Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kebaikan Jaden


__ADS_3

Seorang bocah laki-laki tengah berbaring di atas ranjang kecilnya dengan selimut dan alat pengukur suhu tubuh berada di dalam mulutnya.


"Badan kamu panas, Jaden." Sebuah tangan menyentuh dahi bocah laki-laki itu, dan mengambil termometer dari mulut bocah itu. "Tuch beneran masih panas," lanjutnya.


"Aku tidak mau minum obat, Ibu. Aku nanti pasti akan sembuh sendiri."


"Obat itu hanya sementara pahitnya. Nanti juga akan hilang sendiri. Bukannya Jaden ibu seorang pria kecil yang pemberani. Masak kalah sama obat yang kecil begini." Tangan wanita itu menunjukkan pil berwarna putih yang dipegangnya.


"Biarin saja kalau dia tidak mau minum obat, Bu. Biar Jaden tetap sakit dan terus berbaring di kamarnya. Kita tinggal saja dia sendiri di rumah," suara seorang gadis yang usianya lebih dewasa dari Jaden.


"Memangnya kalian mau ke mana?"


"Tentu saja aku, Ibu dan ayah mau pergi jalan-jalan ke taman hiburan yang baru di buka. Kamu tau, J? Di sana banyak sekali wahana permainan yang kamu sukai. Rollercoaster, bianglala yang sangat besar, dan lautan ombak besar."


"Benarkah? Kalau begitu aku mau ikut ke sana." Seketika Jaden kecil tampak bersemangat.


"Eh! Tidak bisa, kamu tidak bisa ikut karena kamu masih sakit. Kamu di rumah saja dengan Bi Ima."


Kedua alis tebal milik pria kecil itu mengkerut hampir menyatu. "Ibu, kenapa aku tidak boleh ikut? Aku sudah baik-baik saja."


"Baik bagaimana?" Tangan gadis dengan rambut dikuncir kudanya itu memegang dahi adiknya. "Ini badan kamu masih panas. Kalau kamu paksakan ikut, kalau sakit kamu tambah parah bagaimana?"


"Ibu ...." rengek Jaden kecil.


"Benar apa kata kakak kamu, kalau mau ikut Jaden harus sembuh dulu."


"Baiklah, aku akan minum obatnya, tapi setelah minum obat, kita pergi ke taman hiburan itu ya, Bu?"


Kedua wanita cantik yang berbeda usia itu saling melihat satu sama lain dan saling memberi isyarat bahwa rencana mereka berdua sepertinya berhasil.


"Kalau begitu minum obatnya." Wanita itu memberikan obat pada Jaden dan Jaden segera memasukkan ke dalam mulutnya.


"Sudah aku minum," ucapnya cepat.

__ADS_1


"Apa tidak perlu air minum?" tanya kakak perempuannya. Jaden menggeleng pelan.


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja dulu, dan besok pagi kita akan pergi ke taman hiburan itu." Wanita cantik yang tak lain adalah ibu Jaden mengecup kening putranya dan beranjak pergi dari sana.


"Ih! Rasanya pasti tidak enak," goda kakaknya pada Jaden. Lalu, gadis itu langsung berlari pergi mengikuti ibunya keluar dari kamar Jaden.


Seketika Jaden memuntahkan obat yang ternyata tidak dia telan, dia menyimpan obat di bawah lidahnya.


"Pahit sekali, tidak enak." Jaden nyengir dan segera mengambil air minum, dia minum air sebanyak-banyaknya. "Aku harus sembuh, biar mereka tidak memaksaku meminum obat terus," dialognya sendiri.


Terdengar suara tertawa Nara di dalam kamar Jaden, dan pria yang sedang ditertawakan Nara itu hanya terdiam melihat Nara yang terlihat bahagia atas penderitaan yang dialami oleh Jaden.


"Kamu nakal sekali waktu kecil. Kalau begitu sekarang buka mulut kamu," titah Nara.


"Untuk apa? Mau menciumku lagi?" tanya Jaden santai.


"Siapa yang mau mencium kamu? Aku mau memeriksa apa obat itu beneran sudah Tuan minum atau sembunyikan di bawah lidah. Buka mulutnya," suara Nara terdengar seperti Jaden saja.


