Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Ajakan Kencan part 2


__ADS_3

Pukul 10 tepat, Denna turun ke lantai bawah. Nenek yang melihatnya tersenyum melihat cicitnya yang hari ini, pertama kalinya keluar dengan seorang teman spesialnya.


"Ayah kamu, kalau tau anak gadisnya kencan dengan seorang pria pasti sudah seperti orang kebakaran jenggot."


"Nenek, aku, kan, hanya jalan-jalan biasa saja. Lagipula aku juga tidak pacaran dan ada Dimas juga."


"Iya, nenek, tau. Dimas mana? Kenapa dia belum datang? Kamu sudah memberitahu dia, kan?"


"Sudah, malahan dari semalam. Mungkin dia masih dalam perjalanan."


"Ya sudah, kamu tunggu saja. Nenek mau istirahat sebentar di kamar."


"Iya, Nek." Denna berjalan menuju halaman depan dan duduk menunggu sang pujaan hatinya datang.


Tepat jam sebelas dan Dimas belum datang, Denna masih menunggu pria yang mengajaknya berkencan itu. Hingga jarum jam menunjukkan pukul dua belas tepat, tapi pria itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Apa aku hubungi dia saja? Tapi aku jadi seolah mengharapkan dia?"


"Sayang, kenapa masih belum berangkat?" Kamu janjian jam berapa?"


"Dimas belum datang, Nek."


"Kamu sudah menghubunginya?" Denna menggeleng. "Coba hubungi, siapa tau ada apa-apa dengan Dimas."


"Jangan sampai, Nek!" Denna sekarang tampak panik. Denna lalu menghubungi ponsel Dimas, tapi panggilannya tidak dijawab. "Dia di mana?"


"Tidak dijawab?"


"Tidak dijawab dari tadi, Nek. Apa terjadi sesuatu dengan Dimas ya, Nek?"


"Apa mungkin Dimas ada urusan mendadak jadi dia tidak bisa ke sini?"


"Kalau dia tidak bisa, kenapa tidak menghubungiku dulu dan mengatakan tidak bisa ke sini?"


"Kalau begitu kamu hubungi saja teman spesial kamu itu suruh menjemput kamu di sini. Sekalian kamu kenalkan Nenek."


Denna bingung kalau begini. Dia itukan janjiannya sama Dimas, bukan dengan V.


"Atau mau diantar oleh Nenek? Sekalian nanti nenek mau membeli tanaman."


"Aku batalkan saja sama V, Nek. Aku juga tidak mau hanya jalan berdua sama seorang pria. Apa lagi aku juga baru beberapa hari berkenalan dengan dia."


"Kalau mau sama nenek saja, tapi kalau kamu tidak malu berkencan ditemani Nenek."


"Tidak usa, Nek. Aku batalkan saja. Nenek kalau mau pergi tidak apa, aku di rumah saja."


"Apa benar tidak mau ikut nenek pergi?"

__ADS_1


"Tidak, Nek. Aku di rumah saja."


Denna berjalan malas pergi ke lantai kamarnya. Nenek yang melihat hilangnya keceriaan dari wajah cicitnya seketika berubah menjadi sedih. "Kasihan sekali Denna. Dimas ini ke mana? Apa terjadi sesuatu dengannya?"


Denna duduk di tepi jendela kamarnya. Tidak lama dia mendapat telepon dari sahabatnya.


"Halo, Denna."


"Ada apa, Diaz?"


"Kamu kenapa? Kenapa nada suara kamu sedih begitu?"


"Tidak apa-apa," jawab Denna malas.


"Aku tau! Pasti ini ada hubungannya sama si bodyguard kamu ya? Kamu patah hati karena Dimas ternyata sudah punya kekasih."


"Dimas belum punya kekasih, Diaz."


"Kata siapa? Kamu dibohongi. Kekasih Dimas baru saja memposting jika dia sangat senang baru saja bertemu dengan cinta pertamanya."


"Apa?"


"Kamu belum tau?"


"Maksud kamu apa?"


"Coba kamu kirim fotonya padaku."


