
Jaden kembali melanjutkan makannya dan nenek cantik itu tetap saja tidak menyentuh piringnya.
"Kamu kenapa akhirnya memutuskan untuk tinggal dengan nenek? Padahal selama ini kamu sama sekali tidak tertarik menginap di rumah. Nara sekarang ada di mana? Apa dia pergi dari rumah kamu karena masalah wanita yang ada di pesta ulang tahun kamu?"
"Aku dan Nara memang tidak ada hubungan apa-apa, Nek, dan aku membebaskan Nara pergi ke tempat yang dia inginkan."
"Kamu bohong. Nenek tau jika kalian saling mencintai. Apa perlu nenek bantu untuk bicara dengan Ayah dan mama kamu?"
"Nek, apa Nenek ingin mengetahui suatu kebenaran?"
"Kebenaran? Tentang apa?" Tatap wanita itu serius.
"Nara sekarang berada di rumah Tuan Carlos di Kanada."
"Apa? Bagaimana bisa?" Sekali lagi wanita tua itu terkejut.
Jaden menceritakan semuanya, dia juga mengatakan jika Jacob menyukai Nara, dan kenapa dia harus melupakan Nara.
"Jadi, Nara adalah gadis kecil yang sudah di selamatkan oleh Jacob waktu terjadi kecelakaan itu?"
"Iya, dan Nara membenciku karena aku yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal."
Nenek menghela napasnya pelan. "Kenapa semua jadi begini? Dan kenapa harus kamu yang menyebabkan kedua orang tua Nara kecelakaan?" Tangan wanita itu memegang dadanya. Jaden yang melihat hal itu seketika panik. Dia takut neneknya kenapa-napa.
"Nenek jangan terlalu memikirkan hal ini. Aku bisa terima jika Nara dengan Jacob karena aku yakin Jacob akan bisa membuat Nara bahagia dan terutama dia akan aman bersama dengan keluarga Thomson.
"Lalu, bagaimana dengan perasaan Nara? Apa dia menyukai Jacob?"
Kedua mata Jaden menatap lekat pada neneknya. "Perlahan-lahan, Nara akan dapat membuka hatinya untuk Jacob.
Wanita cantik itu seketika berdiri dari tempatnya. "Nenek mau menemui ayah dan mama kamu di Kanada. Nenek juga ingin bertanya pada Nara siapa yang dia cintai. Semua ini tidak bisa dibiarkan Jaden. Walaupun Jacob cucu kandung nenek, tapi semua ini salah. Kasihan Nara jika harus terpaksa bersama dengan Jacob, sedangkan dia mencintai kamu, Jaden."
"Sudahlah, Nek. Apa Nenek mau Nara hidupnya dalam bahaya terus jika bersamaku. Nenek saja dulu hampir terbunuh karena musuh kakek."
"Tapi Nenek bisa selamat, dan itu semua karena ayah kamu yang pemberani. Nenek yakin jika kamu akan dapat melindungi Nara."
"Nek, aku minta kita tidak perlu membahas ini lagi. Biarkan Nara menjalani hidupnya dengan tentram bersama Jacob."
"Lalu, kamu?"
Jaden melihat pada neneknya. "Aku akan tetap menjadi Jaden Luther, cucu Nenek yang nenek sangat sayangi." Jaden kembali melanjutkan makannya.
Sekali lagi wanita paruh baya itu memegangi dadanya. "Nek, aku akan mengantar Nenek ke dokter." Jaden meletakkan sendoknya dan beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Nenek baik-baik saja, Jaden. Kamu jangan Khawatir."
Jaden tidak menjawab dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Will, Nenekku merasakan sakit pada dadanya."
"Aku akan memberitahu dokter Areta agar ke rumah kamu sekarang."
"Terima kasih."
"Jaden tunggu! Aku mau tanya soal Nara."
"Ada apa? Nara sudah tidak tinggal di rumahku."
"Hah? Kamu membebaskan, Nara atau membunuhnya?"
"Dia aku lepaskan. Will, cepat hubungi dokter tadi, dan jangan bertanya soal Nara lagi." Jaden mematikan panggilannya.
"Kamu itu, Nenek sudah bilang kalau Nenek baik-baik saja."
