Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Jaden menerobos masuk saat dia melihat siapa pria yang sedang bermesraan dengan Renata.


"Brengsek! Sudah ku duga kamu di balik semua ini, Jacob."


"Jaden?" Mereka berdua tampak terkejut.


"Kalian berdua memang brengsek! Aku sama sekali tidak menyangka jika kamu melakukan hal ini, Renata!"


Renata berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekat pada Jaden. "Dahal, permainan kita belum selesai, tapi sudah kamu ketahui, Sayang." Renata mengalungkan kedua tangannya pada leher Jaden.


"Menjijikan!" Jaden dengan kasar melepaskan tangan Renata.


Terdengar suara tepuk tangan dari Jacob dan pria itu seketika berdiri dari tempat duduknya. "Aku akui kalau kamu sangat hebat, Kakakku. Oh! Aku lupa kalau kamu hanya Kakak angkatku."


Jaden terkejut melihat Jacob yang ternyata bisa berdiri. "Kamu bisa berdiri, Jacob? Sejak kapan?" tanya Jaden penasaran.


"Sejak pertama kali aku mengenal Nara. Aku berusaha untuk bisa berdiri di atas kakiku agar Nara tidak meninggalkan aku, tapi setelah aku tau kamu dan dia memiliki hubungan saat ayah bicara dengan kamu di telepon, hal itu membuat aku membuat rencana untuk tetap pura-pura lumpuh. Namun, hal itu tetap tidak bisa membuat Nara tetap bersamaku karena bayi itu menghalanginya."


"Nara tidak akan memilih pria seperti kamu walaupun di matanya kamu pria yang sangat baik."


"Aku tau, oleh dari itu aku mencari cara lagi untuk membuat penghalang antara aku dan Nara hilang. Menyakitkan bukan kehilangan orang yang sangat kamu sayangi, Luther?" bentaknya marah.


"Apa maksud kamu?" Kedua alis Jaden mengkerut melihat heran pada Jacob.


Jacob tersenyum miring. "Rasanya sangat tidak enak saat orang yang kamu sayang diambil orang lain. Bayimu dan Nara. Aku mengambil keduanya dari hidupmu."


Kedua mata Jaden mendelik mendengar apa yang baru saja Jacob katakan. Tangannya pun mengepal erat menahan emosi.


"Jadi, kamu yang membuat Nara keguguran waktu itu? Lalu, Mona?

__ADS_1


"Dia hanya bonekaku, Sayang. Aku menjadikanya kambing hitam agar membuat kalian berpikiran jika Mona pelakunya."


"Kamu pasti bingung, Jaden. Mona sengaja aku ajak kerja sama untuk membuat pernikahan kamu berantakan dan dia ternyata mau karena uang yang aku tawarkan, aku membuat rencana dia seolah-olah ingin menyerang Nara, tapi aku halangi dan aku yang membuat Nara keguguran saat dia berpegangan padaku. Aku melepaskan pegangannya." Renata menekankan kata- katanya."


"Brengsek! Kalian benar-benar keterlaluan! Kenapa kamu melakukan hal itu padaku, Renata? Apa salahku dan Nara?"


"Semua ini karena kamu menolak perjodohan yang kakekku dan kakek kamu akan lakukan. Kakek kamu tidak mau memaksa kamu yang tidak mau perjodohan ini. Kamu tau? Hal itu berakibat fatal untuk kesehatan kakekku yang bermimpi membesarkan usahanya yang akan bangkrut jika menikahkan aku dengan kamu, tapi ternyata kita tidak jadi menikah dan usaha kakekku hancur, bahkan membuat keluargaku menderita. Aku membencimu dan menunggu kesempatan membalas semua ini dan Jacob datang untuk menawari kesempatan itu."


"Renata dan aku adalah sepasang kekasih sekarang." Tangan Jacob memeluk pinggang Renata. "Aku senang memiliki kekasih yang memiliki misi yang sama denganku."


Mereka berdua saling melihat. "Aku senang bisa membantu rencana kamu, Sayang." Renata malah mencium Jacob dengan tidak sungkan pada Jaden.


"Perbuatan kalian sungguh tidak bisa dimaafkan. Kalian boleh menyakitiku, tapi aku tidak terima jika ternyata kalian yang merencanakan atas hilangnya bayiku yang tidak bersalah." Tangan Jaden masing mengepal erat.


