
Jaden diberitahu Leo soal Renata yang lolos dari pencariannya, tapi Leo mendapati jika Renata sedang hamil besar.
"Apa itu anak adikku?"
"Tentu saja itu anak tuan muda Jacob karena tidak ada pria lain di kehidupan Renata."
"Leo, berarti sebelum kejadian yang waktu itu. Renata sudah mengandung anak Jacob?"
"Bisa saja, Tuan, tapi kenapa Renata begitu tega ingin menggugurkan kandungan Nara? Dia sendiri akan menjadi seorang ibu." Leo sampai tidak habis pikir.
"Dia memang sakit, Leo."
"Tuan, apa kita harus memberitahu Nenek masalah ini?"
"Nenek harus tau masalah ini. Bagaimanapun anak Renata adalah cicitnya."
Pagi itu Nara mengajak Nenek untuk berjalan-jalan ke mall untuk membeli baju-baju bayi.
"Nek, itu ada toko baju yang kelihatannya bajunya bagus-bagus." Nara menunjuk sebuah toko besar dengan ada banyak manekin anak kecil dengan baju yang sangat lucu-lucu.
"Ya sudah, kita masuk ke sana dan kamu jangan berlari-lari kegirangan begitu. Ingat, kamu sedang hamil besar, Nara."
"Iya, Nek. Aku sangat tidak sabar ingin melihat baju-baju bayi yang lucu-lucu itu." Nara menggandeng nenek dengan erat.
"Nek, bajunya lucu-lucu. Itu lucu, itu lucu!" seru Nara senang.
Nenek yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kamu itu yang lucu. Kegirangan sekali melihat baju-baju di sini."
"Ini pengalaman aku pertama kali, Nek, dan aku tidak sabar menunggu bayi kecil ini keluar. Aku penasaran dia mirip siapa? Kalau mirip ayahnya, siap-siap aku harus menyimpan stok sabar tiap hari."
Nenek terkekeh. "Kamu, kan, sudah bisa menaklukan ayahnya, pasti lebih mudah menaklukan anaknya."
Nara berpikir sebentar. "Kalau ayahnya tidak menggemaskan, jadi aku mudah menakhlukan. Kalau anaknya pasti lucu jadi susah, Nek." Wajah Nara cemberut.
"Bisa, pasti bisa." Tangan Nenek menepuk pundak Nara.
"Nek, kita lihat di sana dulu, ya?"
"Kamu saja, Nenek mau duduk sebentar di sini. Kaki nenek agak capek."
"Apa perlu kita pulang saja dan memeriksakan kaki Nenek?"
"Tidak perlu, Sayang. Kamu belanja saja dulu dan biar nenek tunggu di sini sambil menghilangkan sakit di kaki nenek."
Nara mengangguk dan pergi menuju lorong baju bayi baru lahir. Dia memilih baju dengan motif buah-buahan warna biru dan hijau karena Nara belum tau jenis kelamin bayinya. Nara dan Jaden sepakat untuk tidak bertanya tentang jenis kelamin bayi mereka karena mereka ingin mendapat sebuah kejutan.
__ADS_1
"Aku sebaiknya membeli baju untuk anak perempuan juga. Siapa tau anakku perempuan dan dia pasti lucu." Nara mengeluarkan kartu atm berwarna hitam. "Kata suamiku aku bisa memakai sepuasnya. Selama ini aku tidak pernah memakai kartu ini."
Nara melihat-lihat lagi baju-baju yang ada di sana.Tidak jauh dari tempatnya, Nara melihat ada seorang wanita dengan rambut pendek sebahu dan memakai masker serta kacamata hitam sedang kerepotan mengambil baju-baju bayi yang jatuh di bawah.
"Aku bantu ambilkan." Nara berjongkok perlahan dan membantu memunguti baju-baju di bawah.
"Ini baju kamu."
"Terima kasih," suara wanita itu tampak berat.
"Kamu sedang sakit? Kalau Mba sakit langsung periksa saja ke dokter, kasihan nanti pada bayinya."
"Bayiku baik-baik saja." Wanita itu mengambil baju miliknya dari tangan Nara dan berjalan pergi dari sana.
Nara melihat wanita barusan tampak dia pernah melihat mata wanita itu, tapi siapa?
Nara menemui nenek dengan membawa banyak barang-barang keperluan bayinya.
