
Nara menceritakan tentang pria yang menghubungi dirinya dan dia sudah menceritakan pada Leo.
"Apa kamu mengenali suaranya?"
"Aku tidak mengenali suaranya, Sayang."
"Apa saja yang dia katakan sama kamu?"
"Dia bilang bisa membebaskan kamu asal aku--." Nara terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.
"Asal kamu apa?" Jaden melihat curiga pada istrinya. "Nara, jangan sembunyikan apapun dariku." Jaden memegang tangan Nara dan menatap istrinya serius.
"Dia bisa membebaskan kamu asal aku pergi jauh dari hidup kamu selamanya."
"Apa? Brengsek! Akan aku habisi jika aku tau siapa pria itu" Tangan Jaden mengepal dengan erat.
"Kamu tidak perlu memikirkannya, aku tidak akan melakukan hal itu." Nara mencoba menenangkan Jaden.
"Iya, Jaden. Nenek percaya jika Nara tidak akan mendengarkan ucapan pria misterius itu dan Leo akan segera membuat kamu keluar dari tempat ini."
"Aku tau itu, Nek." Jaden memeluk Nara dan mengecup kening istrinya.
Nara berada di sana sampai jam berkunjung habis. Mereka harus kembali ke tempat mereka.
Beberapa hari berlalu dan sampailah pada proses persidangan. Ternyata keluarga pria yang meninggal di dalam penjara itu memberi saksi jika mereka pernah mendengar suaminya sedang berbicara dengan seseorang dan memanggilnya Jaden Luther. Bahkan istri dari pria itu berteriak marah pada Jaden karena dia sudah membunuh suaminya.
Di sana juga bibi dan paman Nara menyalahkan Jaden yang sudah menyuruh orang untuk membunuh Mona--putrinya.
Persidangan ditunda karena terjadi keributan di dalamnya.
"Mas Leo, bagaimana ini? Apa suamiku tidak akan bisa di bebaskan?" Nara bertanya dengan cemas.
"Terlalu banyak bukti dan saksi yang memberatkan Tuan Jaden Nara. Aku sendiri belum menemukan apapun yang dapat membantu kita," ucap Leo sedih.
Nenek Miranti yang berada di sana langsung duduk dan memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Nek, Nenek tidak apa-apa?" Nara dan Leo sama-sama bertanya dengan cemas.
__ADS_1
Wanita tua itu tidak menjawab, hanya memberikan isyarat lewat gelengan kepalanya.
"Mas Leo, antarkan aku ke rumah sakit Dokter Will. Nenek harus segera di tangani. Aku tidak mau kalau sampai Nenek kenapa-napa."
"Nenek tidak apa-apa, Nara."
"Jangan bicara seperti itu, Nek. Wajah Nenek sudah pucat sekali. Mas Leo!" teriak Nara.
"Iya, Nara, aku sedang menghubungi dokter Will." Leo yang tidak dapat menghubungi Will karena panggilannya sibuk segera menggendong tubuh Nenek ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil Nenek jatuh pingsan, tentu saja hal itu membuat Nara semakin cemas.
Leo segera mengemudikan mobil dengan agak cepat agar sampai di rumah sakit. Sesampai di sana nenek langsung di bawa ke UGD. Will yang melihat Nara langsung berlari mengikuti Nara.
"Nara, ada apa?"
"Dokter Will sepertinya jantung nenek kembali sakit."
"Oh Tuhan! Lalu, bagaimana dengan persidangan hari ini?"
"Aku minta maaf tidak dapat menemani kalian di sana tadi karena ada pasien yang harus aku tangani."
"Tidak apa-apa, Dokter Will. Aku tau tugas Dokter juga sangat penting untuk menolong nyawa seseorang."
Mereka menunggu di luar ruangan di mana nenek sedang diperiksa. Tidak lama dokter cantik yang menangani Nenek selama ini keluar dari ruangan dengan wajah yang Nara tau akan ada berita buruk yang akan di sampaikan.
"Dok Areta, bagaimana dengan keadaan nenekku?"
