
Leo mengeluarkan sesuatu dari dalam saku suite, dan dia memberikan pada Nara.
"Ini apa, Mas Leo?"
"Kamu buka saja, Nara. Aku membelinya waktu aku ke suatu tempat yang sangat indah dan aku tidak tau kenapa menyukainya."
"Lalu, kenapa diberikan padaku kalau Mas Leo menyukainya?"
"Aku berpikir jika itu lebih pantas jika kamu yang memilikinya. Ambilah, anggap saja sebagai hadiah dariku."
Nara membuka kotak kecil yang diberikan oleh Leo. Ternyata isinya sebuah pemantik api yang berbentuk boneka kayu lucu dengan ring yang dapat digunakan untuk gantungan kunci.
"Ini bagus sekali, Mas Leo. Bentuknya juga unik, terima kasih."
"Sama-sama. Aku harap kamu menyimpannya baik-baik, Nara."
"Pasti." Nara mendekap hadiah pemberian Leo dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Leo, aku berharap kamu dan Nara benar-benar berjodoh. Mereka cocok, kan, Tuan Jaden?" tanya Sandra.
"Sayangnya mereka tidak cocok. Leo pantas mendapat seseorang yang sejajar dengannya," ucap Jaden tegas sambil memandang Nara, dan lagi-lagi ucapan Jaden membuat hati Nara sangat sakit.
"Nara juga berhak mendapat pria yang lebih baik dariku yang bisa menyeimbangi dia. Iya, kan, Tuan?" Gantian Leo menatap Jaden dengan tatapan yang membuat Jaden tidak dapat menebak arti dari tatapan Leo.
Mobil yang mengantarkan Leo sudah datang dan Leo masuk ke dalam mobil. Nara melambaikan tangan pada Leo. Dalam hatinya Nara kenapa merasa sedih, seolah dia ditinggal oleh seseorang yang berharga dalam hidupnya.
"Tuan, aku mau masuk dulu untuk menyiapkan makan siang untuk Tuan JL."
Jaden tidak menjawab, Nara menganggap Jaden tidak ada yang dibutuhkan lagi dari Nara. Nara masuk ke dapur karena ingin membuatkan makan siang.
Setelah menyiapkan semua bahannya. Nara tampak berdiri terdiam di dekat wastafel, dia kemudian mencuci mukanya beberapa kali. "Aku tidak boleh terlihat sedih, aku harus kuat, semua yang Tuan dingin itu katakan memang benar. Aku hanya pelayan di sini dan tidak boleh bermimpi menjadi sesuatu yang besar. Coba mama dan papa masih ada, aku tidak akan mendapat hinaan seperti ini." Nara kembali menangis sampai duduk di bawah wastafel dengan kedua lututnya ditekuk.
Tangisan Nara terhenti saat mendengar bunyi telepon dari ponsel seseorang. Nara beranjak dari duduknya dan mencari asal bunyi itu.
"Ponsel Tuan JL berbunyi. Dari neneknya." Nara tampak bingung. Tidak lama bunyi itu berhenti dan tidak lama berbunyi lagi.
"Aku angkat apa tidak ya?" Nara berdialog dengan dirinya sendiri.
"Ha-halo," ucapnya lirih dan terdengar agak takut.
"Kamu siapa?" tanya nenek dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Nara, Nek. Sa-saya Nara. Ini neneknya Tuan JL?"
"Tuan JL? Siapa tuan JL?"
"Oh ... maksud saya, tuan Jaden Luther, Nek."
Terdengar tawa kecil dari seberang telepon. "Kamu itu lucu sekali, memangnya cucuku tidak marah kamu panggil dia dengan sebutan Tuan JL?"
"Tidak, Nek, bahkan kadang aku memanggilnya Tuan dingin jika sedang kesal padanya."
"Hah? Kesal? Kamu berani kesal pada cucu anehku itu?"
Gantian sekarang terdengar suara tawa Nara. "Nenek benar sekali jika Tuan JL itu memang aneh."
"Dia memang cucuku yang aneh, Nara." Nenek malah ikut tertawa juga.
"Maaf, Nek, Tuan JL sedang keluar dan ponselnya tertinggal di rumah. Apa ada yang bisa saya sampaikan nanti pada Tuan JL?"