"Menyakitkan bukan rasanya? Seperti itu rasanya saat Nara kamu ambil dan Mauren membandingkan aku dengan kamu. Satu lagi, saat kakek lebih percaya dengan kamu daripada aku cucu kandungnya sendiri. Kamu mengambil semuanya dariku Jaden Luther! Aku membenci kamu. Sangat membenci kamu!" Jacob berteriak di muka Jaden.


"Aku sudah berjanji pada kakek tidak akan menyakiti kamu, tapi kamu sudah menyakiti bayiku. Aku akan lupakan janjiku pada kakek."


Jaden menonjok wajah Jacob dan mereka terlibat perkelahian. Renata yang melihat dua orang sedang bergelut itu memanggil beberapa pengawal Jacob yang ternyata ada di sana.


Mereka mengeroyok Jaden, tapi Jaden dengan sekuat tenaga melawan mereka.


Naasnya Jaden saat itu tidak membawa serta anak buahnya karena dia merasa bisa mengurusi urusannya di sana sendiri.


"Pegangi dia! Aku akan menghabisinya sekarang juga."


Dua orang suruhan Jacob memegangi kedua tangan Jaden dan Jacob menghajar Jaden.


Jaden mencoba melawan walaupun tubuhnya sudah penuh luka dan darah yang keluar dari dahi dan mulutnya.

__ADS_1


"Pengecut. Lawan aku sendiri kalau kamu berani. Kamu tau kenapa kakek lebih memilihku daripada kamu? Itu karena kamu seorang pengecut, Jacob. Bahkan kamu tidak berani mengakui jika kamu yang sudah menyebabkan kecelakaan orang tua Nara." Jaden tersenyum menghina Jacob.


"Brengsek!" Jacob melayangkan pukulannya, dan Jaden jatuh tersungkur ke lantai.


Jacob yang sudah emosi hendak memukul kursi yang ada di sana pada kepala Jaden, tapi Jaden ternyata masih bisa bertahan dan menarik kursi itu memukulkan pada Jacob. Jacob ganti jatuh di lantai dan Jaden berusaha lari dari sana setelah menembakkan beberapa peluru pada orang-orang suruhan Jacob.


Jaden berpikir jika dia harus tetap hidup dan tidak boleh mati hari ini karena dia harus membalas dendam pada orang-orang yang sudah mengusik hidupnya.


"Kejar dia! Aku mau kalian menghabisinya!" teriak Jacob.


Mereka terlibat kejar-kejaran di jalanan dan Jaden yang pelipisnya terluka membuat penghilatannya agak kabur dan tidak lama terdengar suara tabrakan benda yang sangat keras.


Orang-orang berkerumun dan segera memanggilkan tim medis untuk datang ke lokasi kejadian.


"Sayang, bagaimana ini?" tanya Renata yang berada di dalam mobil dengan Jacob.


"Kita tunggu saja. Semoga Jaden meninggal dalam kecelakaan itu dan akan aku buat seolah-olah dia mati dalam kecelakaan." Mobil Jacob perlahan mundur menjauhi dari lokasi kejadian.


Nara di tempatnya tampak merasakan hal buruk terjadi pada Jaden-- suaminya, dan dia sampai berteriak memanggil nama Jaden.


"Nara, kamu baik-baik saja?" tanya Paijo yang ternyata ada di sana menunggui Nara.


Nara sedang di rawat di rumah sakit karena dia pingsan di rumahnya. Tetangga sebelah di mana Nara mengkontrak rumah yang memberitahu Paijo jika Nara jatuh pingsan.


Dokter menyuruh Nara untuk dirawat beberapa hari di rumah sakit sampai keadaannya membaik.


"Paijo, aku bermimpi buruk tentang suamiku. Aku melihatnya bersimbah darah. Huft! Kenapa mimpi itu datang lagi?" Nara meneteskan air matanya.


"Nara, itu hanya mimpi kamu. Kamu jangan memikirkan terlalu berat. Nara, kamu harus ingat jika kamu sedang hamil dan kata dokter kamu tidak boleh terlalu stres karena dapat membuat janin kamu ada masalah," Paijo mengingat apa yang dokter kandungan Nara katakan padanya.

__ADS_1


Nara tampak terdiam sejenak melihat pada Paijo.


__ADS_2