Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Rasanya Menonton Bioskop


__ADS_3

Pria itu bicara mendekat pada Nara, dan apa yang diucapkan pria itu benar-benar membuat Nara kaget.


Plak ...


Tamparan keras mendarat tepat pada pipi pria yang bagi Nara tidak sopan itu. "Jaga bicara kamu! Meskipun kamu memiliki uang dan kamu masih muda atau apalah yang kamu katakan itu, tapi bagiku kamu menjijikan."


Jaden berjalan dengan aura dingin yang mengikuti langkah pria itu. Sebuah cengkraman erat tepat pada pundak pria itu dan membuat pria itu merasakan tulang pundaknya yang seolah hancur.


"Sakit ... tolong lepaskan."


"Tuan, jangan." Nara mencoba melepaskan cengkraman tangan Jaden pada pundak pria itu.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada gadisku? Berani sekali kamu mencari masalah dengannya!"


"Gadis kamu, bukannya dia hanya sugar baby kamu?"


"Apa kamu bilang? Sugar baby? Dia bukan gadis seperti itu. Jadi jaga bicara kamu!"


"Tuan ada apa?"


"Tidak perlu, aku bisa membereskannya sendiri. Kalian keluar saja."


Nara sekali lagi mencoba membuat Jaden agar tidak marah di sana. "Tuan JL, aku mohon jangan seperti ini, kita sedang di tempat umum," bisik Nara.


Jaden melihat pada Nara. "Kalau begitu aku akan urus dia di tempat lain." Nara melihat wajah Tuan JLnya tersenyum menakutkan.


"Kalau kamu tidak mau melepaskan dia, aku akan pergi dari rumah. Aku tidak peduli kamu membunuhku," ucap Nara pelan.


Jaden sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nara. Jaden diancam oleh gadisnya sendiri.


Jaden melepaskan tangannya pada pundak pria itu. Tidak lama terlihat tubuh pria itu jatuh tersungkur dengan keras di lantai karena dipukul oleh Jaden dengan sangat keras, bahkan pria itu sampai pingsan.


Pihak keamanan toko itu yang ingin melerai perkelahian ditahan oleh pengawal Jaden.


"Jadilah pria yang bisa menghargai seorang wanita, atau lebih baik kamu pergi jauh-jauh dari kota ini karena aku mungkin akan mencari kamu."


Jaden menggandeng tangan Nara dan membawanya pergi dari sana. Jaden berjalan dengan tegas dan diikuti oleh para pengawalnya di belakang.


Nara tidak berani mengatakan apa-apa karena dia melihat wajah pria yang menggandeng tangannya wajahnya tampak marah.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam gedung bioskop dan ternyata salah satu pengawal Jaden sudah ada di sana.


"Tuan silakan." Seorang wanita cantik pegawai gedung bioskop itu mempersilakan Jaden dan Nara masuk ke salah satu teater.


"Kita kenapa langsung masuk saja? Aku belum memilih kita mau nonton film apa?" Nara yang belum selesai bicara malah di tarik masuk ke dalam ruang teater satu.


"Kamu akan melihat semua film yang akan tayang di bioskop hari ini."


"Apa? Tapi kenapa semua? Biasanya salah satu?"


"Biar kamu lebih puas, bukannya kamu tidak pernah nonton bioskop? Sekarang kamu puaskan diri kamu melihat film di sini. Kita mau duduk mana?"


Nara memilih tempat duduk di bagian tengah. Lalu Jaden meminta Nara memilih film yang ingin dia lihat. Nara memilih film dengan genre komedi romantis. Setelah tadi dia mengalami hal menegangkan dia ingin melihat film yang bisa membuatnya ketawa.


Nara duduk berdua dengan Jaden dan film pun di putar. Ada seorang pegawai bioskop memberikan pop corn dan minuman ringan untuk Nara.


Nara tampak sangat senang dan benar-benar bahagia karena dia sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya nonton bioskop.