"Tidak percaya, coba kamu buka mulut kamu dan aku akan memeriksanya." Nara berdiri di depan Jaden dan melihat ke dalam mulut Jaden yang entah kenapa malah menurut dengan perintah Nara untuk membuka mulutnya.


"Tidak ada, Kan?" tanya Jaden dengan suara terdengar tidak jelas.


"Angkat lidah kamu ke atas, aku mau memastikan, Tuan."


Jaden yang kesal malah menarik tubuh Nara dan akhirnya posisi mereka berdua sangat dekat, bahkan Nara dapat melihat dengan sangat dekat wajah Jaden yang sedang melihatnya.


Beberapa detik kedua pasang mata itu saling mematri dengan lekat.


Tidak lama terdengar suara ketukan pintu yang membuat dua orang tersebut sadar akan lamunan mereka.


"Leo, ada apa?"


"Maaf, Tuan Jaden, saya tidak bermaksud untuk mengganggu kalian berdua tadi, tapi ada hal yang ingin saya berikan pada Tuan Jaden."

__ADS_1


Leo berjalan masuk ke dalam ruangan Jaden sambil melirik Nara sekilas. Nara yang seperti habis kepergok berbuat hal romantis dengan Jaden tampak malu.


"Kalau begitu aku permisi dulu mau membereskan peralatan makannya." Nara mengambil baki makan Jaden dan hendak membawanya keluar.


"Nara, nanti temani aku tidur di sini. Kamu harus menjagaku dua puluh empat jam."


"Iya, kalau begitu aku permisi dulu." Nara melihat pada Leo dan menganggukkan kepalanya pelan.


Setelah Nara benar-benar keluar dari kamar Jaden. Leo menyerahkan sebuah dokumen pada Jaden.


"Bagus, aku senang dengan hasil kerja kamu yang sangat bagus, Leo." Terlukis sebuah senyuman dari sudut bibir Jaden.


"Tuan, kita sudah benar-benar membuat pria itu bangkrut, dan dia tidak akan berani untuk menyombongkan kembali dirinya."


"Itu yang memang aku harapkan dan pastinya kamu juga, Leo. Selamat karena kamu sudah berhasil mendapatkan perusahaan milik kamu."


"Maksud, Tuan Jaden?" Leo tampak kaget.


"Aku mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kamu, Leo. Pria itu memang sangat licik dan ayah kamu begitu percaya padanya sampai dia dengan tega mengkhianati adiknya sendiri. Aku memberikan perusahaan itu sama kamu agar kamu dapat meneruskan usaha mendiang ayah kamu."


"Tapi, Tuan, saya sudah melupakan tentang hal itu dan saya sudah senang menjadi asisten pribadi Tuan Jaden."


"Apa kamu yakin? Jujur saja aku masih membutuhkan kamu untuk mengurus semua urusanku, tapi jika kamu ingin menjadi seorang pebisnis seperti apa yang ayah kamu cita-citakan untuk meneruskan perusahaannya, aku tidak akan menghalanginya."


"Terima kasih, Tuan begitu baik dengan saya selama ini, dari menjadikan saya asisten pribadi Tuan dan membantu biaya pengobatan ibu saya di luar negeri sampai memberikan rumah untuk keluarga saya karena harta keluarga benar-benar habis karena di tipu oleh saudara ayah, itu semua lebih dari cukup."


"Lalu, bagaimana dengan perusahaan milik keluarga kamu yang sudah aku ambil kembali dari paman bodoh kamu itu?"


"Biar Tuan Jaden saja yang menjalankannya dan aku tetap membantu semua yang Tuan perlukan."


"Kamu atur saja bagaimana baiknya. Aku hanya ingin membuat paman brengsek kamu itu menderita karena perbuatan jahatnya sama keluarga kamu dulu."


"Terima kasih sekali lagi karena selama ini Tuan begitu baik memikirkan keluarga saya Padahal saya sudah tidak mau memikirkan masalah itu karena ayah saya juga tidak akan bisa kembali hidup walaupun saya membalas dendam pada paman saya." Leo tampak sedih.

__ADS_1


__ADS_2