Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hari Pernikahan part 2


__ADS_3

Nara melirik pada Renata yang tampak sedang berpikir melihat pada Nara juga


"Nara, kamu jangan marah." Renata menggoyang-goyangkan tubuh Nara seperti anak kecil.


"Aku tidak marah, kok. Aku senang kamu jujur sama aku."


"Cintaku belum terlalu besar terhadap Jaden, hanya sebatas suka saja. Aku nanti tidak mau lagi mencari pria yang seperti Jaden. Mending seperti Leo." Renata terkekeh.


"Kamu menyukai Mas Leo?" Nara agak terkejut.


"Jangan keras-keras kalau bicara." Renata meletakkan telunjuknya pada mulutnya memberi isyarat agar Nara jangan berisik. "Nara, apa Leo sudah punya kekasih atau dia suka sama seseorang?"


Nara berpikir sebentar. "Sepertinya tidak ada, setahu aku mas Leo tidak mempunyai seseorang yang dekat dengannya."


"Syukur kalau begitu." Renata tampak merasa lega. Nara yang melihatnya malah tersenyum kecil.


Di tempatnya berdiri Jaden tampak mukanya sangat tegang, tapi dia berusaha menyembunyikan hal itu.


"Tuan, bagaimana perasaan Tuan Jaden saat ini?" tanya Leo.


Jaden hanya terdiam dan mencoba mengambil napas dari tadi. "Apa perlu aku jawab, Leo?"


Leo malah terkekeh kecil. "Tuan tenang saja, semua akan segera selesai dan Nara akan menjadi milik Tuan selamanya."


"Kenapa hal ini lebih menakutkan dari pada aku harus berhadapan dengan musuhku yang menodongkan senjata di depanku."


"Tuan, jangan memikirkan hal seperti itu. Hari ini adalah hari istimewa sekali seumur hidup Tuan Jaden. Aku juga pasti akan sangat tegang jika berada di posisi Tuan Jaden."


"Aku ingin acara in segera selesai dan Nara menjadi istriku."


Tidak lama di tempat Jaden berdiri seseorang dengan kursi rodanya datang menghampiri Jaden.


"Kak, selamat atas pernikahan kamu dan Nara. Aku senang kamu akhirnya bisa menikah dengan Nara." Tangan Jacob menjulur mengucapkan selamat pada Jaden.


"Terima kasih, Jacob. Aku juga senang kamu masih mau datang ke sini."

__ADS_1


Leo yang tidak mau mengganggu Jacob dan Tuannya izin pergi dari sana.


"Jaden, kamu boleh menceritakan pada Nara tentang siapa yang sudah membuat kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Aku sudah siap menerima semua kebencian Nara jika dia ingin memakiku."


"Nara tidak perlu tau akan hal itu. Di mata Nara kamu pria yang sangat baik dan aku tidak akan membuat pandangan Nara terhadapmu berubah, Jacob."


"Terima kasih sekali lagi, Kak. Kamu memang pantas jika dengan Nara." Jacob membuka kedua tangannya dan Jaden memeluknya. Mereka berdua saling bicara di sana. Jacob datang dengan kedua orang taunya, hanya saja kedua orang tua Jacob tidak mau menemui Jaden.


Mereka hanya menemui Nenek Miranti yang memang adalah orang tua mereka.


"Nara, saatnya kita turun sekarang dan aku akan membantu kamu turun ke lantai bawah menemui calon suami kamu."


Nara beranjak dari tempatnya dan digandeng oleh Renata. Mereka berjalan menuju lantai bawah.


"Kak Nara!" Tiba-tiba seorang gadis kecil yang tak lain adalah Lisa memeluk kaki Nara.


"Lisa? Kakak senang sekali bisa melihat kamu di sini. Kamu cantik sekali."


"Kakak juga cantik. Sangat banyak cantiknya." Tangan gadis kecil itu seolah membuat lingkaran besar dari kedua tangannya yang ada di atas kepalanya.


"Hai, Nara. Nasib kamu sangat baik, Ya. Kamu bisa menikah dengan pria tampan dan kaya raya. Hebat sekali!" seru Mona sambil bertepuk tangan di depan Nara. Mona dan mamanya serta Lisa ternyata menemui Nara di luar kamar.


