Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Bertemu Paman dan Bibi Nara


__ADS_3

Gadis yang di tabrak oleh Jaden itu tidak beranjak dari tempatnya, dia malah masih mengagumi sosok Jaden.


"Pria itu tampan sekali dan pasti dia sangat kaya. Andai saja aku bisa menjadi kekasihnya, pasti kehidupan aku akan sangat bahagia. Apa yang aku minta akan di turuti olehnya."


Jaden di mejanya kembali duduk dan dia mengajak neneknya untuk bersulang. "Jaden, apa kamu tidak mau malam ini menginap di rumah nenek? Bukannya besok kamu libur bekerja?"


"Aku akan menemani nenek di rumah."


Tampak senyuman menghiasi wajah wanita tua yang masih terlihat cantik itu. Tangannya mengusap lembut tangan cucu kesayangannya.


"Mama, tadi aku bertemu seorang di kamar mandi. Dia seorang pria tampan, mapan, dan sepertinya kaya raya."


"Kamu jangan pernah tertipu penampilan seseorang yang baru kamu kenal. Siapa tau dia hanya penampilannya yang terlihat seperti orang kaya, tapi nyatanya miskin," ucap wanita di depannya dengan wajah ketus.


"Tapi sepertinya dia beneran pria kaya dan berkelas."


"Benar apa kata mama kamu, Mona, jangan. tertipu dengan penampilan seseorang. Lagipula, kalau dia pria kaya raya dan tadi kamu bilang berkelas, dia tidak akan mau makan di restoran kecil seperti ini."


"Aku serius, Ayah," tekannya. Tidak lama matanya mengedar ke segala restoran. "Mama, Ayah! Itu pria yang aku ceritakan barusan. Lihat saja dia dan penampilannya." Jari telunjuk gadis itu menunjuk pada meja Jaden dan neneknya.


"Tuan Muda Jaden Luther? Dia ada di sini? Bukannya dia mengatakan jika dia akan pergi ke San Fransisco?" ucapnya lirih


"Ayah! Ayah kenal sama dia?"


"I-iya, dia rekan kerja ayah, dan dia memang orang yang sangat kaya raya. Dia pemilik salah satu perusahaan terbesar di kota ini."


"Benarkan? Kalau begitu ayah kenalkan aku dengan dia. Siapa tau dia menyukaiku dan aku bisa menjadikan dia kekasihku."


"Iya, walaupun usinya sudah tua di atas Mona, kalau dia kaya raya tidak masalah, Sayang."


"Iya, Yah. Lihat saja tampangnya, dia sangat tampan sekali dan gagah, dia adalah pria yang aku impikan."


"Kakak bukannya mau kuliah dulu? Kenapa malah memikirkan tentang pacaran?" celetuk gadis kecil yang sangat di sayangi Nara itu.


"Hei, anak kecil! Kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan orang dewasa. Kamu diam saja dan habiskan es Cream kamu."

__ADS_1


"Coba ada Kak Nara. Dia pasti yang diinginkan setelah lulus sekolah, yaitu kuliah."


"Kamu diam saja, Lisa," ucap wanita yang adalah mamanya Lisa.


"Aku rindu Kak Nara, kenapa Kak Nara harus tinggal dengan saudara ayah di kampung? Kenapa tidak ikut kita saja, Yah?" cerocos gadis kecil itu.


"Huft! Ayah itu sudah menjelaskan sama kamu bahwa Nara tidak bisa tinggal dengan kita karena ayah dan mama harus menekan pengeluaran kita. Kamu mau tidak bisa sekolah karena ayah harus membiayai kuliah Nara?"


"Kak Nara tidak meminta dibiayai kuliah oleh Ayah. Kak Nara akan mencari pekerjaan dan dia akan berusaha membiayai kuliahnya sendiri," terang gadis kecil itu.


"Sudah kamu diam, Lisa!" bentak Mona. "Ayah, ayo kenalkan aku pada pria itu. Aku benar-benar ingin berkenalan dengan Jaden.


Soraya dan Mona sudah tau jika Nara sudah di jual pada seorang pria untuk dijadikan pengasuh di luar negeri untuk membayar hutang-hutang mereka, dan mereka tidak peduli akan hidup Nara.


