau dia menyusahkan aku, aku akan ganti dia dengan wanita lainnya," celetuk Jaden.
"Dasar cucu nakal. Katakan pada nenek, kapan kamu pulang? Nenek ingin segera mengenalkan kamu pada cucu dari sahabat nenek."
"Aku mungkin akan sebulan lagi di sini kalau nenek terus memaksa untuk mengenalkan aku pada semua cucu sahabat nenek itu."
Wanita di seberang telepon itu tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia benar-benar ingin angkat tangan untuk menyakinkan cucunya agar mau berkenalan dengan cucu sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar membuat nenek bersedih saja, Jaden," terdengar suara lirih dan sedih dari neneknya.
Jaden yang mendengar suara neneknya seperti itu merasa bersalah. "Nenek tenang saja, nanti aku akan kenalkan seseorang pada nenek, nenek tunggu saja. Sekarang pekerjaanku sangat banyak dan aku tidak mau diganggu dulu, dan aku harap nenek mengerti."
"Kamu serius, cucuku?" Sekarang suara wanita tua itu terdengar bahagia.
"Iya nenekku yang sangat berharga dalam hidupku. Sekarang aku mau melanjutkan pekerjaanku."
"Ya sudah, nenek akan menunggu kamu dan calon cucu menantuku datang."
"Nenek jangan berharap terlalu tinggi dulu."
"Ya sudah terserah kamu. Kalau begitu kembalilah bekerja."
"Aku sayang nenek."
"Nenek juga sangat menyayangi kamu, Sayang."
Mereka mengakhiri panggilan. Jaden menghela napasnya panjang, dan Leo yang melihatnya ingin tertawa, tapi ditahannya.
"Kenapa nenek selalu membahas masalah ini? Aku malas sekali jika nenek memaksaku terus."
"Tuan, memangnya siapa yang ingin Tuan perkenalkan pada nenek seperti yang tadi Tuan janjikan pada nenek?"
Jaden menatap datar pada Leo. Jaden juga tidak tau siapa yang akan dia perkenalkan karena tadi dia hanya asal bicara saja.
"Aku tidak tau, aku mengatakan hal itu agar nenek tidak membahas tentang wanita dari cucu sahabatnya."
"Apa saya perlu carikan seseorang untuk berpura-pura menjadi wanita yang akan dikenalkan oleh nenek Tuan?"
Jaden terdiam sejenak, sebenarnya tidak ada rencana akan hal itu. "Aku masih belum memikirkan masalah itu, Leo. Sebaiknya nanti saja kita mengurusnya karena ada hal lebih penting dari hal itu yang lebih dulu kita selesaikan."
"Baik, Tuan."
"Leo." Jaden sekali lagi menatap pada Leo, tapi kali ini tatapannya agak berbeda.
"Ada apa, Tuan?"
"Apa benar kamu sama sekali tidak memiliki perasaan khusus kepada Nara?" Jaden menatap dengan tatap sangat ingin tau.
Leo menundukkan kepalanya sejenak, kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap Jaden dengan datar.
__ADS_1
"Nara gadis yang patut untuk dicintai bagi saya Tuan. Andai saya memiliki kesempatan untuk mencintai atau jatuh cinta pada Nara, maka kesempatan itu tidak akan saya sia-siakan."