Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sosok Lain Jaden


__ADS_3

Jaden mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Nara yang melihat hal itu tiba-tiba ada yang sakit di hatinya.


Jaden menghadap pria di depannya seolah menantang pria itu. Perkelahian pun akhirnya terjadi. Jaden beberapa kali terkena pukul, tapi tidak membuat Jaden tampak menyerah.


"Katakan, siapa yang membantu kamu bersembunyi selama ini?" Jaden sudah mengunci leher pria itu dengan lengannya yang kekar.


"Aku ti-dak a-kan mengatakannya," ucap pria itu terbata. Bunuh saja aku."


Jaden melepaskan lengannya dan mendorong pria itu. Sedetik kemudian terdengar suara letusan senjata api milik Jaden dan tubuh pria itu ambruk tepat di depan mata Jaden.


Pria itu mati ditembak Jaden tepat di kepalanya, dan dua pria lainnya pun tak luput dari tembakan Jaden. Tiga orang mati saat itu juga. Nara yang sembunyi di tempatnya seketika mengeluarkan keringat dingin melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Biasanya Nara hanya melihat adegan tembak menembak di televisi, tetapi saat ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Urus mereka semua Leo."

__ADS_1


"Aku tidak mau tinggal di sini." Nara yang ketakutan ingin pergi dari sana malah menabrak guci usang yang ada di sampingnya sehingga Jaden dan orang-orangnya yang mendengar suara berisik itu melihat pada arah Nara. Nara segera berlari pergi dari sana.


"Tidak perlu dikejar!" Jaden menghentikan orang-orangnya yang ingin mengejar Nara.


"Nara? Untuk apa dia di sini?" tanya leo heran.


"Gadis itu memang keras kepala dan pembangkang sekali. Aku harus memberinya pelajaran." Jaden pergi dari sana dengan wajah kesalnya.


Leo yang melihat hal itu khawatir dengan apa yang akan terjadi dengan Nara. "Gadis itu benar-benar belum tau siapa tuan Jaden," dialognya sendiri.


Nara yang takut segera memundurkan langkahnya. Tangan besar Jaden dengan cepat menarik rambut Nara.


"Sakit!"

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan tadi di sana, Gadis Bodoh? Bukankah aku sudah bilang agar kamu tidak ke mana-mana, kenapa kamu masih saja suka membangkang? Apa kamu mau aku bunuh kamu seperti orang-orang itu?" tanya Jaden dengan kedua mata menyala.


"A-aku minta maaf, aku tadi hanya penasaran saat melihat kamu membawa senjata api itu."


"Jangan pernah sok ingin tau di rumah ini! Semua yang ingin kamu lakukan hanya atas perintahku, dan aku sudah ingatkan kamu agar tidak membangkang lagi." Jaden melempar tubuh Nara dan Nara jatuh tepat di atas ranjang besar Jaden.


Nara bangun dari tempat tidur Jaden. "Kamu kenapa membunuh orang-orang itu? Perbuatan kamu melanggar hukum."


Jaden dengan cepat mendorong sekali lagi tubuh Nara dan dia dengan cepat menindih tubuh Nara. "Aku sudah bilang jangan ikut campur dengan urusanku. Kalau kamu masih terus ikut campur, aku akan membuat kamu menyesal." Kedua mata mereka saling menatap dalam.


"Lepaskan aku, Tuan. Aku tidak mau di sini," ucap Nara takut.


"Enak saja kamu bilang. Kamu tidak punya hak untuk meminta sesuatu padaku, bahkan kebebasan kamu."

__ADS_1


"Aku akan membayar hutang-hutang pamanku sama kamu, Tuan."


"Dengan apa? Dengan tubuh kamu?" tanya Jaden menekankan.


__ADS_2