Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Extra Part 1


__ADS_3

Wanita cantik dengan gaun kebaya putihnya berdiri di depan cermin panjang di dalam kamarnya. Dia sedang melihat dirinya di cermin dengan tersenyum bahagia.


Sebuah kecupan kecil mendarat pada leher jenjangnya. Tangan putihnya mengusap perlahan rahang tegas yang selama ini menemani hidupnya.


"Kamu masih tetap cantik seperti saat pertama kali aku mengenal kamu."


"Jangan merayuku karena hari ini adalah hari istimewah putriku dan aku tidak mau merusak riasanku." Pria yang mengecupnya terkekeh pelan karena dia tau maksud istrinya.


"Apa yang sedang kamu senyuman?"


"Aku tidak menyangka jika kita tiba di hari yang jujur juga membuatku takut karena kita akan memberikan putri kecil kita kepada orang yang nantinya akan menjaganya menggantikan kita, Jaden." Nara menoleh dan mengusap lembut pipi suaminya.


"Setelah bicara dengan Dimas, entah kenapa aku kesal dengan bocah itu."


"Kesal kenapa?"


"Dia bisa di atasku dalam menjaga dan menyayangi Denna. Berkelahi dengannya saja aku kalah, dia juga sangat pandai menembak. ****! Aku benar-benar merasa dikalahkan olehnya."


Nara terkekeh mendengar omelan suaminya. "Tapi dia tidak bisa mengalahkan kamu dalam hal menjadi ayah yang sangat sempurna bagiku." Sekali lagi tangan Nara mengusap lembut rahang tegas suaminya.


"Saat dia menjadi ayah kelak, dia pasti akan bisa menjadi ayah yang dapat diandalkan."


"Aku berdoa semoga mereka akan bahagia selamanya dengan anak-anak mereka." Nara menghalus air matanya.


"Sekarang kamu sendiri yang merusak riasan wajah kamu, Sayang." Jaden menghapus air mata istrinya. "Mau lebih aku rusak tidak riasannya? Kebetulan masih ada waktu beberapa menit lagi," bisik Jaden mesra pada telinga Nara.


Mereka berdua turun dari kamarnya dan menuju tempat pernikahan. Jaden tampak gemetar melihat ruangan yang nantinya dia akan duduk untuk bertemu seseorang yang akan menggantikan dia menjaga putrinya. Seseorang yang akan dia amanatkan untuk membahagiakan gadis kecil yang sangat dia jaga dan rawat sampai gadis itu sudah tidak membutuhkan tangannya lagi untuk digenggam.


"Diaz, apa seperti ini rasanya menikah itu? Aku benar-benar sangat nervous dan takut." Denna menggenggam tangan Diaz.


"Kenapa takut? Menikah itu enak, Denna. Apa lagi saat nanti kita merasakan malam pertama." Diaz malah terkekeh.


"Ya ampun ini anak! Kenapa malah membahas malam pertama?" Denna memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Justru itu yang akan membuat kamu tambah takut. Awalnya memang sakit, tapi setelahnya kamu akan ketagihan." Ini Diaz malah nyerocos terus.


"Diaz, sudah, ya, kamu jangan membahas masalah itu dulu. Aku benar-benar deg-degan ini menunggu Dimas mengucapkan ijab qobul.


Diaz beranjak dari tempatnya dan melihat ke arah luar jendela di mana ada meja berisi ayah Denna dan Dimas serta bapak penghulu yang siap melangsungkan acara ijab qobul. Pernikahan Denna ini bertema out door di taman nenek yang sangat indah.


"Aku yakin jika Dimas akan bisa dengan lancar mengucapkan ijab qobul."


Denna menunggu dengan mulutnya tidak hentinya mengucapkan doa. Suasana seketika menjadi hening saat Dimas menjawab apa yang ditanyakan oleh Jaden dan tidak lama kalimat yang membuat Dimas sah menjadi suami Denna terucap dengan lancar.


"Denna, selamat kamu menjadi nyonya Dimas. Kalian sah menjadi suami istri," ucap mas Rio memberitahu Denna dan Diaz di kamarnya.


