Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Arti Nara


__ADS_3

Nara berjalan dengan menahan sakit pada pangkal pahanya yang terasa nyeri menuju meja makan. Jaden yang melihat hal itu tampak mengkerut kan kedua alis tebalnya.


"Nara kamu kenapa? Kenapa jalan kamu seperti itu?"


Nara menoleh dan tampak bingung mau menjawab apa tentang pertanyaan Jaden.


"A-aku tidak apa-apa, Tuan, hanya saja--." Nara melihat ke bawah dengan wajah menahan malu.


Jaden mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Nara. Dia berjalan mendekat dan menggendong tubuh Nara dengan gerakan cepat.


"Tuan? Apa yang Tuan lakukan?"


"Kamu jangan membantah. Kamu duduk saja di sini dan biar aku yang menyiapkan makan paginya." Jaden meletakkan tubuh Nara di kursi yang berada di meja makan.


"Tapi, Tuan. Ini sudah tugasku di sini. Lagi pula Tuan belum membersihkan diri. Aku bisa melakukan semuanya."


"Baiklah! Aku akan membawa kamu ke kamarku dan membersihkan diriku. Setelah itu aku akan membawa kamu ke sini lagi. Kita akan makan bersama-sama." Jaden mengecup kecil hidung Nara dan menggendong Nara sekali lagi ala bridal style masuk ke dalam kamar Jaden.


Di dalam kamarnya, Jaden mendudukkan Nara di atas tempat tidurnya yang masih ada noda darah milik Nara. Jaden masuk ke dalam kamar mandi dan Nara mengambil sprei dengan noda merah miliknya. Dia memandangi sprei itu cukup dalam. Teringat jika dirinya sudah tidak lagi tersegel dan semua dia lakukan dengan pria yang sangat dia cintai walaupun pria itu entah memiliki perasaan cinta padanya atau tidak?


"Nara segera memasukkan sprei itu ke dalam ranjang kotor, dan masuk ke dalam walk on closet untuk menyiapkan baju untuk Tuan JLnya.


Jaden yang baru keluar dari kamar mandi melihat Nara yang berada di dalam walk in closetnya dia mengikuti Nara dari belakang.


"Kenapa kamu nakal sekali?" Muka Jaden ditekuk kesal.


Nara yang kaget seketika menoleh ke arah Jaden. "Nakal bagaimana maksud, Tuan?"


"Siapa yang menyuruh kamu jalan-jalan? Aku menyuruh kamu untuk duduk diam di atas ranjangku dan biarkan aku melakukan semua sendirian. Nara, aku tidak mau membuat kamu tambah sakit nantinya."


"Aku tidak apa-apa, Tuan. Aku ingin menyiapkan baju untuk Tuan JL."


"Tidak perlu, Nara. Biar aku yang mengambil bajuku sendiri." Jaden mengambil baju miliknya dari tangan Nara dan melepas dengan seenaknya handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

__ADS_1


Nara sontak saja terkejut melihat pemandangan yang semalam juga sudah dia lihat, tapi Nara masih canggung dengan hal itu. Dia seketika membalikkan badannya kemudian berjalan perlahan dengan memejamkan kedua matanya keluar dari lemari besar milik Jaden.


"Kenapa dia bersikap begitu? Bukannya dia sudah pernah melihat segalanya, bahkan merasakannya," ucap Jaden santai sambil memakai bajunya.


Tidak lama Jaden keluar dari dalam lemari besarnya dan berjalan mendekat pada Nara. "Tuan, apa mau makan pagi sekarang?"


"Aku mau makan, tapi makan kamu," bisik Jaden pada telinga Nara. Kedua mata Nara seketika mendelik mendengar apa yang Jaden ucapkan.


Nara memundurkan langkahnya ke belakang dan menatap Jaden bingung. "Ma-maksud, Tuan apa? Makan aku? Memangnya Tuan mau jadi seorang kanibal makan manusia?" tanya Nara heran.


Jaden yang mendengar hal itu malah tertawa. "Kamu itu beneran tidak tau atau pura-pura tidak tau?"


