
Malam ini Nara di rumahnya tidak dapat tidur karena memikirkan sesuatu. Nara gelisah karena sekarang Jaden dan Cathy berada di rumah sakit berdua. Cathy menjaga Jaden malam ini.
"Lupakan Nara ... Lupakan dia. Kenapa kamu terus memikirkan dia?" Nara berdialog marah dengan dirinya sendiri yang tidak bisa melupakan Jaden.
"Dia itu sudah memiliki kekasih yang benar dia cintai. Kamu sudah benar-benar dilupakan oleh dia. Lagi pula kenapa kamu malah masih memikirkan pria yang sudah menyebabkan kedua orang tua kamu meninggal? Pria yang sudah mempermainkan hati kamu." Suara kebencian itu terus terdengar di telinga Jaden.
Di rumah sakit, Cathy sedang memberikan obat pada Jaden. Pria itu hanya melihat dengan tatapan datar pada wanita yang di telapak tangannya ada beberapa butir obat yang harus Jaden minum.
"Waktunya minum obat."
"Buang saja karena aku tidak akan minum."
"Kalau begini apa kamu mau minum?" Cathy meletakkan obat pada mulutnya dan menunjukkan separuh obatnya pada Jaden.
"Apa yang kamu lakukan?" Kedua alis Jaden mengkerut.
"Bukankan begini cara Nara-- gadis yang kamu cintai itu meminumkan obat sama kamu?"
Jaden malah tersenyum miring. "Jadi, kamu tadi melihatnya?"
"Huft!" Cathy mengambil obat dari mulutnya. "Iya, aku melihatnya. Kalian ini kenapa? Kalian saling mencintai, tapi kenapa kamu seolah membuat tembok besar pada hubungan kalian?"
"Kamu tidak perlu tau."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui Nara dan mengatakan semuanya. Semua tentang drama pacaran kita ini. Aku tidak peduli kamu mau menutup tempat usahaku nantinya.
"Tunggu, Cathy!" Jaden dengan cepat menahan tangan Cathy yang akan melangkah pergi dari sana.
"Aku menunggu jawaban kamu." Cathy bersedekap.
"Sebagai seorang anak yang sudah dijaga dan dirawat dengan sangat baik oleh keluarga Jacob, aku harus bisa membalas jasa kepada mereka. Mendiang ayahku adalah orang kepercayaan kakek Jacob, dan aku serta kakakku sudah sangat baik mereka anggap sebagai keluarga."
"Apa karena hal itu kamu mengorbankan cinta kamu dan Nara?"
Jaden melihat serius pada Cathy. "Saat keluargaku meninggal dunia dari pembantaian itu. Tuan Carlos dan keluarga mereka yang merawatku dari kecil walaupun aku akui pembataian itu terjadi karena memang resiko yang harus ditanggung oleh keluargaku karena ayahku yang bekerja di dunia gelap sebagai orang kepercayaan kakek Jacob yang selalu berhasil membuat musuh kakek Jacob kalah, hanya saja ayah Jacob tidak masuk dalam dunia gelap ini."
"Karena hal itu juga sahabat baikku Key harus mati dengan cara mengenaskan."
"Aku sudah membunuh para penjahat yang sudah membantai dan memperkosa Key."
"Nara sudah tau siapa aku dan dia berani menanggung resiko jika dia menginginkan bersama denganku. Waktu itu aku menghilangkan rasa takutku, dan berani menerima Nara dengan janji pada diriku sendiri aku akan melindungi Nara bagaimanapun caranya. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti Nara."
"Lantas, kenapa sekarang kamu berubah?"
"Aku penyebab kedua orang tua Nara meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Jujur aku sangat merasa bersalah kepada Nara."
"Apa? Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Jaden menceritakan bagaimana kecelakaan itu terjadi dan sampai Nara dijual oleh pamannya pada Jaden.
"Wow! Kamu pria yang sangat kejam dari kecil ternyata."
"Kejadian pembantaian itu yang menjadikan aku seperti ini, tapi aku tidak menyesal."
"Apa Nara sudah memaafkan kamu karena kejadian itu?"
"Dia sangat mencintaiku, dan tidak akan bisa membenciku."
"Huft! Cinta yang rumit. Jadi, kamu akan membiarkan Nara untuk Jacob?"
"Nara akan lebih aman dan bahagia dengan Jacob."
Jaden memandang suasana malam dari kaca jendela besar tepat di samping ranjangnya. Gemerlap lampu jalanan yang tampak indah dari balik kaca besar kamar Jaden menjadi teman kesepian dan kerinduan pada Nara.
***
Keesokan harinya, Nara yang ternyata sudah bangun dan menyiapkan makan pagi untuk keluarga Jacob mendengar dari arah ruang tengah Jacob sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Jadi kamu sudah keluar dari rumah sakit? Dan kenapa kamu tidak berpamitan pada kita kalau mau kembali ke rumah kamu?"
"Siapa yang sedang berbicara dengan Jacob?" Nara hatinya sudah tidak karuan saja rasanya mendengar kata kembali ke rumah kamu. Dia berjalan mendekat dan bersembunyi di balik dinding pembatas antara ruang tengah dengan arah dapur.
__ADS_1
"Kamu selalu tidak mau berpamitan dengan kita. Selalu sesuka kamu, tapi itulah kamu, Kak. Ya sudah kalau begitu, titip salam saja kepada nenek di sana. Aku masih belum bisa menjenguk nenek. Jaga diri kamu baik-baik."
Nara menutup mulutnya dengan kedua tangannya mendengar hal itu. Dia tau siapa yang sedang berbicara dengan Jacob di telepon.