
Acara malam itu di tutup dengan pembacaan dana yang terkumpul dan akan segera diberikan kepada yang membutuhkan serta pembangunan rumah sakit kanker baru untuk anak-anak yang tidak mampu.
Mereka berempat pulang ke rumah, bahkan Jaden juga ikut ke rumah. Pria itu berjalan menuju kamarnya.
"Nak, kamu tidur di rumah? Bukannya kamu biasanya tidur dan menginap di rumah Cathy?" tanya wanita cantik itu.
"Cathy malam ini tidak ada di tempatnya. Dia sedang pergi karena ada acara."
"Sampai kapan kamu akan di sini, Jaden?" tanya pria yang menjadi ayahnya dengan nada dingin.
"Lusa aku akan pulang, Tuan Carlos." Jaden tau dia dan ayahnya sekarang hubungannya sedang tidak baik, bahkan seolah tidak ada hubungan antara ayah dan anak.
Jaden berjalan naik ke lantai atas. Nara juga ingin izin pergi ke kamarnya. "Nara, jangan lupa besok bangun lebih awal karena aku akan mengajak kamu lari pagi di taman." Nara mengangguk. Lalu dia berjalan ke lantai atas kamarnya setelah mendapat kecupan selamat malam dari mama Miranda.
"Carlos, apa kamu sedang ada masalah dengan Jaden? Kalian kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kesal saja dengan anak itu."
"Kesal kenapa? Apa yang sudah dilakukan oleh putra kamu itu?" Tangan Miranda mengusap pundaknya.
Carlos menatap istrinya tajam. "Dia bukan anak kita, seharusnya kamu sadar akan hal itu. Jangan kamu terlalu membelanya."
Jacob yang masih di sana mendengar apa yang sedang ayah dan mamanya debatkan. "Yah, bagaimanapun juga Jaden adalah kakakku, walaupun dia anak angkat Mama dan Ayah. Aku dan Jaden dibesarkan bersama, aku juga sudah menganggap dia kakakku," tuturnya.
"Terserah, tapi ayah hanya ingin kamu mendapatkan kebahagiaan kamu, Jacob." Pria itu melangkah tegas menuju kamar tidurnya.
Kamar Nara dan Jaden ada di atas, sedangkan karena memakai kursi roda kamar Jacob pindah di bawah. Orang tua Jacob pun berpindah di bawah untuk menemani putranya jika membutuhkan bantuan.
Nara dengan wajah malasnya membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk perlahan.
"Tuan JL?"
Nara kaget karena di dalam kamarnya tiba-tiba pria dingin itu memeluknya dan mendaratkan ciumannya pada bibir Nara. Jaden mengecup bibir Nara, tapi gadis itu tampak mencoba menghentikan ciuman Jaden.
__ADS_1
"Hentikan, Tuan," Nara memelankan suaranya.
"Katakan kalau kamu sudah tidak mencintaiku?"
Nara menatap dengan pandangan datar. "Keluar dari kamarku, Tuan JL. Aku tidak mau Jacob melihat kita berdua di dalam kamar."
"Aku tidak peduli, bahkan Jacob harus sadar jika kamu hanya mencintaiku, Nara."
"Jacob tidak pantas, aku dan Tuan JL sakiti. Aku sudah memutuskan bersama dengan Jacob."
"Aku mohon maafkan aku, Nara. Aku minta maaf dengan semua yang sudah aku lakukan. Aku sudah jelaskan kenapa waktu itu aku berbuat seperti itu."
"Kamu memikirkan tentang keluarga kamu, kenapa tidak memikirkan tentang perasaanku? Sekarang aku sudah memutuskan dengan Jacob. Bukankah kamu harus senang melihat adik kamu bahagia?"
Jaden tidak berkata, dia malah sekarang bersimpuh di hadapan Nara. Nara yang melihat hal itu merasa seperti tersayat hatinya. Seorang Jaden Luther sang mafia yang kejam bersimpuh di depannya.
"Aku tidak tau harus berbicara apa. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku benar-benar takut kehilangan kamu dan bayi kita, Nara." Jaden mengecup perut Nara yang masih rata, dan menyandarkan kepalanya pada perut Nara.
