
Sandra terdiam di tempatnya. Dia tidak menyangka jika pria yang dia sangat cintai ingin dia mati hanya karena sudah menyakiti seorang pelayannya.
"Kamu memiliki dua pilihan. Mau mati aku bunuh atau kamu membunuh diri kamu sendiri? Pilihan ada pada diri kamu."
Nara sampai menggelengkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Jaden. "Tuan, aku mohon jangan berbuat hal yang buruk dengan Mba Sandra, maafkan dia, Tuan." Nara berusaha memohon pada Jaden.
"Tunggu, aku masih memiliki pilihan ketiga yang mungkin kamu sukai, yaitu menjadi seorang wanita penghibur di salah satu club milikku. Bukannya itu yang kamu inginkan dari Nara. Menjauhkan Nara dariku dengan meminta Roy menodai Nara dan menjualnya."
Jaden memberikan pistol yang dia pegang pada Sandra. "Jaden, aku tidak mau!" Sandra mencoba menolak pistol yang diberikan oleh Jaden.
"Bunuh diri kamu sendiri, jika tidak mau maka aku yang akan menghabisi kamu, atau pilih pilihan ketiga"
Gantian sekarang Sandra yang menodongkan pistol pada Jaden.
Nara tampak panik jika nanti Sandra malah akan menembak Jaden. "Tuan." Nara memegang lengan tangan Jaden.
"Aku tidak memilih semuanya karena aku memiliki pilihan sendiri, yaitu menghabisi Nara." Pistol itu malah ditodongkan pada Nara. Seketika wajah Nara terkejut melihat hal itu.
"Mba Sandra," ucap Nara tidak percaya.
"Aku sangat membenci kamu, Nara. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Jaden, maka orang lain tidak akan bisa mendapatkan dia, dan aku tidak terima jika kamu yang memiliki Jaden karena kamu hanya seorang pelayan tidak tau diri!" serunya marah.
"Ck!" Jaden dengan cepat merampas pistol di tangan Sandra, dan Sandra sangat terkejut karena sekarang pistol kembali ke tangan sang pemilik sebenarnya.
"Tuan."
"Apa kamu masih mau membela wanita yang bahkan sangat membenci kamu, Nara? Kamu sekarang tau bagaimana dengan sifat asli dari Sandra?"
"Walaupun dia menginginkan aku mati, tapi aku tidak mau Tuan menjadi pembunuh lagi."
Jaden melihat pada Nara. "Membunuh adalah bagian dari hidupku."
"Tapi jangan lakukan pada Mba Sandra, jangan bunuh dia," mohon Nara.
"Baiklah! Kalau begitu kita ambil pilihan ketiga. Bawa dia pergi dan kirim ke tempat Luxo sekarang juga." Pengawal Jaden yang dari tadi berdiri di sana langsung membawa Sandra dengan paksa.
__ADS_1
"Jaden ... Jangan lakukan hal ini padaku. Jaden!" teriak Sandra histeris.
Nara yang melihatnya hanya bisa terpaku di tempatnya. "Tuan, apa--?"
Jaden tidak berbicara malah masuk ke dalam walk on closetnya. Nara yang tidak menyerah mengejar Jaden. "Tuan, kenapa malah--."
Nara tidak menyelesaikan kata-katanya karena mulutnya malah di bungkam oleh Jaden dengan bibirnya.
"Le ... pas ... kan!" Nara mendorong tubuh Jaden dengan kuat sampai ciuman mereka terlepas.
"Kenapa? Kamu tidak menyukai ciumanku?"
"Jangan membahas soal ciuman. Apa yang Tuan JL lakukan pada Mba Sandra itu sangat tidak manusiawi. Bagaimana jika keluarganya mencari keberadaan Mba Sandra?"
Kedua alis Jaden mengkerut. "Apa tidak terbalik. Apa yang dia lakukan padamu itu lebih tidak manusiawi, Nara." Jaden mengusap pipi Nara lembut. "Kamu jangan khawatir aku akan mengurus semuanya. Dia tidak akan dicari oleh siapapun."
