
Perut Nara sudah diolesi dengan gel kemudian alat USG itu di letakkan di atas perut Nara.
Jantung Jaden berdetak sangat kencang seolah dia gugup akan bertemu dengan seseorang yang dia cintai.
"Wah! Ini sudah terlihat."
"Mana?" tanya Jaden cepat dengan mendekatkan wajahnya pada layar monitor di depannya.
"Ini, Pak Jaden." Telunjuk dokter itu menunjuk pada gambar di layar monitor yang memang terlihat hitam putih.
"Hanya gumpalan kecil itu? Apa itu bayiku?" Nara yang mendengarnya ingin tertawa, tapi ditahannya.
"Kalau mau terlihat jelas, kalian bisa memeriksakan bulan depan dengan USG empat dimensi di rumah sakit besar di pusat kota."
"Apa bayiku sehat, Dok?" tanya Nara.
"Kalau aku lihat dari hasil USG ini, bayi kamu sangat sehat, Nara."
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih ya, Dok." Nara bangkit dan dokter itu menuliskan resep vitamin untuk Nara.
Mereka kembali ke rumah kontrakan Nara untuk mengemasi baju dan barang-barang Nara yang akan di bawa ke rumah persembunyian milik Jaden.
"Jaden, apa tidak sebaiknya aku di sini saja melanjutkan kehidupanku seperti biasanya? Jujur saja aku benar-benar takut membahayakan kamu dan bayi kita."
"Jangan khawatir, aku pastikan tidak akan ada yang melukai kamu dan aku juga akan baik-baik saja. Sekarang kemasi barang kamu dan kita segera pergi dari sini."
Nara mengangguk dan dia pergi juga ke rumah pemilik kontrakan untuk mengatakan jika dia beberapa hari ini akan pergi ke suatu tempat ke rumah saudaranya. Nara terpaksa harus berbohong.
Di perjalanan ponsel Jaden berdering dan itu dari nenek Miranti.
"Halo, Nek, ada apa?"
"Jaden, kamu di mana? Kenapa tadi Nenek menghubungi Leo dia bilang sedang tidak bersama dengan kamu?"
"Aku ada urusan sebentar, Nek."
"Sayang, kamu baik-baik saja, Kan?"
"Aku baik, Nek, bahkan sangat baik. Nenek jangan mencemaskan aku."
"Tentu saja nenek mencemaskan kamu. Jaden, apa kamu mencari Nara?"
__ADS_1
"Tidak, Nek, untuk apa aku mencari wanita yang sudah mengkhianati suaminya." Jaden melihat pada Nara yang bibirnya manyun.
"Syukurlah kalau kamu dapat berpikiran seperti itu. Kalau begitu cepat pulang karena ada hal penting yang akan nenek bicarakan dengan kamu dan Renata."
"Hal penting apa, Nek? Dan kenapa harus dengan Renata juga?"
Nara yang mendengar nama Renata disebut seketika duduknya menghadap serius pada Jaden.
"Nenek ingin membicarakan pertunangan kamu dengan Renata. Kalian ingin pertunangan kalian dilangsungkan kapan? Nanti Renata bisa menghubungi keluarga Renata."
"Apa? Pertunangan? Nek, aku belum memutuskan apa-apa, jadi Nenek jangan mengambil keputusan dulu."
"Tapi Jaden, Renata juga butuh kejelasan karena dia pihak perempuan."
Jaden melihat pada Nara yang duduk di sebelahnya dengan menatap Jaden cemas.
"Kalau begitu aku putuskan tidak mau bertunangan dengan Renata."
Miranti tau jika di dalam hati kecil Jaden pasti masih menyimpan cinta pada Nara walaupun Jaden kehilangan ingatan saat ini.
"Jaden, jangan bicara begitu. Renata wanita yang baik dan jangan menyakitinya. Dia selama ini bersama selalu dengan kamu. Mendampingin kamu," terang Nenek.
"Nek, nanti saja kita bicarakan di rumah. Aku sedang menyetir dan aku tidak bisa memikirkan ini semua."
"Baiklah, nenek akan menunggu kamu di rumah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Sayang."