Nara menggelengkan kepalanya. "Aku beneran tidak tau apa yang Tuan Jaden maksud?"


Jaden menggendong Nara dan sekali lagi mengecup kecil hidung Nara. "Kalau begitu kamu lebih baik tidak perlu tau." Jaden membawa Nara dalam gendongannya menuju ruang makan.


"Tuan, jangan membuatku penasaran. Apa yang sebenarnya Tuan JL maksud dengan makan aku? Tuan tidak bermaksud mau membunuh dan memutilasi kemudian memakanku, Kan?"


Nara seketika terdiam mendengar apa yang Jaden katakan barusan. Jaden yang melihat wajah Nara tiba-tiba murung tampak merasa bersalah sudah mengingatkan akan kejadian yang seharusnya tidak terjadi dengan mereka.


"Maaf, jika kata-kataku sudah menyakiti kamu."


"Kata-kata Tuan tidak menyakitiku, hanya saja jika teringat akan hal itu. Aku seolah menjadi gadis murahan. Pelacur kecil yang Mba Sandra tuduhkan padaku waktu itu."


"Apa? Sandra mengatakan hal itu?"


Nara menganggukkan kepalanya. "Dia bilang aku seorang pelacur kecil karena dikira sudah menjual tubuhku pada Tuan JL saat dia melihat aku keluar dari dalam kamar Tuan JL dengan menggunakan kemeja milikmu."


"Keterlaluan sekali!"


"Tapi sekarang benar apa yang dikatakan Mba Sandra."


"Nara, kamu jangan berpikiran seperti itu. Kamu bukan pelacur seperti yang dikatakan si wanita licik itu. Dia yang sekarang akan akan aku jadikan seorang wanita penghibur."

__ADS_1


Nara terdiam sejenak. "Apa kamu menyesal sudah memberikan hal berharga milik kamu pada pria yang tidak mungkin bisa bertanggung jawab denganmu?" tanya Jaden.


"Tidak, aku tidak menyesal karena aku sudah menolong orang yang sudah beberapa kali menolongku."


"Bukan karena kamu mencintaiku?" Jaden menatap pada Nara. Gadis itu terpaku di tempatnya.


Nara tidak menyangka jika Jaden akan ingat dengan apa yang Nara katakan waktu itu. "Tuan aku minta maaf jika kata-kataku waktu itu membuat Tuan tidak suka."


"Aku suka dengan apa yang kamu katakan, tapi maaf kalau aku tidak bisa membalas hal itu seperti apa yang aku katakan pada kamu waktu itu, Nara."


Nara mengangguk perlahan. Dia kemudian mengambilkan Jaden makan pagi. Mereka makan pagi berdua dan setelah makan pagi Jaden harus pergi ke kantor yang selama ini belum dia datangi selama dia sakit dan harus duduk di kursi roda.


0


"Nara, apa kamu bisa aku tinggal sendirian di sini? Kalau kamu bosan, kamu bisa membaca buku atau menonton televisi."


"Iya, tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah biasa di rumah Tuan sendirian."


Jaden beranjak dari kursinya dan mengecup kening Nara dengan lembut. "Aku pergi dulu."


Nara mengangguk dan melihat Jaden berjalan menuju pintu keluar. Nara yang duduk di kursi melamun sejenak. "Kenapa aku seolah-olah seperti menjadi istrinya?" Nara berdialog sendiri.


Nara kembali melakukan pekerjaannya seperti biasa. Lelah dia bekerja Nara memilih tiduran di sofa dengan menonton televisi.


Sedangkan di kantornya, Jaden disibukkan dengan pekerjaannya. Tidak lama dia melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul dua belas tepat. "Nara sedang apa?"


Tangannya meraih ponselnya, tapi pada saat mau menghubungi Nara. Tiba-tiba seseorang menyelonong masuk ke dalam ruangannya. Seseorang yang sama sekali tidak Jaden harapkan untuk melihatnya lagi.


"Halo, Jaden," sapanya.


Jaden menatapnya dengan tajam dari tempat dia duduk.


__ADS_1


__ADS_2