
Nara mencoba menjelaskan pada Jaden jika hal itu wajar terjadi pada wanita yang sedang mengandung. Nara sudah banyak membaca artikel tentang wanita hamil.
Tubuh Nara tampak lemas setelah mengeluarkan isi perutnya. Jaden menggendong Nara dan membawanya kembali ke atas tempat tidur.
"Apa kamu mau sesuatu?" Nara mengangguk. "Kamu mau apa?"
"Aku ingin roti dan segelas jus jeruk "
Jaden mengerutkan kedua alisnya. "Roti dan jus jerukby? Baiklah, aku akan coba bertanya pada Cathy apa di sini ada yang kamu inginkan. Kamu tunggu sebentar."
Jaden keluar dan melihat Cathy sedang berdua dengan seorang pria di salah satu sudut meja di mini barnya. Di sana masih ada beberapa pengunjung yang menikmati minumannya.
"Cathy, bisa aku bicara sebentar?"
Cathy tampak pada Jaden dan dia bicara sebentar dengan pria yang ada bersamanya.
Cathy berjalan dengan wajah kesalnya pada Jaden. "Ada apa? Kamu membuat kekasihku marah saja. Dia mengira aku menyimpan pria lain di tempatku."
"Kalau kamu ada masalah sama dia, cari saja yang lainnya." Jaden malah bersikap seolah tidak punya salah.
"Apa kamu bilang? Seenaknya saja cari yang lainnya. Dia itu pria kaya dan sangat baik, jadi tidak boleh aku sia-siakan."
Jaden memutar bola matanya jengah. "Nara tadi muntah dan sekarang dia ingin roti dan jus jeruk. Apa kamu punya?"
"Hem! Wanitamu mulai cerewet sekarang. Aku tidak punya roti yang ada red wine kalau mau?"
"Dasar gila! Aku akan keluar untuk mencari roti dan jus jeruk untuk Nara. Tolong jaga dia, dia sedang beristirahat di kamar."
"Iya, kamu tenang saja."
Jaden memilih berjalan menyusuri beberapa toko di jalanan yang tampak mulai agak sepi. Beberapa menit dia masih melihat sebuah toko seperti supermarket masih buka.
"Roti, dan Jus jeruk." Jaden mengedarkan pandangannya dan akhirnya dia menemukannya.
Jaden mengambil semua satu persatu roti yang memiliki rasa dan merek yang berbeda karena dia tidak tau Nara suka yang mana. Kemudian ada sebotol orange jus dan dia mengambilnya.
Tidak lama ponsel Jaden berdering dan itu panggilan dari neneknya. "Halo, Nek, ada apa?"
__ADS_1
"Sayang, kamu belum tidur? Bukannya di sana sudah tengah malam?"
"Aku tidak bisa tidur. Nara tadi sakit dia muntah-muntah."
"Jadi Nara sudah bersama dengan kamu? Lalu, bagaimana dengan Calos dan Jacob?"
"Aku membawa Nara tanpa izin mereka. Aku tidak peduli, asal Nara sudah bersamaku."
Nenek di seberang telepon tampak terdiam. "Nara memang lebih baik bersama dengan orang yang dia cintai"
"Nara tadi terlihat pucat dan sekarang dia minta untuk dibelikan roti dan jus jeruk."
Tiba-tiba terdengar kekehan keras dari seberang telepon. Jaden yang mendengar tawa neneknya mengerutkan alisnya.
"Kenapa nenek malah tertawa? Ada yang lucu?"
"Tentu saja ada yang lucu. Kamu yang biasanya dingin dan kaku. Sekarang malah menurut dengan gadis yang kamu cintai itu."
"Sama seperti mendiang kakek, dan sekarang aku tau kenapa kakek pernah mengatakan hati-hati dengan jatuh cinta. Bisa-bisa membuat kita menjadi orang lain."
"Apa itu mengidam?"
