
Nara diantar Paijo pulang, dan Paijo tampak kasihan melihat tempat tinggal Nara yang cukup sederhana sebenarnya.
"Kamu mau tidak kalau aku suruh tinggal di rumahku yang ada di sini?"
"Apa? Tinggal di rumah kamu? Tidak mau!" Nara menggeleng cepat.
"Kenapa? Aku juga tidak akan berbuat sesuatu sama kamu."
"Bukan begitu, Paijo. Bagaimanapun juga kita bukan suami istri, tidak pantas tinggal satu rumah."
"Ya menikah saja denganku kalau mau," celetuknya ngasal dan tentu saja dia mendapat jitakan dari Nara. "Aduh! Sakit, Nara!" Paijo mengusap-usap kepalanya yang terkena jitakan maut Nara.
"Makannya, kalau bicara jangan asal. Memangnya aku wanita apaan menikah dengan dua orang. Lagi pula aku tidak mau mencari pria lain. Hatiku, jiwaku dan seluruh ragaku masih milik Jaden."
Paijo melihat Nara dari atas sampai bawah kembali lagi ke atas. "Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang salah?"
"Kenapa kamu sekarang jadi bucin begini sama si tuan mafia itu?"
"Enak saja bucin, aku itu bukan bucin, tapi jatuh cinta akut sama dia."
"Sama saja, Ratu Cerewet. Ya sudah! Kalau begitu besok jangan terlambat datang ke restoranku untuk bekerja. Aku mau pulang dulu."
"Iya. Paijo, terima kasih sudah mau menerima kamu bekerja di tempat kamu."
"Sebenarnya aku tidak mau menerima kamu bekerja di sana, Nara, tapi kamu memaksa. Aku sudah bilang kalau kamu membutuhkan uang, kamu tinggal bilang saja dan tidak perlu bekerja," terang Paijo kesal.
"Tidak mau! Aku mau bekerja dan menghasilkan uang dengan jerih payahku sendiri."
"Huft! Terserah kamu." Paijo berbalik badan dan berjalan pergi dari rumah Nara. Nara tersenyum melihat sahabatnya itu.
"Dia masih sama seperti dulu, baik dan hatinya seperti malaikat."
Nara masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya melihat sekeliling rumahnya. Dia merindukan Jaden, tapi dia harus menahan rasa rindunya dan mencoba agar dirinya kuat untuk menghadapi semua ini. Nara berharap Jaden dapat bahagia suatu hari nanti, dan dia tidak tau pasti sampai kapan dia akan tinggal di sana.
***
Di rumahnya Jaden juga sedang berdiri termenung memikirkan di mana istrinya berada. Orang-orang suruhannya tidak menemukan di mana Nara berada.
"Leo, apa kamu sudah mencari di seluruh penjuru kota ini?"
__ADS_1
"Sudah, Renata. Aku sudah mengerahkan semua orangku mencari di mana Nara, bahkan sampai di pelosok desa dan perkampungan, tapi aku tidak menemukan di mana Nara."
"Aku jadi sedih melihat Jaden seperti ini. Kenapa dia jadi begini? Nara juga keterlaluan! Kenapa dia malah dengan bodohnya mengikuti apa yang dikatakan si penelepon misterius itu? Bisa saja si penelepon misterius itu hanya menggertak Nara."
"Si penelepon itu serius, Renata. Dia sama sekali tidak menggertak. Apa yang dilakukan oleh Nara hanya ingin membuat Tuan Jaden tidak sampai terancam hukuman yang sangat lama karena kasus yang sedang terjadi semuanya memberatkan Tuan Jaden."
"Lalu, sekarang Jaden juga seperti ini. Sama saja dia terlihatseperti mayat hidup." Renata melihat pada Jaden yang hanya berdiri menatap terdiam di dekat kolam renang.
"Setidaknya Tuan Jaden tidak harus di hukum berat. Kita akan mengajaknya berbicara dan memberi semangat untuknya.
"Andai aku mendengar berita ini dari awal, pasti aku akan bisa mencegah Nara pergi dan hal ini juga pasti aku bantu selesaikan. Aku saja baru mendengar berita ini saat menghubungi kamu."
"Tapi memang masalah ini sangat berat."
