
Dari kejauhan dua pasang mata sedang memperhatikan Denna dan Dimas yang sedang berjalan bergandengan tangan.
Ternyata bukan hanya dua orang itu yang tengah memperhatikan Denna dan Dimas, tapi beberapa murid lainnya di sana juga memperhatikan bahkan berbicara saling berbisik.
"Dimas, kenapa kamu menggandengku?" Denna berbicara lirih.
"Nona bilang sendiri tidak mau sampai teman-teman Nona di sini tau saya seorang bodyguard, jadi kita seperti biasa saja mengaku sebagai sepasang kekasih."
"Benar juga apa kata kamu. Tidak mungkin juga aku katakan kamu adalah kakakku atau sepupuku. Pasti mereka tidak percaya."
"Denna!" seru seseorang dari arah belakang. Denna dan Dimas menoleh ke arah suara itu.
"Diaz!" Denna langsung memeluk sahabatnya. "Kamu cantik sekali malam ini."
"Seperti apa kata kamu, Denna. Aku berlian yang tidak tampak." Diaz langsung terkekeh.
"Itu memang benar, dan Mas Rio yang mendapat berlian secantik kamu."
Diaz tersipu malu. Sekarang pandangan Diaz berpindah tertuju pada sosok Dimas yang berdiri di samping Denna.
Dimas memberi senyuman dan sedikit anggukan pada Diaz. "Denna, dia siapa?"
"Kenalkan, ini Dimas. Dia bodyguardku," bisik Denna pada telinga Diaz.
"Apa? Dia--!"
"Pelankan suara kamu. Aku tidak mau jika yang lain tau aku ke sini dikawal oleh seorang bodyguard. Aku mengenalkan Dimas sebagai kekasihku. Kalian bisa menyimpan rahasia, Kan?"
"Kekasih?" goda Diaz.
"Jangan menertawakan ucapanku, Diaz, atau aku pulang saja."
Diaz langsung memeluk sahabatnya.
Di sudut tempat tidak jauh dari tempat Dimas dan Denna. Evans yang sudah keluar dari rumah sakit tampak melihat kesal dan marah pada Denna.
"Gadis itu akan menerima pembalasan dariku."
"Sepertinya kamu harus bersabar dulu untuk membalas dendam sampai luka kamu sembuh. Lihat saja diri kamu yang masih ada perban menempel." Mandy terkekeh pelan.
Evans menghabiskan minumannya dengan cepat dan dengan menahan kesal Evans mencengkeram gelas minumannya.
"Pria itu pasti yang sudah menolong Denna."
"Kamu yakin? Bukannya kamu katakan jika kamu tidak melihat wajah pria itu?"
__ADS_1
Evans melihat pada Mandy. "Dia pasti pria itu. Apa dia kekasih Denna? Setahuku Denna tidak memiliki kekasih, bahkan memikirkan mempunyai seorang pacar."
"Dia hanya beralasan karena tidak suka dengan kamu. Evans, aku heran, kenapa Denna tidak melaporkan apa yang kamu lakukan padanya?" Kedua alis Mandy mengkerut.
"Mungkin dia tidak punya cukup bukti dan lagi Denna pasti memikirkan dua kali jika ingin membuat masalah ini sampai diketahui banyak orang. Aku juga punya sebuah alasan yang bisa membuat Denna kalah dalam hal ini. Aku tinggal bilang kita sama-sama saling mencintai dan sudah dewasa serta aku sudah menyiapkan lainnya." Evans menyeringai.
Acara akhirnya di mulai dan pembawa acara naik ke atas panggung.
"Nona, apa Nona mau saya ambilkan minuman?"
"Dimas, jangan memanggilku Nona di sini. Kamu panggil saja namaku Denna."
"Baiklah! Denna, apa kamu mau minum?"
"Aku mau, tolong ambilkan orange jus saja, Dimas."
Dimas berjalan menuju stand minuman dan mencarikan orange jus untuk Denna.
Evans berjalan mendekat pada Denna. "Hai, Denna," sapanya.
Denna tampak kesal dan geram melihat sosok pria yang hampir saja menodainya.
"Pergi dari hadapanku. Aku tidak mau mengenal, bahkan berbicara dengan kamu."
"Lepaskan tangan kekasihku," suara besar Dimas tepat di belakang Evans.
Denna menyibakkan tangan Evans dan berjalan mendekat pada Dimas. "No--. Kamu tidak apa-apa, Denna?"