"Tuan JL. Kenapa di sini sepi ya? Dan kenapa aku baru sadar?" Nara melihat di dalam ruangan itu hanya dia dan Jaden.


"Tentu saja sepi karena aku sudah menyewa tempat ini khusus hanya untuk kita berdua, sampai pagi?"


"Hah? Apa? Menyewa sampai?" Nara seolah mau pingsan saja. Apa Jaden mau mengajak Nara begadang di dalam gedung bioskop?


Nara menggeleng. "Aku kan memang tidak pernah nonton Tuan JL."


"Ya sudah sekarang kamu tonton sampai habis film di sini." Jaden kembali menyandarkan punggungnya pada kursi di sana sambil menikmati popcorn.


Nara hanya terdiam di tempatnya. Jaden yang melihatnya tampak heran. "Kamu kenapa?"


"Tidak enak nonton berdua seolah aku tidak sedang di gedung bioskop tapi di rumah nonton televisi sendirian."


"Oh God! Jika aku tidak men--." Jaden menghentikan ucapannya.


"Kenapa?" tanya Nara penasaran.


Jaden tidak menjawab dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tidak lama dari pintu masuk datang beberapa pengawal Jaden.


"Kalian ikut aku dan Nara menonton bioskop seperti pada umumnya. Cari tempat duduk kalian masing-masing dan ambil popcorn kalian juga."

__ADS_1


Nara mendelikkan kedua matanya melihat hal itu. Pria ini benar-benar membuat Nara terkejut saja akan tingkahnya.


"Sekarang kita akan menonton. Kamu puas?" tanya Jaden menekankan kata-katanya.


Nara mengangguk saja karena dia tidak mungkin cerewet lagi dari pada nanti dia dicekik Jaden


Film komedi romantis yang dari tadi sudah diputar akhirnya ditonton oleh Nara. Nara tampak tertawa bahagia melihat adegan film yang baginya sangat lucu. Nara tertawa dengan lepasnya.


Jaden malah beberapa kali menguap karena dia sama sekali tidak suka melihat film komedi. Dia lebih senang melihat film action.


"Bisa diganti tidak filmnya. Jangan komedi."


"Kenapa diganti?"


Sekarang film horor diputar oleh mereka. Nara langsung menjerit ketakutan saat pertama main filmnya sudah menunjukkan si mba kunti ketawa dengan girangnya.


"Lucu dan bodoh sekali wanita itu. Apa yang dia ketawakan?"


Nara di sampingnya malah menutup mata. "Dia itu hantu Tuan aneh, dia ketawa untuk menakuti manusia."


"Kamu itu yang aneh. Kenapa hanya setan bohongan seperti itu saja takut."


"Bukan hanya manusia yang takut sama tuan dingin itu. Mungkin setan juga takut kalau ketemu dia," gerutu Nara.


"Kalau terus menggerutu aku cium kamu di sini," ucap Jaden tanpa melihat pada Nara.


Nara seketika terdiam dan menutup matanya dengan tangannya. Dia benar-benar tidak suka film horor yang menakutkan seperti ini.


"Mau duduk di pangkuanku agar kamu tidak takut. Kalau mau duduk sini."


"Tidak mau! Kamu malah lebih menakutkan kalau aku duduk di pangkuan kamu."


Jaden malah tersenyum kecil mendengar ucapan Nara.


Pertengahan film horor Nara yang masih menutup kedua matanya meminta untuk diganti saja filmnya dengan film romantis


Awal film mereka sudah disuguhi adegan dua orang sedang bercinta di atas rooftop. Nara langsung menutup kedua matanya dengan tangannya.


"Jangan ditutup matanya." Jaden menarik tangan Nara agar tidak menutupi matanya.

__ADS_1


"Aku tidak mau melihatnya!" seru Nara mempertahankan tangannya yang menutup matanya.


"Kamu itu bukan akan kecil lagi. Lagi pula hal itu baik untuk kamu tonton. Nanti bisa kita praktekkan di tempatku," bisik Jaden pada telinga Nara.


__ADS_2