
Nara tampak serius bicara dengan Leo, dan tampak wajah sedih Nara dengan meneteskan air mata bicara dengan Leo. Entah apa yang mereka bicarakan, Nara seolah terlihat sangat sedih.
Leo mengambil sapu tangan pada sakunya dan mengusap perlahan air mata Nara yang menetes pada pipinya.
"Kamu kenapa, Nara?" tanya Jaden yang berdiri di samping Leo.
"Tuan JL." Leo yang akan beranjak dari kursinya ditahan pundaknya oleh Jaden. Jaden tidak mempermasalahkan Leo yang duduk di sana.
Tangan Jaden mengusap lembut pucuk kepala Nara. "Apa kamu mau sesuatu?"
Nara menggeleng perlahan. "Aku tidak mau apa-apa." Dia menarik selimutnya dan memeluk selimutnya erat.
"Apa mau makan sesuatu? Aku akan menyuapi kamu kalau mau?" celetuk Leo.
Jaden langsung melirik pada Leo. Leo pura-pura tidak melihat lirikan mata Jaden.
"Aku tidak mau apa-apa. Mas Leo, jangan pergi dari sini. Tetap di sini dulu sampai aku tertidur."
Leo baru melihat pada Jaden. Jaden yang sebenarnya sudah kesal harus melihat istrinya lebih senang sama asisten pribadinya ketimbang dirinya mencoba menahan marahnya. Dia ingat ucapan nenek tentang keadaan Nara yang saat ini.
Jaden mengangguk perlahan memberi isyarat agar mengiyakan ucapan Nara.
"Iya, kamu tenang saja. Aku akan di sini sampai kamu tidur.".
Nara kemudian perlahan memejamkan kedua matanya dan terlelap dalam tidurnya.
"Kasihan sekali dengan Nara," tutur Leo.
"Apa maksud kamu? Tadi dia juga menangis kenapa?" tanya Jaden.
Leo beranjak dari tempatnya dan berdiri agak jauh dari tempat tidur Nara.
"Dia menangis karena teringat dengan mama dan papanya. Apa lagi sekarang dia lagi hamil. Dia berharap ada yang menemaninya di saat menghadapi hal seperti ini."
"Benar kata nenek. Nara masih sangat muda dan dia harus menghadapi semua dengan kuat sendirian. Apa lagi dulu sikapku juga sangat keterlaluan dengannya, dan sekarang dia harus mengandung anakku yang pasti dia sangat kaget dengan perubahan yang ada pada dirinya."
__ADS_1
"Tuan benar-benar harus ekstra sabar menghadapi Nara."
"Aku sudah sangat sabar, sampai aku harus menahan tidak memukul kamu saat melihat terlalu dekat dengan calon istriku." Jaden berseidekap dan wajah Leo tampak tersenyum aneh.
"Inikan bukan keinginan saya, Tuan JL. Nara yang sepertinya mengidam ingin dekat denganku karena mungkin dia lebih nyaman.".
"Iya aku tau, tapi kamu jangan memanfaatkan keadaan Nara seperti ini untuk terlalu dekat dengan Nara, atau aku tidak akan bisa menahan kesabaran lagi," ancam Jaden.
"Saya tidak akan berani melakukan hal itu, Tuan Jaden. Bagaimanapun juga saya sangat menghormati Nara. Dia sudah aku anggap sebagai adik saya sendiri."
"Bagus kalau begitu. Sekarang kamu boleh pulang dan aku akan menjaga Nara di sini."
"Pulang? Tapi kalau Nara pas bangun dan mencari saya bagaimana, Tuan?"
Tangan Jaden menepuk pundak Leo beberapa kali. "Kamu tenang saja, Leo. Aku akan mencari alasan yang tepat."
Leo akhirnya memutuskan untuk pulang dan membiarkan Jaden menunggu Nara di sana.
Jaden yang sudah sendiri di dalam kamar melihat dalam wajah gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta, bahkan dia akan menikahinya.
