
Jaden tidak menjawab perkataan Renata, dia tetap pergi mengendarai mobilnya pergi ke rumah di mana Nara dulu menjadi pelayannya.
"Aku akan terus mencari kamu, Nara, meskipun kamu menghindarinya. Aku akan meyakinkan kamu bahwa aku akan baik-baik saja walaupun kamu di sampingku." Di sana masi tercium aroma tubuh Nara. Jaden tidur dengan memeluk bantal yang biasa Nara gunakan, dan di depan para penjaga menjaga dirinya.
Hari-hari dilalui Jaden dengan tetap mencari dan merindukan Nara. Dia kembali menjadi Jaden yang dulu, untuk tepat membuat hatinya kuat.
Malam itu di rumah Nenek, mereka sedang makan malam berempat dengan Reno. "Bagaimana masakan aku? Pasti enak bukan? Tidak kalah dengan masakan buatan istrimu. Jangan membuatku down dengan mengatakan masakan aku tidak enak," terang Renata.
"Masakan kamu enak, tapi bagiku masakan Nara lebih enak."
"Hm! Dasar! Apa tidak bisa memujiku sedikit. Aku sudah susah payah membuatkannya."
"Aku memintanya. Lagi pula di sini banyak maid yang bisa membuat masakan. Kenapa kamu malah bersusah payah memasak."
"Lihat, Nek, dia sama sekali tidak mau menghargai hasil kerja sahabatnya."
"Siapa yang tidak menghargai? Aku bilang masakan kamu enak, tapi bagiku masakan Nara lebih enak. Itu bagiku, tidak tau bagi lainnya. Kamu jangan cerewet Renata."
"Memang sudah kalau berurusan dengan kamu."
"Masakan kamu enak kok, Renata. Aku sangat menyukainya," puji Leo.
"Memang hanya kamu yang sangat mengerti Leo."
Mereka melanjutkan makan malamnya. Setelah makan malam Jaden izin untuk pergi ke kamarnya. Malam ini dia menginap di sini karena besok dia harus melakukan pertemuan dengan seseorang di suatu tempat.
Setelah makan malam Nenek mengajak Leo untuk berbicara penting. Sedangkan Renata memilih kembali ke kamarnya untuk menghubungi kedua orang tuanya di Kanada.
Jaden mengguyur tubuhnya di bawah shower, sekilas dia teringat kemesraannya dengan Nara berdua di sana. "Kamu di mana Nara? Aku bisa gila memikirkan kamu terus seperti ini?" Jaden mengepalkan erat tangannya.
"Hai, Jaden," sapa seseorang di dalam kamarnya. Tentu saja Jaden yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit pada pinggangnya tampak kaget.
"Renata? Ada apa kamu masuk ke kamarku?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya mau menyiapkan baju tidur buat kamu." Renata beranjak dari tempatnya dan mendekat pada Jaden. "Aku tau kamu sedang tidak baik-baik saja." Tangan Renata memegang lembut pipi Jaden.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Renata. Sebaiknya kamu keluar dari kamarku karena aku tidak mau orang lain berpikiran buruk tentang kita di sini."
"Jangan terus memikirkan Nara, Jaden. Aku tidak tega setiap melihat wajahmu merindukan dia. Aku sahabat kamu yang peduli sama kamu." Tatapnya nanar.
Jaden melepaskan tangan Renata yang mengusap wajahnya. "Kalau kamu tidak tega melihat keadaanku seperti ini. Kamu boleh kembali ke Kanada, Renata." Jaden berjalan pergi dari sana masuk ke dalam walk in closetnya.
"Jaden, kenapa kamu keras kepala sekali? Kamu tidak perlu memikirkan Nara terus. Bisa saja kamu dibohongi oleh dia."
Jaden menoleh tajam pada Renata. "Apa maksud ucapan kamu?"
"Dia tidak kembali pada kamu karena bisa saja dia memiliki pria lain, dan masalah ini hanya sebagai alasan dia saja."
"Jaga mulut kamu." Jaden mencengkeram dagu Renata dengan keras. "Aku tau siapa Naraku, dan kamu tidak perlu mengatakan hal buruk tentang dia." Jaden melepaskan dengan keras dagu Renata.