"Sebentar aku cari dulu." Tidak lama Denna menerima foto dari Diaz.


Kedua mata Denna membulat melihat siapa yang ada di dalam foto itu. "Ini Dimas dengan Mitha, mereka sedang berada di rumah siapa?"


"Denna ... Denna," panggi Diaz.


"Ada apa, Diaz?"


"Kamu baik-baik saja, Kan?"


"A-aku baik." Denna mencoba menahan perasaannya yang saat ini tidak karuan.


"Kamu lebih baik jangan berharap sama Dimas. Dia sepertinya sangat mencintai kekasihnya itu."


"Siapa yang berharap sama Dimas? Aku dan Dimas tidak ada apa-apa." Denna menghapus air matanya.


"Mending sama V aja. Tadi aku juga iseng mencari di sosmed tentang dia, tapi tidak ada. Sepertinya V tidak suka dengan dunia maya seperti bermain di sosmed."


"Aku tidak tau, Diaz. Diaz, aku dipanggil nenek, nanti aku hubungi lagi ya. Bye Diaz." Denna seketika menutup teleponnya dan dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya di balik selimut agar tidak ketahuan nenek.

__ADS_1


"Denna bodoh! Kenapa percaya begitu saja dengan ucapan pria seperti Dimas? Apa karena kamu jatuh cinta padanya? Tapi tidak harus membuat kamu jadi orang bodoh Denna!" Denna mengumpat dirinya sendiri.


Terdengar suara hujan yang deras di luar. Denna memeluk erat bantalnya karena mendengar suara guntur yang sangat keras. Hatinya semakin sedih waktu teringat saat dia bersama Dimas di dalam mobil. Hari itu hujan juga turun sangat deras.


Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pada pintu kamar Denna. Denna membukakan pintu dan terlihat seorang pelayan berdiri di depan pintu kamarnya.


"Nona, ada Dimas di bawah, katanya ingin bertemu dengan Nona Denna."


"Dimas? Bilang saja aku sudah tidur, dan suruh saja dia pulang."


"Baik, kalau begitu."


"Bi, apa nenek sudah pergi?"


"Iya, Nenek Miranti sudah pergi dari tadi. Saya permisi dulu."


Denna berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya dan melihat ke bawah ada Dimas di halaman dengan motornya dan keadaanya basah kuyup.


"Untuk apa dia ke sini?" Denna melihat Dimas masih berdiri di luar dengan menatap ke arah atas di mana Dimas tau ada Denna di sana.


"Nona Denna, saya ingin bicara sebentar!" teriak Dimas.


Denna melihat kesal dan marah pada Dimas. Denna berjalan ke arah balkon kamarnya dan dia membuka pintunya.


"Kamu pulang saja, untuk apa kamu ke sini?"


"Saya cuma ingin bicara."


"Tapi aku tidak ingin bicara sama kamu, Dimas! Cukup kamu membohongiku."


"Saya tidak bermaksud tidak menepati janji, tapi ada hal yang ingin saya jelaskan."


"Aku tidak mau mendengarnya. Kamu pulang saja." Denna masuk ke dalam kamarnya kembali dengan baju yang agak basah. Denna mengganti baju dengan sweater yang lebih hangat dan berbaring di kamarnya.


"Aku tidak peduli sama kamu Dimas. Mungkin dia sebentar lagi akan pulang." Denna berbaring di atas kasurnya.


Denna mencoba memejamkan kedua matanya, meskipun di pikirannya dia terbayang akan sosok Dimas yang kehujanan di luar rumahnya.


Denna kembali bangkit dan mencoba mengintip Dimas dari balik jendelanya.


"Dia masih di sana?" Tampak sosok pria yang dari tadi diusir Denna masih berdiri tegap di derasnya air hujan.


"Dia maunya apa? Kalau nenek sampai melihat bagaimana?"


Denna dengan cepat menuruni anak tangga. "Nona Denna, Dimas saya suruh masuk tidak mau," terang salah satu maid di sana.


"Ambilkan aku payung, Bi. Aku akan menyuruh Dimas pulang saja."

__ADS_1


__ADS_2