Jaden berjalan keluar dari kamarnya, dan mengambil segelas air. Dia mencoba menenangkan dirinya bersandar pada tempat tidurnya.
Nara bingung harus bicara apa lagi dengan pria dingin itu. Nara tau jika Jaden sudah mengambil keputusan dia tidak akan merubahnya.
"Memberi mereka hukuman dan siksaan yang akan mereka terima sampai mereka ingin mati sendiri," ucap Jaden dengan mata tertutup.
"A-apa maksud kamu?" Nara mendengarnya kok ngeri sendiri.
"Aku menghabisi orang yang menjadi bos yang akan menjual kamu ke luar negeri, dan para berandal remaja itu aku kirim mereka ke tempat di mana kamu tidak akan mau ke sana." Jaden masih bicara dengan mata tertutup bersandar santai pada tepi ranjang.
Nara duduk lemas di atas lantai. Dia tidak menyangka akan dapat mencintai pria kejam di depannya ini.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Jaden mengerang merasakan tidak enak dengan tubuhnya.
Nara yang melihat hal itu menjadi panik. Dia mendekat ke arah Jaden. "Tuan, Tuan kenapa?"
"Tubuhku kenapa begini?"
"Tubuh Tuan kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak tau, tapi rasanya seperti terbakar." Jaden yang tadi menunduk seketika mengangkat kepalanya dan melihat dengan tatapan tajam pada Nara.
"Tuan, Tuan kenapa? Memangnya tadi Tuan makan apa?"
"Aku hanya minum air putih yang ada di nakas itu. Apa yang kamu berikan ke dalam minuman itu?"
Nara segera mengambil teko kaca dan mengendus air di dalamnya. "Tidak ada yang aneh dengan minuman yang dibawa oleh Mba Sandra."
"Apa? Jadi minuman itu Sandra yang membawa?" Nara mengangguk. "Berengsek! Nara, aku ingin kamu pergi saja dari sini karena aku tidak akan bisa menahannya lagi."
"A-apa maksud, Tuan?" Nara bingung.
"Sandra sepertinya memasukkan obat perangsang ke dalam minuman itu. Kamu pergilah dari sini, Nara."
Jaden mencengkeram sprei miliknya dengan kuat mencoba menahan dirinya agar tidak sampai berbuat buruk pada Nara.
Sandra memang sudah merencanakan untuk menjadikan Jaden miliknya dengan membuat Jaden menidurinya, dengan begitu nanti Jaden akan bertanggung jawab pada dirinya. Sandra akan membuat Nara pergi dari rumah dengan mempengaruhi Nara agar dia pergi dari rumah jika ingin Sandra bisa bersatu dengan Jaden.
"O-obat perangsang? A-aku akan panggilkan dokter Will."
"Tidak akan sempat, Nara!" Jaden tampak tersiksa karena efek obat itu. "Kamu pergi saja, dan jika aku tidak selamat, kamu pergilah dengan uang milikku. Jangan kembali pada Paman kamu."
"Tuan, jangan berkata seperti itu. Tuan, akan baik-baik saja." Nara malah memeluk erat Jaden.
"Nara! Pergi dari sini, atau akan akan melakukan hal yang sangat kamu benci nantinya." Jaden mendorong Nara.
Nara tau apa yang dimaksud oleh Jaden. Dia segera menuju pintu keluar dan melihat sekali lagi pada pria yang tampak mengeram di atas ranjang besarnya.
Nara menutup pintu dan menguncinya, kemudian dia berjalan ke arah Jaden. "Tuan, aku tidak tahu apa yang aku lakukan saat ini benar apa salah? Yang aku tau, aku tidak mau terjadi apa-apa sama Tuan."
"Nara, apa yang kamu katakan? Jangan menjadi gadis bodoh dengan tetap berdiri di sini. Cepat pergi!" seru Jaden marah.
"Kalau aku pergi, Tuan bisa mati, aku tidak mau hal itu terjadi."
Nara naik ke atas ranjang besar milik Jaden dan menarik wajah pria itu dengan berlinang air mata. Nara memberi kecupan lembut pada bibir Jaden.
__ADS_1