"Aku tidak apa-apa. Dimas, sebaiknya kita pergi saja dari sini." Denna menggandeng tangan pria yang diajaknya berpura-pura menjadi kekasihnya.
"Denna, apa yang kamu harapkan dari kekasih kamu itu? Dia pasti tidak lebih kaya dariku?"
Denna menggeleng tidak percaya dengan ucapan Evans. "Walaupun dia tidak sekaya kamu, tapi dia memiliki hati lebih kaya dari kamu. Itulah sebabnya kenapa aku tidak menyukai kamu walaupun kamu memiliki segalanya."
"Kamu suatu hari akan mencariku dan menginginkan aku, Denna."
"Jaga bicara kamu mengenai kekasihku. Malam itu aku masih memaafkan kamu untuk tidak menghabisi nyawamu, tapi lain kali jika kamu masih berniat buruk pada kekasihku. Aku pastikan bukan di sini tempat kamu." Dimas menatap tajam pada Evans.
"Dimas, kita pergi saja dari sini. Aku ingin muntah lama-lama dekat dengan pria brengsek ini." Denna menarik tangan Dimas dan membawanya menjauh dari Evans.
Denna membawa Dimas keluar ke taman kecil yang ada di dekat ruangan pesta berlangsung.
Denna memperhatikan wajah Dimas yang masih menahan amarah.
"Kamu baik-baik saja, kan Dimas?"
__ADS_1
Dimas tidak menjawab, dia hanya mencoba menarik napasnya panjang untuk menenangkan diri.
"Saya lebih baik sekarang, Nona."
"Dimas, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, Nona mau tanya apa?"
"Apa kamu pernah membunuh seseorang sebelumnya?"
Dimas mengerutkan alisnya mendengar apa yang Denna tanyakan.
"Saya pernah menghajar seseorang sama dia koma. Hanya itu," jawab Dimas singkat.
"Apa? Sampai koma?" Denna sampai melongo. "Dia salah apa memangnya?
"Menampar ibunya di jalanan hanya karena ibunya mint tolong untuk dibantu di bawakan tas miliknya. Anak kurang ajar itu berani melakukannya karena merasa ibunya mengganggu saat dia sedang berbicara dengan kekasihnya lewat telepon."
"Keterlaluan sekali. Lalu, bagaimana keadaan dia sekarang?"
"Dia kehilangan ingatan sebagian, tapi sikapnya mendadak berubah menjadi lebih baik."
"Syukurlah dia tidak sampai meninggal." Denna menghela napasnya pelan.
"Tapi kali ini aku ingin bisa menghabisi seseorang yang sangat brengsek!" Pandangan mata Dimas. mengarah ke dalam ruangan di mana dia mleihat sosok Evans yang sedang berbicara dengan mandy.
"Jangan mengatakan hal itu, Dimas. Hal itu tidak baik walaupun bos kamu yang menyuruhnya." Denna memegang lengan tangan Dimas.
Dimas mengangguk perlahan. Mereka berdua sudah lama di sana untuk menenangkan diri masing-masing.
"Dimas kita sebaiknya masuk ke ruang utama acara ini." Denna beranjak dan diikuti oleh Dimas.
"Apa Nona sudah lebih baik? Atau kita pulang saja."
"Acaranya belum selesai, Dimas. Kita nikmati saja acara ini sampai selesai. Kamu jangan khawatir karena aku baik-baik saja." Denna menarik perlahan lengan tangan Dimas dan mereka masuk ke dalam ruangan utama.
Di sana Denna menemui teman-teman sekelasnya dan saling berbicara. Dimas tampak dari kejauhan tak melepaskan pandangannya mengawasi Denna.
Denna tampak berbicara sambil sesekali bercanda dengan teman-temannya. "Denna, kamu katanya tidak mau memikirkan tentang memiliki kekasih, tapi datang ke sini tiba-tiba dengan kekasih tampan kamu."
Denna tersenyum melihat pada Dimas yang berdiri dengan membawa segelas minuman dingin di tangannya.
"Denna, nanti kita ikut acara pemilihan pasangan terbaik saat berdansa. Kamu harus ikut pokoknya," ucap Diaz.
"Tidak mau, Diaz. Dimas juga tidak akan mau ikut acara dansa, apa lagi aku yang tidak bisa berdansa."
__ADS_1