
Nara berjanji akan berusaha akan membantu Mba Sandra agar Tuan JLnya mau menerima cinta Sandra, tapi Nara juga sebenarnya tidak yakin apa dia bisa?
"Mba, aku tidak akan mengganggu makan siang kalian. Mba Sandra bilang saja jika aku tidak enak badan, dan aku akan beristirahat di dalam kamarku pura-pura sakit. Bagaimana?"
"Setuju, dengan begitu aku akan memiliki waktu berdua dengan Tuan Jaden. Terima kasih sekali lagi ya, Nara."
8
Nara mengangguk dan segera Sandra keluar dari kamar Nara. Sandra menuju ruang makan dan tampak di sana Jaden duduk dengan tegasnya.
"Mana Nara, Sandra?"
"Nara sedang tidak enak badan katanya saat aku ajak untuk makan siang. Dia bilang supaya kamu makan siang duluan karena kamu harus segera minum obat, Tuan Jaden."
"Apa? Dia sakit? Bukannya tadi dia baik-baik saja?" Jaden melihat curiga pada Sandra. Jaden memang tidak memang tidak mengetahui rencana Sandra dan Nara karena dia tidak melihat lagi pada layar tabletnya.
"Katanya dia dari kemarin tidak enak badan, tapi dia mencoba tidak merasakannya, dan sekarang dia benar-benar butuh istirahat. Biarkan saja dia tidur, nanti akan aku berikan obat untuknya.
Jaden menghubungi pengawalnya untuk membantunya ke kamar Nara. Beberapa pengawal masuk dan membantu Jaden untuk naik ke kamar Nara. Di sana hanya dihubungkan beberapa anak tangga saja yang terbuat dari kayu.
Sandra yang melihatnya tampak kesal. Sandra harus mencari cara agar Jaden dapat segera dia miliki nantinya.
"Kalian boleh pergi."
"Baik, Tuan."
Jaden yang sudah berada di depan pintu kamar Nara dengan tanpa basa basi langsung masuk ke dalam kamar Nara. Nara terjingkat kaget saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka oleh pria yang ingin dia hindari, tapi malah mendekat saja.
"Tuan JL?" Nara segera bangun dari tempat tidurnya.
Jaden mendorong sendiri kursi rodanya mendekat ke arah Nara. Tangannya langsung memegang dahi Nara.
"Kamu tidak panas, kenapa kamu tidak mau turun untuk makan siang?"
"A-aku--." Nara melihat pada Sandra yang ada di belakang Jaden.
__ADS_1
"Jawab aku, Nara?" bentaknya.
"Aku tidak enak badan, perutku juga rasanya belum lapar. Aku mau istirahat sebentar."
"Kalau begitu aku akan panggilkan Will agar memeriksa keadaan kamu."
"Jangan! Aku tidak apa-apa, Tuan JL. Aku sudah bilang kalau aku hanya butuh istirahat sebentar saja. Nanti kalau aku sudah baikkan aku akan turun untuk makan."
"Tuan Jaden, mungkin Nara memang kecapekan. Dia juga butuh istirahat, sebaiknya biarkan saja dia dulu, biar nanti aku akan mengurus Nara, kalau perlu akan aku bawakan makanan Nara ke kamarnya." Tangan Sandra mengusap pundak Jaden.
"Tidak perlu, Mba Sandra. Mba Sandra tidak perlu repot-repot begitu. Aku bisa mengambil makanan aku sendiri, setelah nanti badanku agak enakan."
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja dulu. Sandra, apa kamu bisa membawakan makananku ke kamar saja karena aku mau makan di kamar."
"Iya, akan aku bawakan makanan Tuan ke kamar, aku juga akan menemani Tuan makan di kamar." Sandra dengan senangnya turun ke meja makan untuk mengambilkan makanan untuk Jaden.
Di dalam kamar Nara tidak berani menatap wajah Jaden, sedangkan pria itu malah dengan datarnya tidak melepaskan pandangannya dari Nara.
"Kenapa aku merasa kamu menghindariku, Nara?" Tiba-tiba Jaden berkata sesuatu yang membuat Nara langsung mengangkat kepalanya melihat pada Jaden.
