
Dimas memilih meninggalkan rumahnya untuk sementara waktu agar dia dan juga V bisa menenangkan dirinya.
"Itukan Mitha? Apa yang dia lakukan di sini? Bukannya dia masih harus dirawat di rumah terapis?"
Dimas yang sedang mengendarai motornya tidak sengaja melihat Mitha dan beberapa temannya duduk bercanda di sebuah cafe out door.
"Itukan saudara sepupunya Evans. Itu Mauren." Kedua mata Dimas membulat melihat dengan siapa Mitha berbicara sambil tertawa bahagia.
"Kerja kamu bagus sekali. Aku tidak salah sudah menunjuk kamu untuk melakukan hal ini."
"Aku yang berterima kasih sama kamu, Mauren. Kamu sudah membuat aku bisa menemukan Dimas lagi setelah sekian lama, dan aku senang bisa bersamanya lagi."
"Kalian tau, akting depresi temanku ini sangat hebat dan dia benar-benar mendalaminya." Para gadis yang terdiri dari lima orang itu semua salut pada Mitha.
"Kamu ikut saja main film, nanti aku kenalkan pada pamanku. Dia kenal orang-orang penting di dunia entertainment."
"Aku tidak tertarik. Aku hanya ingin Dimas menjadi milikku lagi. Setelah sekian lama tidak bertemu, Dimas banyak berubah dan aku menyukai dirinya sekarang daripada yang dulu."
"Kamu sebentar lagi akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, Mitha, dan aku akan melihat si sombong dan sok cantik Denna menangis darah karena pria yang sangat dia cintai malah dengan orang lain."
"Sayang sekali apa yang kamu inginkan itu tidak akan tercapai karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah memilih kamu ataupun kembali sama kamu, Mitha."
"Dimas? Ke-kenapa kamu bisa di sini?" Mitha beranjak dari tempat duduknya saking terkejutnya.
"Aku tidak menyangka kejadian yang menimpa kedua orang tuamu, kamu gunakan untuk membohongiku seperti ini."
"Dimas, tunggu!" Mitha menahan lengan tangan Dimas yang mau pergi.
"Lepaskan! Aku bahkan tidak akan mau mengenal kamu lagi." Tangan Dimas melepaskan tangan Mitha dengan kasar.
"Dimas ...! Aku benar-benar menderita selama ini karena kepergian kedua orang tuaku!"
"Ikut saja pergi dengan mereka!" Dimas berjalan pergi dengan marah. dia mengendari motornya dengan sangat cepat memecah jalanan yang entah malam ini kenapa sepi sekali.
Dimas memang sengaja pergi dari kehidupan Denna karena dia tau adiknya mencintai Denna, dan apa yang dia lakukan pada Mitha murni dia ingin menolong Mitha dia benar-benar prihati pada keadaan Mitha sekaligus juga hal ini bisa Dimas gunakan sebagai alasan dia menjauh dari Denna, walaupun hatinya sangat sakit menyakiti Denna.
__ADS_1
Motor Dimas berhenti di sebuah gerbang besar dengan ukiran yang unik. Dia turun dari motornya dan berdiri menatap ke dalam gerbang itu. Sebuah jendela yang tidak terlalu besar adalah hal yang sedang dia ingin lihat. Dia berharap orang di balik jendela itu tau perasaannya yang sekarang benar-benar dia rasakan.
"Aku ingin membenci kamu, Dimas. Aku ingin membenci kamu." Terdengar isak tangis seorang gadis dengan tangannya menggenggam mainan berbentuk ikan.
Denna malam ini entah kenapa dia teringat tentang Dimas. Semua kenangannya dengan Dimas.
"Aku harus melupakan kamu karena kamu pasti sudah melupakan aku."
Denna beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendelanya untuk membuang kenangan dengan Dimas.
"Dimas?" Denna melihat dari kejauhan ada sosok pria yang dia dari tadi pikirkan. "Apa benar itu Dimas?"
Denna segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan cepat. Dia ingin memastikan jika yang dilihatnya adalah Dimas.
Kedua orang tuanya serta neneknya dan uncle Leo yang sedang berada di ruang tamu tampak bingung melihat Denna yang tiba-tiba berlari keluar rumah tanpa alas kaki. Apa lagi diluar sedang gerimis.