"Nara, keadaan nenek sedang tidak baik. Beliau mengalami koma."
"Apa?" Mereka bertiga tampak terkejut.
"Areta, lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Will.
"Aku akan terus memantau perkembangannya. Semoga saja keadaan ini bisa segera teratasi. Nenek mengalami keterkejutan yang teramat dan hingga dia sampai tidak sadar begini. Jika dia tidak sadar dalam beberapa hari ini, mungkin kita akan kehilangan dia untuk selamanya."
"Tidak, nenek tidak boleh pergi. Nenek mungkin berpikir suamiku tidak akan bisa bebas. Bagaimanapun nenek sangat menyayangi suamiku." Tubuh Nara melorot ke lantai dan dia menangis dengan keras. Dokter Areta yang berada di sana langsung memeluk Nara.
__ADS_1
"Leo, kamu harus memberitahu Jaden tentang masalah ini. Aku nanti akan ke sana untuk mengunjungi Jaden."
Malam ini Nara bermalam di rumah sakit untuk menunggu nenek. Nara berdiri di depan jendela kaca besar di mana dia dapat melihat nenek dari balik kaca besar itu. Nara terlihat meneteskan matanya memandangi tubuh nenek yang penuh dengan alat medis menancap pada tubuhnya.
"Kenapa nenek seperti ini? Aku tidak tau harus mengadu pada siapa tentang apa yang aku rasakan saat ini?"
Nara sendiri di sana karena Leo masih berada di tempat Jaden untuk membicarakan masalah ini. Dokter Will pun yang sedang tidak bertugas ikut dengan Leo.
Tidak lama ponsel Nara berdering dan lagi-lagi tidak ada nomor pemanggil di sana.
"Halo," ucap Nara serak karena habis menangis.
"Halo, Nara. Bagaimana melalui hari-hari kamu tanpa ditemani oleh pria yang sangat kamu cintai?"
"Apa maumu? Kenapa kamu sangat jahat seperti ini? Nenekku sekarang koma dan semua ini salah kamu!" Nara berteriak marah di telepon.
"Ini semua salah suami kamu yang seorang mafia brengsek itu, tapi aku tidak bodoh mencari cara agar dia menderita."
"Hentikan semua ini. Bebaskan suamiku dari segala tuduhan yang tidak pernah dia lakukan."
"Aku sudah memberi kamu penawaran yang bagus waktu itu dan kamu tidak menerimanya, ya sudah aku akan semakin membuat suami kamu menderita, bahkan aku ada bukti yang benar-benar membuat suami kamu akan membusuk di dalam penjara."
"Apa maksud kamu?"
"Ada surat yang di tulis oleh Mona sebelum dia meninggal. Di mana dia menuliskan jika dia pernah diancam oleh salah satu anak buah Jaden Luther akan di bunuh, dan Mona ketakutan dan menulis surat itu. Bagaimana jika surat itu sampai ke tangan pihak kepolisian. Jaden tamat, Nara." Pria itu tertawa dengan kerasnya di telepon.
Nara semakin pedih mendengarkan apa yang dikatakan pria itu. "Apa kamu akan membuat Jaden terbebas jika aku mau meninggalkan Jaden untuk selamanya?" Nara mengatakan hal itu dengan bibir bergetar.
"Tentu saja, Nara. Akan aku buat suami kamu terbebas dari tuduhan itu."
"Beri aku waktu, aku minta tolong sama kamu." Nara menangis.
"Waktu? Aku bisa memberi kamu waktu, tapi persidangan tidak Nara."
Nara tampak terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu. Nara melihat pada nenek yang sedang terbaring di tempatnya. Mungkin nyawa nenek akan bisa selamat jika Jaden dapat menemuinya di sini. Nenek menginginkan cucu kesayangannya.
"Berpikirlah sampai esok hari Nara, tapi aku sarankan ambilah keputusan dengan lebih cepat karena mungkin akan baik untuk Jaden dan nenek kamu." Pria itu mematikan panggilannya.
__ADS_1