
Leo berjalan keluar dari kamar Jaden dengan membawa map di tangannya. Leo tampak memperhatikan mapnya. Nara yang berada di dapur dapat melihat Leo yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
Nara berjalan menghampiri Leo yang berdiri di antara ruang dapur dan ruang tengah.
"Mas Leo, Mas Leo kenapa? Kok kelihatan ada yang sedang di pikirkan?"
"Nara, aku tidak apa-apa."
"Jangan bohong? Apa Tuan JL memarahi Mas Leo? Dia itu memang pria yang suka sekali marah-marah dan memerintah dengan seenaknya," cerocos Nara.
Leo marah tersenyum mendengar omelan Nara tentang Jaden. "Jangan bicara seperti itu karena Tuan JL bisa mendengarnya."
Seketika Nara menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kedua matanya langsung mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan. Nara ingat Jaden bisa mengetahui saat dia dan Paijo sedang berbicara lewat telepon, padahal Jaden tidak ada di rumah.
"Apa Tuan JL memasang kamera CCTV di rumah ini untuk mengawasiku, Ya?" bisiknya pada Leo.
"Menurut kamu?" Leo lagi-lagi tersenyum pada Nara.
"Huft! Aku benar-benar seperti tawanan di rumah ini. Kira-kira apa hidupku akan seperti ini selamanya ya? Padahal aku mempunyai cita-cita yang banyak sekali."
"Suatu hari nanti hidup kamu pasti berubah, dan kamu percaya saja pada Tuan Jaden, Nara. Kalau begitu aku mau pergi dulu."
"Mas Leo mau ke mana?" Nara dengan cepat menarik tangan Leo dan membuat Leo tampak terdiam melihat pada lengannya yang dipegang oleh Nara.
"Aku mau pergi dulu, Nara. Apa kamu memerlukan bantuan ku?"
"Maaf ya Mas Leo." Nara melepaskan pegangan tangannya. "Mas Leo memangnya tidak tidur di sini?"
"Aku tidur di apartemenku sendiri yang dekat dengan kantor Tuan Jaden, jadi aku tidak terlambat datang ke kantor, apalagi Tuan Jaden mungkin beberapa hari tidak bisa ke kantor."
"Oh begitu.Sebenarnya aku sudah membuatkan dua minuman jahe hangat untuk Mas Leo dan Tuan JL karena cuaca sedang dingin, tapi kalau Mas Leo mau pulang ya sudah nanti aku saja yang menghabiskannya."
"Mana minuman jahenya? Aku suka minuman jahe. Sudah lama aku tidak menikmati minuman jahe sejak ibuku terbaring di rumah sakit."
__ADS_1
"Ibu Mas Leo sakit apa?"
"Ibuku terkena serangan jantung dan strok ringan karena terkejut mendengar ayahku meninggal karena bunuh diri."
"Apa?" Nara yang terkejut sampai menutup mulutnya sekali lagi dengan tangannya.
"Iya, Nara. Ayahku meninggal karena bunuh diri. Ayahku ditipu oleh saudaranya sendiri, dan seluruh hartaku habis diambil semua. Ayahku yang shock dan tidak bisa menerima semuanya akhirnya bunuh diri dengan meminum racun. Ibuku yang mengetahui hal itu kaget dan akhirnya sakit.
"Maaf, Mas Leo, aku tidak bermaksud membuat Mas Leo mengingat semuanya."
"Tidak apa-apa, Nara. Aku malah senang bisa berbagi cerita sama kamu. Sekarang di mana minuman jahenya? Jadikan kamu memberikan minuman itu?"
Nara tersenyum lebar. "Tentu saja aku jadi memberikan minuman itu. Ayo kita ke pantry dapur." Nara berjalan dan diikuti oleh Leo.
Mereka duduk di meja makan dan menikmati jahe hangat buatan Nara. "Enak sekali minuman ini dan menghangatkan. Kamu ternyata pandai sekali memasak."
"Aku hanya suka melihat mamaku memasak dan aku sering bertanya bahan apa saja yang di gunakan oleh mamaku."