Seketika air mata Denna tidak dapat dibendung lagi. Dia menangis bahagia mendengar jika dirinya dan Dimas sah menjadi suami istri. Diaz segera membawa Denna turun untuk menemui suaminya.


Dimas tampak terkesima melihat wanita cantik yang baru saja sah menjadi Istrinya. Denna pun tampak kagum melihat suaminya dengan setelah kemeja berwarna salem-- warna kesukaan Denna.


"Nona Denna cantik sekali," puji Dimas.


"Dimas, kenapa masih memanggil Denna dengan sebutan Nona? Denna sekarang sudah menjadi istri kamu. Panggil dia sayang atau istriku, jangan memanggilnya Nona," terang Nara.


Denna tersipu malu mendengar apa yang Dimas katakan. Jaden yang mendengarnya tersenyum tidak percaya dengan apa yang di dengar. Jaden sekarang sangat menyukai menantunya itu.


Acara berlangsung cukup meriah walaupun hanya di hadiri keluarga dekat dan orang-orang yang dianggap seperti keluarga sendiri. Ini Karena Denna dan Dimas sepakat tidak mau mengundang banyak orang, dan ingin pernikahan ini terasa sakral hanya dihadiri orang-orang tertentu saja.


"Halo, Nek," sapa seorang wanita cantik dengan baju kebaya berwarna birunya.


"Mauren? Kamu ada di sini?"


"Iya, Nara dan Jaden yang mengundangku untuk hadir di acara pernikahan putrinya."


"Mauren, aku senang akhirnya kamu bisa datang ke sini." Nara memeluk Mauren dengan hangat.


Nenek yang melihatnya tampak bingung. Kenapa Nara bisa sangat akrab dengan Mauren yang membuat dia cemburu setiap dekat dengan Jaden.

__ADS_1


"Tentu saja aku akan sempatkan hadir di acara pernikahan putri dari orang yang sudah sangat baik padaku."


"Kamu jangan bicara seperti itu. Aku pasti menolong siapapun yang akan mengalami hal itu."


"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan Nara?" tanya nenek.


"Nek, Nara sudah sangat baik padaku, dahal aku masih ingin saja mendekati Jaden. Nara tau hal itu, tapi tidak membuat dia membenciku. Nara malah menyelamatkan aku dari mobil yang hampir menabrakku di London saat kami tengah pergi menemui klien bisnis kami, Nek.


"Oh Tuhan!" Nenek Miranti sangat terkejut mendengar hal itu karena beliau tidak diberitahu oleh Jaden dan Nara.


"Nara sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena keadaannya yang tidak baik. Aku benar-benar merasa bersalah pada Nara. Aku akan mengutuk diriku sendiri jika terjadi apa-apa pada Nara."


"Kenapa kamu tidak bilang nenek, Nara?"


"Nara tidak mau Nenek cemas dan akhirnya mengganggu jantung nenek."


"Kamu sama saja dengan suami kamu, selalu memikirkan orang lain."


"Apa yang kamu lakukan tidak bisa aku balas dengan apapun, Nara."


"Halo, Mauren," sapa Jaden.


"Halo, Jaden. Aku ke sini karena ingin sekali mengucapkan selamat atas pernikahan putri kamu. Kamu pasti bahagia sudah melihat putri kamu memiliki keluarga kecilnya sendiri. Aku juga berharap agar Mandy bisa segera menemukan jodohnya."


"Di mana putri kamu?" Jaden tidak memberitahu Mauren tentang apa yang pernah Mandy lakukan pada Denna, tapi sejak itu Jaden mengawasi Mandy dan Evans.


"Dia tidak bisa ikut karena kurang enak badan." Sebenarnya Mandy tidak sakit, hanya saja dia mencari alasan untuk tidak datang saat tau mami ya diundang ke acara pernikahannya Denna.


"Semoga putrimu lekas sembuh."


Acara berjalan dengan sangat lancar sampai malam tiba. Tepat pukul sebelas malam acara pun selesai. Dimas dan Denna masuk ke dalam kamar Denna yang sudah di hiasi sangat cantik oleh Nara.


Besok lanjut Extra Part 2

__ADS_1



__ADS_2