"Kamu benar-benar beda dari Nara dekil dan upik abu yang dulu pernah aku kenal. Apa karena penampilan dan supaya kamu dianggap di masyarakat jadi kamu berani menjual diri kamu pada Jaden yang adalah majikan kamu?"


Nara memegang erat tangan Renata saat mendengar hinaan dari Mona. Dia mencoba menahan dirinya agar tidak emosi karena ini adalah hari yang penting untuknya.


"Jaga mulut kamu, Ya! Biarpun Nara dulunya seorang pelayan dari Jaden, tapi Nara gadis baik-baik. Kamu cantik, tapi mulut kamu busuk. Bau sekali!" Tangan Renata sampai menutupi hidungnya.


"Kamu siapa? Kenapa kamu ikut campur masalahku dengan Nara?" bentak Mona ketus.


Renata melepaskan tangan Nara yang menggandeng tangannya. "Renata, sudah tidak perlu di tanggapi." Nara mencoba menahan Renata.


"Aku Renata Reis pemilik RR Company dan aku sahabat Nara. Kalau kamu berani menjelek-jelekkan Nara lagi, aku akan membuat kamu menyesal!" Tatap tajam Renata.


"Mona, sudahlah! Mereka orang-orang memiliki kuasa, jadi jangan membuat masalah dengan mereka." Soraya menarik tangan Mona.

__ADS_1


"Nara, ayo kita pergi." Renata mengajak Nara pergi dari sana.


Mona yang tidak terima mengejar Nara sampai di anak tangga.


"Aku akan mengatakan pada orang-orang jika kamu adalah pelayan Jaden yang sudah menyerahkan dirinya agar bisa menjadi seorang nyonya Luther. Memalukan!"


Nara yang geram ingin menampar Mona, tapi gerakannya kalah cepat dengan Renata yang ternyata sudah berbalik badan menjambak rambut Mona.


Mona yang berusaha melepaskan tangan Renata malah terjadi adegan tarik menarik di sana.


"Tuan JL ...!" teriak Nara yang ternyata tubuhnya tersenggol tubuh Renata saat menarik rambut Mona.


Semua di sana terkejut melihat Nara yang berputar sambil berusaha berpegangan pada pegangan anak tangga.


Sampai akhirnya dia ditangkap oleh Leo yang kebetulan ini menemui Nara.


"Nara! Kamu tidak apa-apa?" Renata tampak panik dan menuruni anak tangga menghampiri Nara yang sudah digendong oleh Leo.


Nara pingsan dan membuat Leo panik. "Nara, bangun." Leo menepuk pelan wajah Nara, tapi Nara tidak juga membuka kedua matanya.


"Ya ampun! Bagaimana ini? Apa Nara dan bayinya tidak apa-apa, Leo?" Renata tampak sangat panik.


Nenek yang mendengar keributan di dalam rumah langsung menuju dalam rumah bersama dengan kedua orang tua Jacob.


Jaden yang berdiri di taman dekat tempat dia akan melakukan ijab qobul diberitahu oleh salah satu maid nenek Miranti bahwa Nara terjatuh dari anak tangga langsung berlari menuju dalam rumah. Jacob. pun segera mendorong sendiri kursi rodanya ikut menuju ke dalam.


Jaden tampak jantungnya seketika berhenti berdetak saat melihat Nara yang tengah menutup kedua matanya rapat dalam pelukan Leo.


"Leo, Nara kenapa?" tanya Jaden berjalan gontai menuju tempat Nara.


"Tuan, sebaiknya kita segera membawa Nara ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Nara dan bayinya."


Jaden segera mengambil Nara dari gendongan Leo. "Leo kemudikan mobilnya dan bawa cepat ke rumah sakit."


Jaden berlari dengan membawa Nara dalam gendongannya.

__ADS_1


Leo pun segera ikut berlari dan mendahului Jaden karena dia harus membukakan pintu mobil untuk Jaden.


Nenek dan Jacob serta Renata juga ikut ke rumah sakit. Nenek sangat panik melihat keadaan Nara.


__ADS_2