"Kedua orang tua kamu juga sudah meninggal ya, Nara?" Nara mengangguk perlahan. "Kamu adalah gadis yang kuat, Nara."
"Jangan berpikiran seperti itu, Nara. Hidup kamu masih panjang dan harus terus berjalan karena masa depan kamu masih cerah."
"Masa depan cerah?" Kedua alis Nara mengkerut.
"Kenapa wajah kamu tiba-tiba begitu?"
"Mas Leo sadar dengan apa yang Mas Leo katakan? Masa Depan bagaimana yang Mas Leo maksud? Aku saja sekarang malah diculik dan bekerja menjadi pelayan Tuan JL. Aku saja bahkan tidak bisa menghirup udara luar karena dikurung terus di rumah. Bahkan juga aku tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Eh, tunggu! Aku saja juga tidak akan bisa hadir di acara perpisahan sekolahku. Lalu, aku harus membayangkan masa depan yang bagaimana?"
"Selain jago memasak, kamu juga sangat cerewet ternyata," celetuk Leo.
"Aku tidak cerewet Mas Leo, aku hanya mengeluarkan apa yang sedang aku rasakan."
"Apa sudah lega?"
__ADS_1
"Sedikit. Oh ya, Mas Leo, aku tadi belum mengerti maksud Mas Leo tentang masa depanku akan baik nantinya? Apa Mas Leo mengetahui sesuatu tentang apa yang akan terjadi padaku? Apa Tuan JL akan melepaskan aku?"
"Dia tidak akan melepaskan kamu, Nara." Leo beranjak dari tempatnya. "Maaf, Nara karena ini sudah malam dan besok pagi aku harus menghadiri rapat penting untuk menggantikan Tuan Jaden, jadi aku harus segera pulang."
"Iya, hati-hati Mas Leo."
"Kamu juga harus sabar dan jadilah gadis yang penurut. Terima kasih untuk minuman jahenya."
Leo keluar dari dalam rumah Jaden. Nara sekarang tampak sedih. Dia sekarang merasa sepi lagi. Nara senang sekali bisa berbagi cerita dengan Mas Leo yang baginya sangat baik dan lembut.
"Ya ampun!" Nara menepuk dahinya. Dia baru saja melupakan sesuatu. Nara cepat-cepat lari ke dalam dapur dan membuatkan lagi minuman jahe.
Nara mengetuk pintu kamar Jaden dan ternyata si pemilik kamar masih belum tidur.
"Tuan JL, ini aku bawakan minuman jahe karena suasana sedang dingin." Nara berdiri di samping ranjang Jaden.
"Apa sudah selesai sesi curhatnya dengan Leo? Kenapa tidak mengeluarkan keluh kesah yang kamu rasakan langsung padaku?"
"Jadi kamu sudah tau? Bagus kalau begitu, jadi aku tidak perlu mengatakan lagi," jawab Nara lirih.
"Aku sudah mengatakan semua sama kamu, jika hidup dan masa depan kamu sudah ada di tanganku dan kamu tidak perlu menginginkan apapun lagi karena kamu akan menjadi pelayanku dan hidup kamu aku yang jamin"
Nara hanya terdiam, dia sudah tau jawabannya jika pembicaraan itu dilanjutkan. Nara.
Malam itu Nara terpaksa tidur di samping Jaden karena titah pria itu. Begitupun Jaden tidur sambil memandang Nara yang wajahnya sudah terlelap dalam.tidurnya.
"****, kenapa gadis ini bisa membuatku seolah tidak nyaman dekat dengannya?" Jaden berdialog sendiri.
***
Keesokan harinya. Nara ternyata sudah bangun dan ingin membuat sarapan untuk orang-orang di rumah, termasuk para pengawal. Mereka juga manusia, jadi harus diperlakukan dengan baik.
"Aku sebaiknya tidak membangunkan Jaden saja, dan aku akan ke kamarku untuk mandi dan berganti baju." Nara turun dari ranjang dengan sangat pelan agar orang di sebelahnya tidak bangun."
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Nara?" suara Jaden yang tiba-tiba terdengar saat salah satu kaki Nara sudah hampir turun ke lantai.