"Aku harus memastikannya."
Tidak lama ponsel Jaden berdering dan ada nama Jacob pada layar ponselnya. "Halo, Jacob."
"Jaden, tolong kamu lebih perketat penjagaan di mini bar milik kekasih kamu itu agar tidak ada orang-orang seenaknya yang bisa mengganggu orang lain di sana," terang Jacob marah.
"Tunggu sebentar! Maksud kamu apa?"
"Apa?" Seketika darah Jaden mendidih. "Siapa orang yang berani mengganggu Nara?"
"Aku tidak tau, kamu mulai sekarang lebih ketatkan saja penjagaan di sana."
"Aku akan segera mengurusnya."
"Baiklah!"
Jacob mematikan panggilan teleponnya. Jaden tampak mengeratkan kepalan tangannya menahan amarah.
"Sayang, ada apa? Kenapa Jacob menghubungi kamu?"
Jaden menceritakan apa yang terjadi pada Nara di mini bar milik Cathy. "Aku akan pergi Kanada untuk memberi pria itu pelajaran."
"Kamu yakin mau kembali Ke Kanada?"
Jaden seketika terdiam di tempatnya. Tatapan pada neneknya sulit diartikan. "Jaden mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Cathy, siapa yang sudah mencari masalah denganku? Siapa pria itu?"
"Ayolah, Jaden! Aku sudah mengurusnya. Dia tidak tau tentang Nara, dia memang suka membuat ulah jika sedang tidak sadarkan diri."
"Tapi dia berani menyentuh, Nara. Katakan saja siapa dia, atau aku akan mencarinya sendiri."
"Ayolah, Jade! Jangan bersikap arogan. Dia tidak akan berani menyentuh Nara lagi."
"Aku akan mencarinya sendiri." Jaden mematikan panggilannya.
Nenek yang di sana melihat hanya bisa menghela napasnya pelan. Miranti seolah melihat sosok mendiang suaminya pada diri Jaden. Jaden memang benar bukan cucu kandungnya, tapi entah kenapa Miranti merasa memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan pria dingin itu.
"Nek, aku akan ke ruang kerjaku sebentar. Nanti kalau dokter itu datang, suruh maid memberitahuku." Nenek Miranti memberi anggukan pelan.
Jaden dengan langkah besarnya menuju ke ruang kerja milik mendiang kakeknya. Di sana dia tampak seolah ingin menenangkan sesuatu yang ingin meledak di dalam hatinya.
Jaden rasanya kesal membayangkan Nara digoda oleh pria yang diceritakan oleh Jacob barusan.
"Argh ...!"
Semua benda di atas meja kerjanya jatuh berserakan dan menimbulkan suara yang gaduh.
"Nyonya, Tuan Muda kenapa?" tanya salah satu maid yang sedang membersihkan meja makan.
"Biarkan saja, nanti kamu tinggal merapikan. Cucuku itu sedang kesal akan suatu hal," ucap wanita cantik itu santai sambil menyeruput teh hangatnya.
Jaden mengambil ponselnya dan dia ragu-ragu saat ingin menekan tombol memanggil.
Prak!
Sekarang terdengar suara benda hancur. Apa lagi kalau bukan ponsel milik Jaden yang dia lempar pada dinding ruang kerja itu.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Jaden membukanya dan ternyata salah satu maid di sana memberitahu jika dokter sudah datang.
"Aku akan segera ke sana."
Jaden keluar dan menuju ruang di mana neneknya diperiksa oleh dokter yang dikirim oleh Will.
"Ponselnya tidak aktif. Apa dia memang sudah tidak mau dihubungi?" Nara mendekap ponselnya bersandar pada daun pintu kamarnya.
Di dalam kamar. Nenek Jaden sedang diperiksa oleh dokter cantik yang adalah dokter yang menangani nenek Miranti waktu itu.
"Aku baik-baik saja, Kan, Dok?"
__ADS_1
Senyum terlihat dari bibir mungil dokter yang usianya sebaya dengan Jaden.
"Nenek baik, tapi tekanan darah Nenek tidak baik. Kenapa suka sekali membuat diri sendiri sakit?"