Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pertengkaran


__ADS_3

Nara berjalan perlahan menuju ruang acara lagi setelah menenangkan dirinya di dalam toilet.


Nara memikirkan kata-kata wanita yang ditemuinya tadi, dan saat dia mencari sosok Jaden. Nara amat terkejut melihat Jaden dengan wanita yang tadi mengancamnya.


"Ternyata, Tuan Jaden mengenal wanita itu dan mereka terlihat sangat dekat." Nara melihat tangan Mauren bergelayut mesra pada leher Jaden.


Nara tidak tau jika Mauren sedang mengancam Jaden. Mauren akan membuat Nara menderita jika masih tetap menginginkan dekat dengan Jaden. Jaden tau sifat wanita yang dulu pernah dekat dengannya. Mauren memiliki kekuasaan begitu besar, dia bisa melukai Nara karena Mauren adalah adik dari musuh Jaden, yaitu Damian--seorang mafia yang terkenal licik.


Dulu Damian dan Jaden adalah rekan bisnis di dunia hitam, tapi Damian yang sangat haus akan kekuasaan malah berbuat licik pada Jaden dengan mengambil diam-diam daerah kekuasaan Jaden. Mauren kala itu sudah menjalin hubungan dengan Jaden, tapi akhirnya Jaden memutuskan hubungan dengan Mauren karena wanit cantik dan ambisiu itu ternyata juga menginginkan adik Jaden, yaitu Jacob. Jacob yang tidak tau jika wanita cantik yang menggodanya adalah kekasih kakaknya malah ingin menikahinya.


"Nek, aku permisi pulang dulu," ucap Nara dengan terbata.


"Nara, kamu kenapa?" Nenek Miranti tampak melihat cemas pada Nara.


"Aku tidak apa-apa, Nek, hanya saja aku mau istirahat di rumah. Badanku tiba-tiba tidak enak."


"Apa kamu tiba-tiba demam?" tangan wanita cantik itu menyentuh lembut dahi Nara. "Kamu tidak panas."


Bukan tubuhnya yang sakit, Nek, tapi hatinya. "Aku tidak demam, tapi memang badanku rasanya tidak enak."


"Mungkin kamu kecapekan. Apa cucuku itu banyak menyuruh kamu melakukan pekerjaan? Kalau iya, nanti nenek akan beritahu agar dia mencari pelayan baru. Kamu tinggal saja di rumah nenek."


Nar menggeleng. "Tuan tidak banyak menyuruhku melakukan pekerjaan, dia sangat baik. Nek, apa boleh aku permisi dulu."


"Nara, katakan pada Nenek, ada apa sebenarnya?" Wanita ini terlihat curiga dengan perubahan sikap Nara yang tiba-tiba ingin pulang.


"Tidak ada apa-apa, Nek. Aku benar baik-baik saja." Nara hatinya sudah ingin menangis saja, tapi dia tidak mungkin menangis di sini.


"Ya sudah, Nenek akan mencari di mana Jaden, biar dia mengantar kamu pulang."

__ADS_1


"Tidak perlu, Nek. Aku saja yang menghubungi Tuan Jaden untuk mengantar aku pulang. Nara permisi dulu, Nara senang berkenalan dengan Nenek." Nara mengecup punggung tangan Nenek Miranti.


Wanita cantik itu memeluk Nara dengan hangat. "Nenek juga senang berkenalan sama kamu, kalau Tuan JL kamu membuat kamu bersedih, kamu jangan takut untuk mengatakan pada Nenek."


Nara hanya mengangguk dan Nara berjalan agak cepat menuju pintu keluar. Nenek Miranti tau jika ada yang disembunyikan oleh Nara.


Kedua mata wanita itu mengedar ke setiap tempat dan akhirnya dia menemukan sosok yang dia cari. "Cucuku, jadi ini yang membuat Nara tadi terlihat aneh. Huft! Gadis itu sangat mencintai cucuku, dan sepertinya anak nakal itu juga menyukai Nara. Buktinya dia berani membawa Nara menemuiku, walaupun sebenarnya ancamanku tidak terlalu penting baginya. Cucuku itu memang mengesalkan." Miranti hanya bersedekap melihat cucunya masih dengan Mauren.


Nenek Miranti tidak tau jika dulu Jaden menjalin hubungan dengan Mauren. Jaden benar-benar menyembunyikan hubungannya dengan Mauren.