Nara tampak menangis dengan menahan suara tangisannya. Tangannya menutup pada mulutnya agar suaranya tidak terdengar sampai ke luar.
"Tuan JL, semua sudah terlambat. Pergi dari sini."
Jaden beranjak dari tempatnya dan berdiri menatap Nara. "Aku akan mengatakan pada Jacob untuk memberikan kamu padaku karena dia tidak bisa memiliki kamu dan bayiku."
Jaden keluar dan bermaksud turun ke lantai bawah, tapi sekali lagi Nara menghalanginya. Nara sangat takut jika ayah Jacob akan membunuhnya. Dia tidak akan bisa melihat Jaden meninggal.
"Tuan JL, kalau kamu menyakiti Jacob, aku akan membunuh diriku sendiri sekarang juga."
"Apa? Nara kenapa kamu begitu takut akan menyakiti Jacob? Apa ada yang mengancam kamu?" Jaden melihat curiga pada Nara.
"Tidak ada yang mengancamku, ini semua sudah keputusanku. Jacob sudah sangat baik menerimaku dan aku tidak ingin kamu menyakitinya."
"Tapi kamu tidak mencintai dia, Nara!"
__ADS_1
"Cinta nanti akan datang sendirinya, dan perlahan-lahan aku akan bisa melupakan kamu, Tuan JL. Sekarang pergi dari kamarku dan sebaiknya Tuan JL meninggalkan Kanada. Hiduplah seperti saat kita tidak pernah bertemu. Aku akan membesarkan anak ini dengan sangat baik." Nara menatap nanar pada Jaden.
Pria itu mengeraskan rahangnya. Dia keluar dari kamar Nara dan akan mencari tau ada apa dengan Nara karena Jaden curiga ada yang tidak benar dari sikap Nara.
Setelah Jaden keluar dari kamarnya, tubuh Nara melorot ke bawah lemas. Dia benar-benar tidak ingin menyakiti Jaden, tapi dia tidak punya pilihan lain. "Tuan JL, aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Nara memeluk perutnya.
***
Pagi itu Nara yang sudah siap memakai baju untuk lari pagi dengan Jacob, dia tampak terlihat segar walaupun semalam dia habis menangis.
"Nara, ayo kita pergi sekarang."
"Iya, udaranya pasti masih sangat segar, apalagi di taman itu sangat indah."
Nara mendorong kursi roda Jacob sampai ke taman. Di sana Nara mulai berlari kecil dan Jacob mengayuh sendiri kursi rodanya mengikuti Nara.
Tidak sampai setengah perjalanan mereka dihadang oleh Jaden. Jaden berdiri dengan memakai baju casualnya.
"Tuan JL?"
"Kakak, kenapa ada di sini? Kalau aku tau Kakak ingin ikut kita lari pagi, aku akan mengajak Kamu."
Nara tampak berkeringat seperti orang kelelahan. Dahal Nara baru lari pagi sebentar.
"Nara, kamu minum dulu." Jaden memberikan botol minum miliknya. "Kenapa kamu ceroboh sekali? Kamu sedang hamil, dan untuk apa kamu lari pagi? Kamu ingin bayi dalam kandungan kamu keguguran?"
Nara seketika marah mendengar ucapan Jaden. "Aku adalah orang yang sangat mencintai bayi ini, bahkan mungkin hanya aku yang mencintainya."
"Jacob, kenapa kamu mengajak Nara lari pagi? Kamu tau, kan, jika Nara sedang mengandung, dan hal itu bisa membahayakan bayi dalam kandungan Nara?"
"Aku tidak tau akan hal itu. Aku hanya berpikiran jika ini hari libur dan aku ingin mengajak Nara berkeliling di taman. Itu saja."
"Jacob tidak tau masalah itu. Jangan salahkan dia. Jacob, sayang pada bayiku. Dia sudah mau menerimaku dengan keadaanku seperti ini."
__ADS_1
Jaden berjalan mendekat pada Jacob. "Jacob, berikan Nara padaku," ucap Jaden tegas. Mata Nara membulat lebar mendengar hal itu.