"Itu hal yang selalu terjadi pada wanita hamil. Dia pasti banyak minta ini itu, tapi sebenarnya bukan dia yang ingin, tapi bayi dalam perutnya karena mereka sedang rewelnya menyersuaikan makanan yang ingin dia rasakan."
"Jadi bayiku bisa bicara dalam perut?"
"Ya seperti itulah, tapi dia bicara hanya dengan ibunya saja. Intinya seperti itu."
"Aku tadi sudah membawa Nara ke rumah sakit, tapi aku belum bisa melihat si mafia kecilku itu karena kandungan Nara masih terlalu kecil."
"Tentu saja belum bisa, tunggu beberapa Minggu lagi, dan soal muntah-muntah itu hal seperti itu wajar terjadi. Kamu jangan panik."
"Iya, nanti aku akan bertanya pada nenek lagi. Sekarang aku mau kembali dan memberikan roti untuk Nara."
"Iya, nenek juga mau menyuruh pelayan di sini untuk menyiapkan kamar untuk calon cucu menantu nenek saat datang nanti."
"Terima kasih, Nek. Nenek sangat baik dengan Nara."
__ADS_1
"Bagaimanapun kalian berdua orang yang baik, dan nenek sayang dengan kalian berdua. Sampaikan salam sayang nenek untuk Nara."
"Iya, Nek. Wanita tua, aku sangat mencintaimu." Jaden menutup panggilannya.
"Hem! Dasar cucu nakal. Tidak terasa sebentar lagi anak yang sudah kamu rawat dan tau bagaimana membalas Budi itu akan memberikan kita cicit yang lucu, dan aku harap anak Jaden bisa sekuat Jaden dan memiliki hati sebaik Nara," Nenek berdialog sendiri.
Setelah membayar belanjaannya, Jaden berjalan menuju mini bar Cathy. Di tengah perjalanan dia melewati sebuah toko baju yang sudah tutup, hanya ada manekin di depan jendela kaca besar yang tampak jelas.
Jaden tersenyu melihat manekin seorang anak kecil dengan baju casualnya dan tangannya menggandeng sebuah manekin pria dewasa dan mereka dipakaikan baju dengan warna senada, bahkan motifnya pun sama.
"Aku akan menggandeng putraku terus seperti itu dan dia tidak akan aku biarkan di sakiti siapapun."
Jaden kembali melanjutkan perjalanan. Saat hampir sampai di mini bar milik Cathy langkah Jaden terhenti karena melihat ada pecahan kaca yang tersebar di luar mini bar milik Cathy.
Perasaan Jaden tiba-tiba tidak enak. Dia segera berlari dan matanya membulat lebar tatkala melihat keadaan mini bar Cathy yang berantakan. Jaden sampai membuat barang belanjaannya dan segera masuk ke dalam kamar mencari Nara.
"Nara ... Nara ...! Jaden berteriak memanggil gadisnya itu, tapi tidak ada jawaban.
Cathy yang ternyata berada di dalam kamar mencari ponselnya mendengar teriakan Jaden.
"Oh Tuhan! Aku tadi ingin menghubungi kamu, tapi ponselku tertinggal di kamar."
"Cathy kamu baik-baik saja?" Jaden melihat wajah Cathy yang agak lebam dan dahinya mengeluarkan darah.
"Aku tidak apa-apa, Jade, tapi orang-orang ayahmu membawa Nara pergi. Aku yang ingin menghalangi, tapi aku terlalu lemah untuk mereka para pria yang jumlahnya terlalu banyak."
"Brengsek!" Jaden mengepalkan erat tangannya. Jaden mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tuan Jaden, ada apa?"
"Suruh orang-orangmu yang ada di sini pergi ke rumah keluarga Thomson sekarang!"
"Apa ada masalah, Tuan Jaden?"
"Jangan banyak tanya Leo!" Jaden memutuskan panggilannya. "Aku akan menemui mereka dulu dan aku akan membawa Naraku pulang."
"Jaden, kamu jangan ke sana sendirian, akan sangat berbahaya nantinya." Cathy menahan tangan Jaden.
__ADS_1