Jaden menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi dan dia berhenti sejenak untuk menenangkan pikirannya.
Jaden bersandar pada sandara kursinya dan mencoba memijit pelipisnya perlahan.
"Kenapa aku tidak bisa ingat apa-apa? Coba aku ingat pasti semua masalah ini akan selesai."
Nara yang melihat keadaan suaminya jadi agak khawatir. "Jangan berusaha mengingatnya, Sayang." Nara beranjak dari tempat duduknya dan mencoba mendekat pada Jaden.
"Aku akan bantu memijit kamu sebentar." Jari jemari Nara mulai dimainkan lembut pada kepala Jaden. Pria itu memejamkan kedua matanya menikmati pijatan lembut istrinya.
"Kenapa aku tidak bisa mengingatmu, Nara? Semua kejadian empat tahun yang lalu aku sama sekali tidak ingat."
"Tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri kamu untuk mengingatnya."
Jaden membuka kedua matanya dan memposisikan tempat duduknya agak mundur ke belakang. Nara di tarik perlahan tangannya untuk duduk di pangkuan Jaden.
__ADS_1
"Apa kamu sudah lebih baik?"
Jaden mengangguk perlahan. Dia menatap wajah Nara sangat lekat. Jaden ingin sekali bisa mengingat istrinya itu. Namun, semakin dia paksa yang ada malah banyak kepingan bayangan yang tidak teratur. Jaden melihat ada seorang gadis yang memegang tangannya dan berjalan beriringan dengannya.
"Sakit!" Jaden memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Jangan memaksakan ingatan kamu. Aku tidak marah jika kamu tidak mengingatku." Nara berusaha meyakinkan Jaden.
"Aku sekarang yakin jika kamu memang istriku karena hatiku seolah tidak ingin jauh dari kamu."
Nara tersenyum dan memeluk leher suaminya. Jaden pun memeluk pinggang Nara erat.
"Jangan pergi lagi dariku, Nara."
Nara menggeleng dengan tidak melepaskan pelukannya. "Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi meskipun ada yang mengancamku."
Jaden menarik tubuh Nara dan sekarang dia mencium bibir Nara. Beberapa menit mereka saling berciuman di dalam mobil.
Malam itu setelah Nara sudah berada di dalam rumah persembunyian Jaden. Pria itu meninggalkan Nara sebentar di sana untuk pulang ke rumah nenek sebentar agar nenek tidak mencurigai Jaden.
"Nak, kita makan malam dulu. Renata sudah menyiapkan makanan untuk kamu."
"Jangan bilang kamu tidak lapar karena aku akan memaksa kamu untuk makan." Renata tampak tersenyum dan mengambilkan makanan untuk Jaden.
"Nek, apa benar Nara sempat hamil anakku, tapi dia mengalami keguguran?"
"Siapa yang mengatakan hal itu sama kamu? Apa Nara?"
"Aku mencari tau dan bukan Nara yang mengatakannya. Apa benar kamu penyebab Nara keguguran, Renata?"
Renata yang sedang minum sampai terbatuk kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jaden.
"Aku? Aku tidak ada hubungannya dengan keguguran yang dialami oleh Nara. Aku malah orang pertama yang membela Nara."
"Nak, bukan Nara penyebab Nara keguguran, tapi saudara sepupu Nara yang bernama Mona, tapi dia sudah meninggal. Jaden, nenek tidak mau membahas masalah Nara lagi dan kamu jangan mencoba mencari tau hal yang dapat membuat dirimu dalam bahaya. Nenek takut kehilangan kamu, Nak." Wanita tua itu pun menangis.
"Kamu kenapa membuat nenek menangis? Dengar ya muka dingin! Kalau pada saat itu aku penyebab Nara keguguran, pastinya aku akan kamu habisi, dan tidak mungkin aku ada di sini saat ini."
Jaden tampak berpikir sejenak. Apa yang dikatakan oleh Renata adalah benar, tapi kenapa Nara yakin jika Renata penyebabnya?
Jaden berkata dalam hati jika dia akan mengawasi Renata
__ADS_1