"Itu Denna mau ke mana? Kenapa dia berlarian seperti itu?"
Terdengar suara pintu utama di buka. Jaden yang merasa putrinya ada yang tidak beres, dia segera beranjak dari tempat duduknya.
Denna tidak mendengarkan, dia hanya ingin tau apa yang dia lihat dari atas jendela kamarnya Dimas atau halusinasinya saja karena terlalu memikirkannya.
"Dimas ...!" panggilnya, tapi di sana sudah tidak ada siapapun. "Aku tau kamu di sini. Kenapa kamu ke sini kalau kamu memang tidak mencintaiku!" teriak Denna dengan keras.
"Apa?" Jaden tampak kaget.
"Nek, apa maksud ucapan Denna?" tanya Nara bingung.
Nenek hanya menghela napasnya pelan.
"Denna masuk!" titah Jaden pada putrinya, tapi Denna seperti sedang menangis di depan pagar utama.
"Aku akan menyusulnya. Dia bisa sakit jika kehujanan malam-malam begini."
Jaden berlari di tengah hujan yang semakin deras Jaden melihat putrinya yang menangis dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Dari tempatnya bersembunyi pria bernama Dimas itu melihat gadis yang sangat dia cintai, hatinya juga terasa hancur.
__ADS_1
"Denna, apa yang kamu lakukan di sana?" Nara segera memberi handuk putrinya dan suaminya.
Denna hanya terdiam dengan air mata yang masih. "Denna, apa kamu bisa jelaskan pada ayah apa yang kamu maksud tadi? Kenapa kamu memanggil nama Dimas?"
"Tuan Jaden, sebaiknya biarkan dulu Denna mengeringkan bajunya."
"Leo, aku ingin tau sekarang. Apa yang sebenarnya membuat Denna sampai menangis seperti ini?"
"Yah, aku mencintai Dimas," ucap Denna terbata.
"Apa? Kamu mencintai Dimas bodyguard kamu itu? Lalu, tentang V?"
"Jaden, nanti kita bicara masalah ini. Kamu dan Denna gani baju dulu. Aku tidak mau kalian berdua sampai sakit."
"Tapi, Nek, aku mau masalah ini jelas." Jaden sudah ingin keluar taringnya saja melihat putrinya menangis.
Akhirnya Jaden menuruti apa kata nenek dan beberapa menit kemudian mereka semua sudah berkumpul di ruangan tengah yang hangat ditemani perapian yang sudah dinyalakan.
"Sekarang jelaskan semua pada ayah."
Denna menceritakan tentang dirinya, Dimas dan juga V. Bagaimana dia dan Dimas pun akhirnya berpisah. Nara pernah merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya. Dia yang duduk di samping putrinya memeluk Denna erat.
"Berani sekali Dimas menyakiti hati putriku. Apa dia minta mati?" Jaden mukanya sudah kesal.
"Sayang, kamu jangan bicara sembarang."
"Apa mungkin Dimas sebenarnya tidak menyukai mantan kekasihnya itu? Bisa saja Dimas juga sebenarnya mencintai Denna, tapi dia tau adiknya sangat mencintai Denna," terang uncle Leo
"Kalau seperti itu berarti sejarah terulang," celetuk Nara sambil melihat pada suaminya. Jaden malah tersenyum tidak percaya.
"Ayah akan menghubungi Dimas dan bertanya langsung padanya. Apa benar dia memang lebih memilih mantannya atau dia melakukan ini karena adiknya?"
"Itu berarti Denna akan menyakiti V. V anak yang baik selama ini aku lihat, Tuan Jaden."
Jaden melihat pada putrinya. Denna berdiri dari tempatnya dan sekarang dia tepat di depan ayahnya. "Yah, dan semuanya. Denna minta maaf sudah membuat kalian cemas. Biar Denna selesaikan sendiri masalah yang sedang Denna hadapi. Denna bukan anak kecil lagi, jadi tidak seharusnya bersikap kekanak-kanakan seperti ini."
__ADS_1
"Baiklah! Ayah percaya kamu bisa menyelesaikan masalah kamu ini." Jaden mengusap kepala putrinya lembut. "Tapi ayah minta satu hal, ayah tidak mau melihat ada air mata di mata putri ayah, atau ayah nanti yang akan turun tangan dengan cara ayah sendiri." Denna mengangguk perlahan.s