Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Perasaan yang Sudah Hilang


__ADS_3

Mitha melihat-lihat foto Dimas dan V yang ada di atas bufet kayu panjang yang ada di ruang tamu rumah Dimas, sementara itu Dimas membuatkan minuman untuk Mitha.


"Aku tidak akan membiarkan hati kamu untuk orang lain, Dimas karena hati kamu tetap milikku." Mitha bicara dengan foto Dimas.


Tidak lama pria yang dicintai oleh Mitha itu datang membawa dua buah cangkir minuman.


"Kalian di sini hanya berdua ya, Dimas?"


"Iya, ibu V sudah meninggal, jadi aku hanya berdua dengan V. Sedangkan orang tua angkatku memilih tinggal di desa karena di sana suasananya lebih tenang."


"Kamu sendiri sekarang bekerja di mana?" Mitha duduk di samping Dimas.


"Aku bekerja menjadi bodyguard untuk putri salah seorang pengusaha."


"Apa? Kamu menjadi pengawal salah satu putri seorang pengusaha? Apa gadis itu yang dimaksud oleh adik kamu?" Telisik Mitha.


Dimas melihat datar pada Mitha. "Mitha, aku minta maaf karena aku tidak bisa menceritakan tentang semua hal tentang kehidupanku. Aku harap kamu paham."


"Aku minta maaf, Dimas. Jujur saja aku ikut senang jika kamu mendapatkan seseorang yang sangat baik dan kamu mencintainya karena dulu aku tidak bisa mempertahankan kamu." Wajah Mitha tampak sedih.


"Mitha, kita tidak perlu membicarakan masa lalu karena semua sudah aku lupakan, dan aku tidak marah sama kamu ataupun kedua orang tuamu."


"Tapi tetap saja aku merasa masih bersalah dengan kamu. Andai waktu itu aku berani menentang kedua orang tuaku dan tidak memutuskan hubungan dengan kamu, pasti sekarang kita masih bersama."


Dimas hanya menatapnya datar. "Mungkin memang harus begini jalannya. Kamu sendiri sekarang apa kesibukan kamu di sini?"


"Aku akan bekerja di perusahaan milik mendiang ayahku yang ada di sini, tapi untuk sementara waktu aku mau menikmati liburanku dulu di sini."


"Memang kamu lebih baik mencari kesibukan agar tidak terlalu bersedih memikirkan tentang mendiang orang tua kamu."


"Iya, Dimas, dan aku senang bisa bertemu lagi sama kamu." Mitha yang tampak senang memegang tangan Dimas.


Dimas melihat langsung pada tangannya. "Mitha." Dimas melepaskan tangan Mitha. "Sebaiknya jaga sikap kamu. Aku tidak mau ada salah paham nantinya."


"Dengan kekasih kamu maksudnya?"


"Tidak hanya dengan kekasihku, tapi juga kekasih kamu."

__ADS_1


"Kekasih? Aku tidak memiliki seorang kekasih. Sejak hubungan kita dulu berakhir, aku sangat sulit menjalin hubungan dengan orang lain."


"Seharusnya kamu bisa membuka diri kamu, Mitha."


"Dimas, apa kamu sudah benar-benar melupakan aku dan tidak memiliki perasaan apapun padaku?"


Dimas terdiam sejenak menatap Mitha. "Aku sudah mengatakan untuk kita tidak perlu membicarakan masa lalu."


"Aku hanya ingin tau saja, Dimas. Agar aku bisa meyakinkan hatiku untuk tidak berharap akan perasaan yang dulu kita rasakan masih ada."


"Rasa cintaku kepada kamu sudah tidak ada, Mitha. Bahkan kamu dari dulu sudah tau jika kita menjalani hubungan itu karena apa. Kamu juga yang memutuskan semuanya. Apa yang aku lakukan karena tidak ingin menyakiti kamu."


Seketika air mata gadis itu menetes perlahan mendengar apa yang Dimas katakan.


Dulu itu sebenarnya mereka jadian hanya karena Mitha yang menyatakan cinta duluan pada Dimas. Dimas yang memang sangat menghargai seorang wanita menerima pernyataan cinta Mitha di depan teman satu kelasnya. Mitha menyukai Dimas yang tampan, pintar dan banyak disukai banyak teman-teman gadis di sana.