"Nek, aku sudah membeli semuanya." Nara menunjukkan dua goodie bag besar yang dibawakan oleh satu pelayan toko di sana.
"Kok cuma sedikit, Sayang? Kenapa tidak belanja yang banyak? Apa itu semua cukup untuk bayi kamu?"
"Sedikit? Nek, aku sudah menghabiskan uang di atm yang diberikan oleh Jaden. Lima juta, Nek. Apa itu sedikit?"
"Beli lagi? Tidak, Nek, ini sudah banyak dan aku tidak mau boros. Kita pulang saja dan aku akan menghubungi pak supir untuk membawakan barang-barang ini."
"Iya, jangan membawa barang-barang yang berat."
"Nenek apa mau makan atau nenek membeli sesuatu?"
Nenek menggeleng pelan. "Kita pulang saja, Nara."
Mereka akhirnya memutuskan pulang. Nara dan Nenek sedang menuruni eskalator karena ada di lantai tiga toko baju yang tadi d kunjungi oleh mereka.
Pada saat akan naik ke eskalator selanjutnya. Nara melihat wanita yang tadi ditolongnya juga mau naik, tapi terlihat kesusahan. " Nek, Nara mau menolong wanita itu dulu."
"Nara hati-hati."
Nara berusaha menolong dengan memeganginya. "Tidak apa-apa, saya pegangin."
"Terima kasih, Nara," Wanita itu terlihat tersenyum pada Nara. Nara yang melihat senyuman itu tampak takut.
"Bagaimana kamu tau namaku?"
Tangan wanita itu seketika mendorong Nara yang posisinya di tarik ke depannya.
__ADS_1
"Jaden ...!" teriak Nara yang tenyata sengaja didorong oleh wanita itu.
Nenek dan pengawal yang melihatnya kaget setengah mati. pengawal itu ingin menolong, tapi tangannya tidak sampai menarik Nara.
Semua orang di sana menjadi ramai dan ikut berteriak. Wanita yang tadi mendorong Nara mengambil kesempatan dan langsung pergi dari sana.
"Nara, kamu baik-baik saja?" tanya suara seseorang yang ternyata berhasil menangkap tubuh Nara sehingga Nara tidak sampai terjatuh ke bawah.
"Nara, kamu baik-baik saja?" Nenek dan supir itu tampak cemas.
"Nek. Paijo?"
Ternyata Nara diselamatkan oleh Paijo. "Nara, kamu baik-baik saja?" tanya Paijo sekali lagi.
"Aku baik-baik saja." Nara disuruh duduk dan supir itu memberikan minuman pada Nara.
"Kenapa kamu ceroboh sekali dan tidak hati-hati, Nara?"
"Aku tadi hanya berniat menolong, Jo, tapi sepertinya wanita itu aku kenal dan dia tadi mendorongku."
"Apa? Dia mendorong kamu?"
"Iya, Nek. Dia bahkan mengenal namaku. Aku tidak tau siapa dia, tapi dia mengenalku."
"Apa dia si siluman rubah Renata itu, Nara?"
Nara melihat pada Paijo. Nara lalu menggelengkan kepalanya. "Kalau dilihat dari penampilanya bukan Renata, apalagi suaranya juga berubah."
"Dia pasti Renata karena dia sedang hamil besar," ucap Nenek.
"Iya, Nek. Aku baru ingat jika Renata sedang hamil besar."
"Kurang ajar! Dia masih mengincar kamu. Akan aku cari dia."
"Tidak perlu, Jo." Nara memegang tangan Paijo. "Dia pasti sudah pergi.
Nenek melihat tangan Nara yang memegang Paijo dan melihat wajah Paijo yang seolah dia pernah melihatnya.
"Kamu sahabat Nara yang sering Nara ceritakan pada Nenek?"
Paijo tersenyum ramah dan memperkenalkan diri dengan mengecup punggung tangan nenek Miranti. "Saya, Jo, tapi Nara lebih senang merubah nama orang menjadi Paijo."
Nenek terkekeh pelan. "Maafkan Nara jika dia memang sangat usil."
"Kenapa Nenek yang minta maaf? Aku sudah biasa dipanggil oleh Nara dengan nama Paijo. Aku malah aneh jika Nara memanggilku dengan sebutan nama asliku."
__ADS_1