
Jaden mengangkat dagu Nara sehingga dia dapat melihat wajah sembab Nara.
"Aku akan membebaskan kamu, tapi dengan syarat kamu harus menutup mulut kamu dengan apa yang kamu lihat. Jangan pernah ikut campur atau bahkan mendekati aku lagi." Jaden melepaskan dagu Nara.
"Dari dulu kamu sudah membebaskan aku," ucap Nara lirih.
"Pengawalku akan mengantar kamu pergi dari sini dan kembali ke restoran kamu dengan aman. Pergilah!" bentak Jaden.
Nara menatap wajah Jaden selama beberapa detik dan dia juga memegang perutnya. Nara berharap Jaden ingat akan dirinya dan dia pasti akan senang mengetahui jika Nara hamil anaknya, tapi hal itu untuk saat ini tidaklah mungkin.
"Maaf, sudah mengganggu hidup kamu, Tuan JL."
Nara berjalan menuju pintu kamar Jaden. Jaden yang melihat punggung Nara seketika tampak puzzle yang tidak beraturan ada di atas kepalanya. Jaden mengerang kesakitan sampai Nara membalikkan badan dan melihat pria yang dia cintai itu tertunduk di bawah.
"Jaden!" teriak Nara menolongnya.
Nara yang panik mencoba menghubungi Will dari ponsel Jaden. Will agak kaget mendengar suara Nara. "Apa yang kamu lakukan dengan Jaden?"
"Tolong Dokter Will. Dokter ke sini. Jaden dan aku berada di rumah persembunyian Jaden. Jaden pingsan."
"Nara, kamu tidak seharusnya mengingatkan dia tentang masa lalunya, apa kamu tau hal itu bisa sangat membahayakan nyawa Jaden?"
"Aku tau, Dok, tapi aku hanya ingin dia mengingatku sebagai istrinya. Aku sudah mengambil pilihan salah dengan meninggalkannya."
"Kamu tidak salah, Leo sudah cerita padaku. Kamu sangat mencintai Jaden dan tidak ingin dia terluka. Nara, untuk saat ini jauhi Jaden dulu. Bawa dia ke rumah sakit sekaranga."
Nara memerintahkan kepala pengawal Jaden untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit di mana Jaden dirawat, tapi Nara tidak ikut ke sana.
Nara memilih menjauhi Jaden dulu. Nenek di beritahu Will jika Jaden ada di rumah sakit, tapi Will tidak mengatakan jika Nara lah yang mengantar Jaden ke sana.
"Will, bagaimana keadaan cucuku?"
"Jaden tidak apa-apa, Nek, tapi dia masih harus di rawat di sini dulu sampai benar-benar pulih."
"Dokter Will, bagaimana Jaden bisa ke sini? Apa ada seseorang yang mengantarkan? Leo mana?" tatap Renata curiga.
"Jaden merasakan kepalanya pusing dan dia menghubungiku. Aku menyuruh untuk pengawalnya mengantar ke sini secepatnya." Will terpaksa berbohong.
Hampir dua hari Jaden dirawat di sana. Leo pun juga ikut menemani. Renata juga bertanya pada Leo apa Jaden bertemu dengan Nara? Tapi Leo mengatakan jika Tuan Jaden tidak bertemu dengan Nara.
__ADS_1
Hampir dua hari Jaden dirawat di rumah sakit. Jaden tampak lebih pendiam sekarang.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya nenek.
"Tidak ada, Nek," jawab Jaden singkat.
"Apa kamu memikirkan soal Nara? Kamu lupakan saja dia yang mengaku sebagai istri kamu karena jika dia istri kamu, dia tidak akan meninggalkan kamu. Kamu tidak kenal Nara, Jaden."
Jaden menatap Nenek lekat. "Nek, aku sendiri tidak percaya pada mereka yang mengatakan jika Nara adalah istriku."
"Jaden, bagaimana jika kamu membuka hati es batu kamu itu untuk dekat dengan orang lain."
"Maksud, Nenek?"
"Kamu menikahlah dengan seseorang agar hidup kamu lebih sempurna."
"Menikah?"
"Iya, menikahlah. Ada seseorang yang mencintai kamu dan dijodohkan oleh mendiang kakek kamu dengan kamu dulu, Jaden."