Hubungan mereka berjalan beberapa bulan dan Dimas mencoba menjalani hubungannya dengan baik dengan Mitha, sampai pada akhirnya Mitha memutuskan Dimas karena kedua orang tua Mitha tidak suka dengan putrinya yang berpacaran dengan pemuda dari kalangan biasa.


Mitha pun menuruti apa kata kedua orang tuanya dan Mitha pindah ke luar negeri.


Gadis berambut panjang itu menghapus air matanya. "Tentu saja aku mau, siapa yang tidak mau memiliki teman sebaik kamu."


Mitha berada di sana sampai beberapa jam. Kemudian Mitha mengajak Dimas untuk berswan foto. Awalnya Dimas menolak karena memang dia tidak suka berfoto. Di rumahnya saja hanya ada beberapa foto dirinya.


"Susah sekali mengajak kamu berfoto. Aku hanya ingin memiliki kenang-kenangan dengan kamu. Apa lagi dulu kita tidak pernah memiliki kenangan bersama." Mitha terkekeh melihat foto dirinya dan Dimas di ponsel.


"Kamu pulang dengan supir kamu, kan?"


"Iya, aku dijemput oleh supirku. Dimas, terima kasih atas malam ini. Kapan-kapan aku bolehkan ke rumah kamu lagi?"


"Tentu saja."


"Perkenalkan juga aku dengan kekasih kamu itu."


"Iya, nanti pasti akan aku perkenalkan kamu dengannya."


Dimas mengantar Mitha sampai di depan rumahnya dan Mitha memeluk Dimas sekali lagi.

__ADS_1


"Bye Dimas." Mitha segera keluar dari rumah Dimas dan masuk ke dalam mobilnya.


Sebelumnya di rumah Denna dia sedang berada di ruang tengah dengan nenek buyutnya.


"Nek, rumah ini sepi ya kalau tidak ada mama dan ayah serta uncle Leo?" Gadis itu sedang bersandar pada dada neneknya.


"Iya. Kamu kangen ya sama kedua orang tua kamu?" Denna mengangguk. "Bukannya tadi sudah berbicara dengan mereka, kamu masih kangen?"


Denna menarik kepalanya. "Iya, tadi ayah juga terburu-buru waktu mengajak aku berbicara. Aku jadi kurang puas berbicara dengan mereka."


"Besok setelah mereka selesai dengan pekerjaannya pasti akan menghubungi kamu lagi. Kamu tunggu saja."


"Nek, apa Denna boleh bertanya?"


"Mau tanya apa?"


"Nenek dulu berpacaran dengan mendiang kakek saat masih sekolah atau sudah kuliah?"


"Ada apa kamu bertanya hal itu? Apa ini ada hubungannya dengan pria yang memberikan kamu dessert itu?"


"Dessert? Nenek kenapa bisa tau aku diberi dessert oleh seorang pria?" Denna agak kaget.


Nenek terkekeh. "Kamu mudah terpancing ya? Nenek hanya menebaknya saja, nenek lihat kamu meletakkan dessert itu di lemari pendingin dan nenek hanya mengira saja itu kamu diberi oleh seseorang dan ternyata benar. Siapa pria itu?"


"Nenek ini pintar sekali. Itu hanya diberi oleh teman sesama dokter muda yang praktik di sana. Namanya V dan dia beberapa kali menolongku, Nek. Dia sangat baik."


"V? Kapan-kapan perkenalkan pada Nenek supaya nenek bisa menilainya."


"Untuk apa, Nek. Aku dan dia hanya berteman saja tidak lebih."


"Awalnya juga nenek dan kakek dulu berteman, dan kakek sering menolong nenek, sampai akhirnya kita jatuh cinta."


"Ah, Nenek! Aku tidak mungkin jatuh cinta sama V karena aku sudah--." Denna tidak meneruskan ucapannya. Dia tidak mau kalau sampai keluarganya tau dia dan Dimas saling jatuh cinta.


"Sudah apa?" tanya nenek penasaran.


"Nek, aku tidur dulu, ya? Selamat malam, Nenek." Denna mengecup pipi neneknya dan naik ke lantai atas kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2