"Selamat malam, Tuan Muda Jaden," sapa seseorang dari arah belakang nenek Miranti.


Jaden menatap siapa orang yang berani mengganggu acara makan malamnya.


"Sayang, mereka siapa?" tanya nenek Miranti.


"Mereka kenalanku, Nek. Kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Jaden dengan suara datarnya.


"Katakan kamu ada perlu apa? Kalau tidak ada yang penting, aku tidak suka diganggu acara makan malamku," sekali lagi ucapan Jaden datar dan dingin.


"Jaden, kamu jangan berkata seperti itu. Tentu saja kalian tidak mengganggu makan malam kami. Perkenalkan nama saya Miranti dan saya adalah nenek Jaden." Tangan wanita itu mengulur mengajak Paman dan bibi Nara berjabatan tangan.


Mereka saling berkenalan satu persatu. Mona yang melihat Jaden tampak terpesona sekali lagi, tapi Jaden sama sekali tidak terlihat manis sama sekali.


"Senang bisa berkenalan dengan Nyonya Miranti." Paman Nara tampak sangat sopan, beda sekali dengan tingkah lakunya pada Nara.


"Saya dan Jaden sedang merayakan hari ulang tahun saya yang sebenarnya tidak perlu dirayakan karena sudah tua juga." Nenek Miranti tersenyum malu.


"Jadi Nenek Miranti hari ini berulang tahun? Selamat ya, Nek. Semoga Nenek sehat selalu dan diberi umur panjang." Mona tampak sedang berusaha mencari muka. Dia bukan tipe orang yang peduli dengan orang lain. Dia hanya peduli dengan dirinya sendiri dan penampilannya.


"Terima kasih, kamu cantik sekali."

__ADS_1


"Terima kasih Nyonya Miranti. Mona memang anak saya yang cantik dan dia adalah anak yang pintar, dan dia baru lulus sekolah dengan nilai yang bagus." Bohongnya Bibi Nara membanggakan putrinya.


"Masih pintar kak Nara yang bisa segalanya," celetuk Lisa yang ada di samping Mona.


"Lisa!" Tangan Mona menutup mulut Lisa.


"Siapa, Nara?" tanya Nenek Miranti yang membuat Jaden tampak terkejut. Benu yang mengetahui wajah Jaden yang berubah seketika agak takut.


"Nara itu keponakan saya yang dulu tinggal bersama saya dan keluarga, tapi dia sudah pindah dan ikut saudara saya di kampung, Nyonya Miranti."


"Oh ... begitu. Kalian kalau mau ikut saja bergabung bersama dengan kita di sini. Saya akan memesankan beberapa makanan lagi."


"Aku--."


"Mereka tidak akan bergabung dengan kita, Nek karena mereka sudah selesai makannya dan Paman Benu ke sini hanya ingin menyapaku saja. Benarkan Paman Benu?" Jaden menatap Paman Benu dengan tatapan tajam.


Bahkan Jaden tadi langsung memotong ucapan Mona yang Jaden tau arahnya.


"Jaden!" seru Nenek pelan.


"Aku ingin merayakan hari ini hanya berdua dengan nenek dan tidak mau di ganggu." Sekali lagi Jaden seperti menekankan sesuatu.


"Ayah, biarkan Om itu dan neneknya berdua. Aku mau pulang, aku sudah mengantuk," rengek Lisa.


Jaden melihat pada Lisa dan tersenyum kecil secara samar.


"Iya, kalau begitu saya dan keluarga mohon permisi dulu."


"Pak Benu, kapan-kapan saya ingin mengundang kalian makan bersama di rumahku. Apa kalian mau?"


"Tentu saja kami dengan senang hati akan menerimanya."


"Terima kasih atas undangannya. Saya akan menunggunya Nyonya Miranti," lanjut mama Lisa.


"Kalau begitu saya dan keluarga permisi dulu." Mereka berempat pergi dari restoran itu.

__ADS_1


Jaden dan neneknya kembali duduk di kursi mereka. Jaden tampak meneguk red winenya sampai habis.


,


__ADS_2