"Lepaskan tangan kamu, Mauren. Aku peringatkan! Jangan kamu berani menyentuh Nara. Dia tidak ada hubungan apa-apa denganku. Dia hanya pelayan di rumahku dan dia bukan gadis yang aku maksud."


"Sayang, kamu tidak bisa membohongi aku. Gadis itu juga sudah aku peringatkan agar tidak bermimpi memiliki kamu." Mauren hendak mencium bibir Jaden, tapi tiba-tiba ponsel Jaden berbunyi.


Jaden menolak ciuman Mauren dan melihat nama Nara pada layar ponselnya. Jaden memilih menjauh dari Mauren dan menjawab panggilan Nara.


"Apa? Kamu kenapa?"


"Tunggu aku di sana." Jaden berjalan menuju mobilnya dan melihat Nara sudah ada di sana.


"Kenapa mau pulang? Acara nenek belum selesai."


"Badanku tidak enak, Tuan, aku juga sudah berpamitan dengan nenek."


Jaden mendekatkan tangannya pada dahi Nara, tapi gadis itu malah mundur ke belakang. "Kita pulang saja, tolong buka pintunya."


Jaden tidak menjawab dan dia mengikuti apa yang diminta gadis itu. Nara masuk ke dalam mobil dan Jaden memberi perintah pada pengawalnya agar memastikan tidak ada yang mengikuti mobil mereka sampai rumah. Jaden waspada karena tidak mau Mauren sampai mengetahui di mana dia tinggal sekarang.


Dalam perjalanan menuju rumahnya, Nara tidak bicara sedikit pun dengan Jaden. Pria dingin itu juga tidak mengeluarkan kata-kata walau sekadar bertanya ada apa dengan Nara?

__ADS_1


Mereka sampai di depan rumah. Nara tanpa mengatakan apapun langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Jaden memeriksa sekitar rumahnya dan merasa aman. Dia masuk ke rumah dan melihat Nara yang berada di dapur sedang mengambil air minum.


"Tuan, aku permisi mau istirahat dulu."


"Nara, tunggu!" Jaden menahan tangan Nara.


"Ada apa? Apa Tuan memerlukan bantuanku?"


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, Tuan." Nara mencoba melepaskan tangannya, tapi Jaden malah menggenggamnya erat.


"Jangan bohong!" seru Jaden cepat.


"Aku tidak apa-apa, Tuan lepaskan tanganku." Nara masih mencoba melepaskan tangannya.


Jaden tidak melepaskan, tambah sekarang menarik tangan Nara dan menggendongnya ala karung beras.


Nara berontak, tapi pria itu tidak peduli. Dia membawa Nara masuk ke dalam kamarnya dan menaruh perlahan di atas tempat tidurnya.


"Tuan ini mau apa? Aku mau istirahat di kamarku." Nara berdiri dan mau berjalan menuju kamarnya, tapi lagi-lagi tangan Jaden menahannya melingkar pada perut Nara.


"Apa ini tentang Mauren? Apa saja yang dia katakan sama kamu?" Jaden memeluk Nara dari belakang.


Nara membalikkan badannya. "Tidak ada. Lagi pula siapa aku yang harus peduli dengan hubungan Tuan dengan wanita itu? Aku hanya seorang pelayan yang sangat bodoh jatuh cinta pada majikannya yang ternyata memang tidak pernah memiliki perasaan apa-apa padaku. Sekarang aku tau kenapa Tuan tidak mau mencintaiku, itu semua karena Tuan memiliki kekasih yang sangat Tuan sayangi. Tuan hanya mencari alasan dengan mengatakan jika Tuan tidak mau aku dalam bahaya jika aku menjadi kekasih, Tuan. Kenapa harus membohongiku seperti ini?" Nara menangis.


"Aku tidak berbohong padamu, Nara."


"Pembohong! Katakan saja sebenarnya, kalau memang Tuan sudah memiliki kekasih yang sangat Tuan cintai." Mata Nara menatap nanar pada Jaden.

__ADS_1


Jaden yang tidak sanggup melihat wajah sedih Nara mengecup lembut bibir Nara.


"Jangan melakukan hal ini lagi padaku, Tuan." Nara mendorong tubuh Jaden. "Cium saja kekasih Tuan yang sangat Tuan cintai itu."


__ADS_2