"Siapa? Oh! Renata maksud Nenek?"
Wanita tua itu mengangguk perlahan. "Iya, menikahlah dengan Renata. Dia mencintaimu dan dulu mendiang kakek kamu ingin kamu bisa bersama Renata."
Tangan wanita tua itu memegang tangan cucunya. "Nenek tau, tapi cobalah membuat hidup kamu lebih sempurna. Apa kamu tidak ingin menikah dan memiliki seorang anak?"
"Anak?" Jaden tampak berpikir.
"Iya. Jaden, nenek sangat menyayangi kamu. Nenek ingin kamu bahagia."
"Nenek sudah tau, kan, jika aku tidak ingin menikah dengan siapapun? Hidupku sudah bahagia seperti ini."
"Sampai kapan?"
"Sampai ingatanku kembali. Aku ingin tau tentang wanita bernama Nara yang mengaku menjadi istriku."
Nenek seketika membulatkan kedua matanya. "Apa kamu bertemu dengan Nara?" Jaden terdiam. "Jaden, jawab Nenek?"
"Iya. Dia bilang jika dia adalah istriku dan Nenek tidak menjawab pertanyaanku dengan jelas."
__ADS_1
"Apa kamu percaya pada apa yang dikatakan wanita itu?"
"Aku tidak tau, Nek. Aku tidak ingin percaya, tapi kenapa hati kecilku mengatakan apa yang dikatakan Nara benar. Nek, katakan sejujurnya apa benar aku dan Nara adalah suami istri?"
Nenek Miranti terdiam. "Nenek tidak bisa menjawab, berarti dia memang istriku."
"Iya, tapi dia sudah meninggalkan kamu untuk pria lain."
"Apa?" Jaden benar-benar terkejut. "Aku menikah dengan Nara? Tapi bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Kamu bertemu dengan Nara dan kalian saling mencintai, tapi Nara pergi dengan pria lain. Ini buktinya." Nenek Miranti menunjukkan bukti foto Nara dengan Paijo yang memang saat itu sedang berpelukan.
"Ini bos Nara di restoran itu," ucap Jaden lirih.
"Dia meninggalkan kamu dengan alasan ingin menyelamatkan kamu dari musuhmu yang ingin kamu dan dia pisah, tapi ternyata dia malah dekat dengan seseorang. Nenek juga tidak menyangka jika Nara akan berbuat hal itu, tapi itulah kenyataannya."
Jaden tidak menjawab, hanya mengeratkan tangannya menggenggam sprei kamarnya dengan erat dan menahan marah.
Nara tampak banyak diam juga di tempat kerjanya. Tami yang melihat tampak bingung dan kasihan.
"Mba Nara kenapa? Mikirin Pak Jo ya?"
"Siapa yang memikirkan Paijo, Tam?"
"Mba Nara itu hebat."
"Hebat dari mananya?"
"Hebat, dari semua karyawan di sini , hanya Mba Nara yang memanggil Pak Jo seenaknya. Orang ganteng dan kharismatik begitu dipanggil Paijo." Tami terkekeh.
"Paijo itu sebenarnya kesal aku panggil begitu, tapi aku tidak peduli. Eh! Akhirnya dia yang menyerah, dan membiarkan aku memanggilnya begitu."
"Tapi kalian lucu juga ya, senang melihat kalian berdua. Kenapa Mba Nara dan Pak Jo tidak menikah saja?"
"Benar apa yang dikatakan oleh gadis manis ini. Kalian harusnya menikah saja dan tidak perlu membahayakan nyawa Jaden," suara seseorang tiba-tiba dari arah belakang Tami.
"Renata?" Nara agak kaget melihat Renata di sana.
"Kamu siapa? Apa kamu temannya Mba Nara?" tanya Tami yang melihat penampilan Renata yang sekarang mirip Mauren dari ujung kaki sampai ujung rambut. Renata berpenampilan beda dari saat dia menjadi gadis yang menyenangkan.
__ADS_1
"Iya, aku teman baik Nara. Iya,kan, Nara?" tanya Renata sambil bersidekap, dan menatap Nara tajam.
"Ada apa kamu ke sini? Dan maaf kalau aku meralat ucapan kamu yang mengatakan kita berteman baik karena kita bukan teman baik, Renata," Nara menekankan ucapannya.