Tidak lama ponsel Jaden berbunyi. Jaden mengiri itu telepon dari Nara. Dia tampak senang mencari ponselnya, tapi wajahnya seketika berubah saat melihat nama Will di layar ponselnya.
"Will, ada apa?"
"Jaden, datanglah ke rumah sakit. Nenek sudah sadar dan dia mencari di mana istri kamu dan kamu."
"Apa? Kamu serius?"
"Tentu saja, nenek benar-benar sudah sadar dan kata Areta keadaannya sudah membaik."
Jaden memberitahu Leo dan mereka bertiga berangkat ke rumah sakit.
Di rumah sakit, wanita paruh baya yang baru saja tersadar dari komanya itu terbaring masih dengan beberapa alat medis di tubuhnya, tapi tidak sebanyak waktu dia masih koma.
"Jaden," panggilnya lirih.
"Nenek, syukurlah nenek sudah sadar." Jaden memeluk neneknya erat.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Seperti yang nenek lihat. Aku sangat baik. Nenek, apa yang sekarang Nenek rasakan?"
"Nenek baik-baik saja, hanya saja nenek sedikit lelah dan pusing."
"Itu tidak apa-apa Nenekku yang cantik. Aku akan meninggalkan kalian agar dapat berbicara dan nanti aku akan ke sini lagi untuk memeriksa Nenek lagi."
__ADS_1
Dokter cantik itu keluar dari ruangan nenek dan Renata langsung memeluk nenek Miranti.
"Nenek bagaimana kabarnya? Aku sedih sekali melihat keadaan Nenek yang hanya bisa terpejam kedua matanya."
"Renata, kenapa kamu bisa ada di sini? Apa kamu meninggalkan pekerjaan kamu di sana?"
"Aku tidak peduli dengan pekerjaanku saat Leo memberitahuku tentang masalah yang sedang kalian hadapi. Kenapa kalian tidak membagi padaku masalah yang sedang terjadi. Kalau aku tidak menelepon Leo. Aku juga tidak akan tau tentang ini."
"Semua ini begitu cepat terjadi, Renata. Nenek senang kamu mau datang ke sini. Nenek juga merindukan kamu." Renata sekali lagi tersenyum pada Nenek.
Sekarang pandangan mata wanita paruh baya itu mengedar mencari seseorang yang dia ingin temui saat membuka kedua matanya.
"Di mana cucu menantuku? Nara apa tidak ikut dengan kalian?"
Semua yang di sana tampak terdiam dan saling berpandangan. "Jaden, mana Nara? Apa dia berada di rumah?"
"Nek, Nara pergi dari rumah," ucap Jaden lirih dan dia tidak mau membohongi neneknya.
"Apa? Memangnya ada apa sampai dia pergi dari rumah? Apa kamu dan Nara sedang bertengkar?"
"Nek, nanti saja Jaden bercerita kenapa Nara pergi dari rumah. Nenek istirahat dulu dan jangan memikirkan hal ini terlalu berat." Renata mencoba menenangkan nenek Miranti.
"Tidak Renata. Aku ingin tau kenapa Nara sampai pergi dari rumah? Jaden, katakan pada nenek sekarang."
"Nara pergi dari rumah agar aku dapat terbebas dari hukuman karena semua bukti dan saksi memberatkan posisiku, Nek."
"Nenek masih belum paham, Jaden."
Jaden akhirnya mengatakan tentang ancaman si penelepon misterius itu yang ada hubungannya dengan Nara yang pergi dari rumah.
"Oh Tuhan! Kenapa Nara sampai berpikiran bahwa si penelepon itu serius dengan ancamannya?"
"Penelepon itu serius, Nek. Buktinya aku dapat bebas dan ada orang lain yang menanggungnya."
"Siapa?"
"Damian."
"Damian teman kamu dulu dan juga salah satu musuh kamu itu?" Nenek tampak tidak percaya.
__ADS_1
Jaden mengangguk lirih. "Nek, aku akan mencari di mana Nara berada. Nenek tidak perlu khawatir. Aku akan segera menemukan Nara bagaimanapun caranya."
"Temukan dia, Jaden. Nara tidak boleh pergi dari rumah seperti ini."