"Ck! Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis keras kepala dan menjengkelkan seperti dia? Aku sama sekali tidak bisa membayangkan menikah dengan kamu dan aku pastinya akan membawa kamu dalam banyak bahaya, Nara." Jaden seketika wajahnya berubah aneh dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku akan berusaha membahagiakan kamu dan bayi kita. Tidak akan aku biarkan orang lain melukai kalian berdua."
Jaden akhirnya berbaring di ranjang sebelah Nara yang memang dikhususkan untuk penjaga pasien di sana.
***
Pagi itu Nara yang sudah bangun melihat sekitarnya dan tampak sepi. Kemudian dia menoleh ke samping dan melihat pria yang dia sukai ada sedang pulas tertidur.
"Dia menungguiku di sini. Lihat saja! Wajahnya yang tampan dan dulu sangat aku kagumi itu, kenapa sekarang aku seolah-olah suka kesal sama dia?" Nara berdialog sendiri.
Nara kemudian teringat tentang wanita kemarin yang sepertinya kenal dengan Tuan JLnya.
Wanita itu cantik sekali, dan di mana Tuan JL mengenal wanita itu? Huft! Kenapa juga memiliki kekasih yang banyak di kelilingi wanita cantik. Waktu itu mba Sandra, Mauren dan sekarang ada lagi,entah siapa namanya?"
__ADS_1
"Nara mencoba bangun dari tempat tidurnya dan ingin buang air kecil." Nara mencoba turun sendiri
Tiba-tiba tubuh Nara yang memang tidak enak membuat dirinya tidak seimbang. "Tuan JL!" teriaknya, tapi Nara tidak sampai jatuh karena ternyata calon suaminya itu terbangun dan langsung berlari menangkap tubuh Nara.
"Oh Tuhan! Kamu tidak apa-apa, Nara?"
"Tuan JL, aku tidak apa-apa, tadi aku mau ke kamar kecil dan aku melihat kamu yang pulas tertidur tidak berani membangunkan kamu, makannya aku ingin berusaha sendiri ke kamar mandi."
Jaden memejamkan kedua matanya mencoba menahan tidak marah. "Bangunkan saja aku, Nara. Kalau ada apa-apa sama kamu bagaimana? Sekarang aku akan mengantar kamu ke kamar mandi."
Jaden menggendong Nara dan Nara yang mendorong tiang selang infusnya. Jaden juga ikut ke kamar mandi dan membantu Nara. Mereka berdua sudah tidak canggung lagi.
Setelah selesai Nara kembali dibawa Jaden ke atas tempat tidurnya.
"Apa kamu mau sesuatu?"
Nara menggelengkan kepalanya perlahan. Nara menarik tangan Jaden dan menyuruhnya duduk di atas ranjang menemani Nara. Jaden duduk dan menyandarkan kepala Nara pada dadanya.
"Tumben sekali hari ini tidak kesal padaku? Anakku mulai sadar siapa ayahnya," celetuk Jaden.
"Tidak mau aku bersikap begini? Kalau tidak mau ya sudah!" Nara yang akan menari tangannya langsung di tahan oleh Jaden.
"Aku hanya bercanda, Sayang." Jaden mengecup dahi Nara.
"Tuan JL, apa boleh aku bertanya sesuatu sama kamu?"
"Tentu saja, kamu mau tanya apa?"
"Siapa wanita yang kemarin menyapa kamu waktu di ruang dokter Stella?"
"Dia Renata. Aku baru bertemu dengannya lagi waktu aku berkunjung di pemakaman kakekku."
Ingat pada saat Jaden ingin menemui Nara di Kanada dia pergi dulu ke makam kakeknya dan berbicara dengan kakeknya di sana. Saat itu huja deras dan ada seseorang yang memberi payung pada Jaden. Seseorang itu adalah Renata yang ternyata juga sedang berada di makam kakeknya.
"Jadi kamu Jaden Luther anak angkat keluarga Thomson?"
__ADS_1
"Kamu siapa? Dan kenapa kamu bisa mengenalku?"
"Perkenalkan, namaku Renata cucu dari Gilbert Alfin sahabat dari mendiang kakek kamu." Tangan wanita itu menjulur mengajak Jaden berjabat tangan. Jaden hanya melihat pada tangan wanita itu.