"Aku tidak menghindari, Tuan. Lagian untuk apa aku menghindari, Tuan?".
Nara menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang aku sembunyikan dari Tuan JL karena aku tidak berani."
Tidak lama Sandra masuk ke dalam kamar Nara dan mengatakan makan siang sudah Sandra siapkan dan Sandra membawa Jaden masuk ke dalam kamarnya.
Nara dapat bernapas lega melihat hal itu. Dia segera turun ke bawah untuk makan siang karena perutnya sudah lapar.
Nara keluar kamarnya dengan pandangan mata melihat pada pintu kamar Jaden yang tertutup rapat. Dia teringat pernah makan bersama dengan tuannya itu di dalam kamar berdua, dan sekarang digantikan mba Sandra.
"Aku ini kenapa, Sih? Bagus, kan, kalau mereka berdua bisa berdua seperti itu, akan membuat Tuan Jaden bisa lebih dekat dengan mba Sandra."
Nara di meja makan, dia menikmati makanannya sendiri, dan setelah makan dia memutuskan membersihkan ruangan yang ada di rumah itu.
Malam hari setelah makan malam dan malam itu juga Jaden meminta makan malam di dalam kamarnya, dan lagi-lagi Nara makan sendiri di meja makan.
__ADS_1
"Nara, kamu sudah makan?" tanya mba Sandra yang datang ke dapur dengan membawa beberapa piring kotor dari kamar Jaden.
"Iya, Mba. Bagaimana? Apa Tuan Jaden menyukai masakanku? Aku baru mencoba resep baru tadi semoga dia menyukainya."
"Rasanya agak hambar kata Jaden, tapi aku memaksanya untuk makan karena kamu sudah bersusah payah membuatnya." Sandra tersenyum malas.
"Oh ... jadi rasanya gagal. Ya sudah lain kali akan aku perbaiki lagi."
"Lain kali aku saja yang membuatkan masakan untuk tuan Jaden. Sekarang kamu cuci semua peralatan ini karena aku mau memberikan obat pada Tuan Jaden kemudian beristirahat karena aku lelah sekali hari ini."
"Iya, Mba." Nara mulai melakukan tugas lainnya juga, dia mencuci baju malam-malam agar nanti jam tiga pagi dapat dia jemur.
Di dalam kamarnya, Jaden ternyata masih belum tidur, dia sedang berbicara dengan seseorang tentang bisnisnya.
Tidak lama Jaden melihat ada panggilan masuk dengan nama nenek. "Nenek?"
Jaden segera menyudahi panggilannya dan langsung menerima panggilan video call neneknya.
"Halo, Nek, ada apa?"
"Cucu nakal! Kenapa tidak bilang kalau sudah pulang? Sengaja biar tidak nenek suruh ke rumah nenek."
"Nenek ini bicara apa? Aku kan baru pulang, lagian aku sudah biasa tidak mengabari nenek setiap saat. Nanti kalau waktuku sudah senggang aku pasti akan menghabiskan waktu dengan Nenek."
"Baiklah, nenek akan terima ucapan kamu. Sekarang mana Nara?"
"Na-Nara? Maksud Nenek siapa?"
"Nara, gadis yang bekerja di tempat kamu dan dia biasa memanggil kamu dengan sebuatan Tuan JL atau pria dingin."
Jaden bingung, kenapa ini neneknya tau tentang Nara? Siapa yang memberitahunya? Kalau Leo tidak mungkin dia memberitahu neneknya tentang Nara.
"Nenek tau tentang Nara dari siapa?"
"Dari orangnya sendiri. Sekarang mana dia? Nenek mau melihat wajah gadis yang bekerja di tempat kamu menggantikan Bi Ima untuk sementara."
__ADS_1
Jaden bingung sekarang. Nara pasti sudah tidur dan tidak mungkin dia memanggilnya tanpa naik ke kursi roda dan neneknya tidak boleh tau tentang keadaannya sekarang karena hal itu tidak akan baik untuk kesehatan neneknya.
"Sayang, kamu melamun apa?" Wanita tua itu melihat cucunya yang sedang melamun sesuatu.