"Nara, kamu itu siapa? Dan kenapa kamu memanggil cucuku dengan sebutan Tuan JL?"
"Sa-saya pelayan baru di rumah Tuan JL, Nek."
"Bi Ima sedang pergi pulang kampung selama beberapa hari, jadi saya yang menggantikan bekerja di sini."
"Usia kamu pasti masih muda, terdengar dari suara kamu. Kenapa kamu mau menjadi seorang pelayan?"
"Benar, Nek. Saya baru lulus sekolah SMA, dan saya butuh pekerjaan, jadi saya menerima pekerjaan ini."
"Apa nenek bisa melakukan video call sama kamu?"
"Untuk apa, Nek?"
"Nenek mau berkenalan dengan kamu?"
"Maaf, Nek untuk sekarang saya tidak bisa karena saya mau menyiapkan makan siang untuk Tuan Jaden karena sudah terlambat." Nara tidak mau kalau sampai nenek melihatnya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu segera siapkan saja makan siang untuk cucuku daripada nanti tanduknya keluar." Sekali lagi Nenek tertawa.
"Nenek ini bisa saja, masak tuan JL punya tanduk."
"Nara, nanti kalau Jaden datang suruh menghubungi nenek, ya?"
__ADS_1
"Iya, Nek."
"Kalau begitu sudah dulu. Senang berkenalan dan berbicara sama kamu, Sayang."
"Saya juga, Nek."
Mereka berdua mengakhiri panggilannya. Di tempatnya nenek Jaden tampak tersenyum bahagia. "Cucuku itu benar-benar suka membuat kejutan. Aku penasaran sekali dengan gadis bernama Nara itu. Dia harus memperkenalkan aku dengan gadis itu."
Sedangkan di luar Jaden kembali berlatih dengan Sandra setelah tadi beristirahat sebentar.
"Pemandangan di sini indah sekali ya, Tuan?" Sandra ternyata mengajak Jaden jalan-jalan agak jauh dari rumah.
"Di sini memang tempat yang sangat indah, apalagi jauh dari keramaian. Aku sangat menyukai tempat tenang seperti ini."
"Saya pasti akan betah tinggal di tempat ini, apalagi jika tinggal dengan orang yang kita cintai." Mata Sandra melirik pada Jaden yang melihatnya datar. Sandra kemudian duduk di atas pangkuan Jaden tanpa permisi. Jaden membiarkan saja. Dia ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Sandra ini.
"Tuan Jaden, apa kamu tidak kesepian tinggal di sini seorang diri?" Sandra mulai berani memainkan tangannya menyentuh rahang tegas pria yang terlihat dingin itu.
"Kesepian adalah temanku, jadi aku sudah biasa dengan kesepian."
"Memangnya kamu tidak ingin memiliki seseorang yang bisa menghangatkan ranjang kamu, Tuan Jaden?" Sekarang tangan Sandra melingkar pada leher Jaden. "Jujur saja, sejak pertama bertemu dengan kamu, aku sudah tertarik padamu, Tuan."
Jaden tersenyum miring. "Kamu tertarik karena apa yang aku miliki atau hal lainnya?"
"Semua yang ada pada diri kamu benar-benar seperti sihir yang membuatku ingin sekali lebih dekat denganmu."
Sandra menyapu jarak di antara mereka berdua. Wajahnya sangat dekat dengan wajah datar Jaden.
Kaki seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana tampak bergetar melihat apa yang akan terjadi dengan kedua orang itu.
Krak ...
"Ups!"
"Siapa itu?" suara tegas pria yang duduk di kursi roda itu berhasil membuat langkah Nara terhenti.
Nara membalikkan badan melihat pada Tuannya dan Sandra yang masih duduk di pangkuan Jaden. "Maaf, Tuan JL, aku tidak bermaksud mengganggu kalian tadinya, tapi aku ke sini untuk memberitahu jika makan siang sudah siap."
Wajah Sandra seketika tampak kesal karena Nara sudah mengganggu dirinya yang hampir saja berciuman dengan Jaden. Tangannya sampai mengepal erat menahan amarah.
"Gadis itu!" ucapnya marah
__ADS_1