Renata yang mendapat perlakuan kasar itu sampai mengeluarkan air mata. "Jaden, aku hanya ingin kamu tidak larut dalam kesedihan menunggu istri kamu yang entah kapan kalian akan bertemu lagi."
"Keluar dari kamarku! Nara dan aku akan segera bertemu. Akan aku pastikan hal itu."
Renata menghapus air matanya dan dia berjalan keluar dari kamar tidur Jaden.
Pagi itu di meja makan, Renata sudah menyiapkan makan pagi untuk mereka semua.
"Leo, ayo kita pergi sekarang. Apa Juan sudah menghubungi kamu dan memberikan di mana kita akan bertemu?"
"Tentu saja sudah, Tuan."
"Jaden, Leo masih sarapan pagi dan sebaiknya kamu juga makan dulu lalu pergi mengurusi bisnis kamu itu."
"Iya, aku sudah membuat sup ayam kesukaan kamu. Kamu makan dulu lalu nanti kamu bisa melakukan pekerjaan kamu."
Jaden hanya melihat datar pada Renata. "Aku sedang buru-buru. Leo, Aku tunggu kamu di mobil." Jaden mengecup pipi neneknya dan langkah tegap menuju mobilnya.
"Iya, Tuan." Leo jadi gelagapan. Dia meletakkan sendok makannya dan segera menghabiskan segelas minumannya dan izin pergi dari sana. Tidak mungkin dia membiarkan tuannya menunggunya.
Renata tau Jaden marah padanya. Dia agak sedih karena hal itu. Dahal dia hanya ingin sahabatnya itu kembali seperti dulu tidak memikirkan Nara terus yang malah membuatnya sedih.
__ADS_1
Perjalanan Jaden kali ini agak jauh karena tempat yang dia kunjungi adalah pelosok. Dia akan bertemu dengan rekan dunia gelapnya untuk bertransaksi hal yang pastinya tersembunyi, yaitu senjata api.
"Selamat siang, Jaden." Seorang pria tinggi besar dan ada brewok memenuhi dagunya.
"Selamat siang, Juan. Apa kamu begitu takut sampai kita harus bertemu di tempat yang jauh seperti ini?"
"Hahaha! Aku tidak takut, Jaden, hanya saja aku mencari tempat yang aman dan memiliki pemandangan yang bagus. Bagaimana menurut kamu di sini?"
Jaden melihat tempat itu memang sangat indah dan menentramkan jika di sana.
"Cukup bagus. Aku juga menyukai tempat ini."
"Kalau begitu kita bersulang untuk kerja sama kita." Mereka saling membenturkan gelas masing-masing sampai terdengar suara dentingan.
"Tami, kamu melihati apa?" suara seorang pria berhasil membuat Tami yang melamun menginjakkan kakinya di bumi kembali.
"Pak Jo! Bikin kaget saja."
"Kamu itu melamun apa, Tam? Kerja, jangan melamun terus, nanti jadi jelek loh."
"Pak Jo sukanya ngasal. Mana mungkin orang melamun bisa bikin jelek?"
"Tentu saja bisa. Tadi kamu melongo itu kelihatan jelek sekali. Kalau begini baru cantik."
"Huft! Lebih cantik Mba Nara ya?"
"Itu tau." Paijo malah meringis. "Kamu itu bisa-bisanya bikin orang dosa mengagumi istri orang. Sudah kerja sana!"
"Sebentar lagi Pak Jo. Tugasku di dapur sudah selesai kok. Lagi pula belum ada pelanggan yang bisa aku layani." Tami kembali melihat ke arah meja seseorang dan tentu saja hal ini membuat Paijo penasaran.
"Kamu melihat apa sih, Tam?" Paijo melihat pada dua orang pria yang tengah bicara dan sesekali tersenyum miring.
"Pria di sana itu tampan sekali ya, Pak. Apa lagi dia terlihat dewasa sekali mirip sugar daddy," celetuk Tami sambil terkekeh pelan.
"Hah? Sugar Daddy?" Paijo memperhatikan pria yang tak lain adalah Jaden Luther yang memang hari ini ada pertemuan di restoran milik Paijo.
__ADS_1