
Jaden hanya bisa berdiri dengan mendengus kesal melihat Nara yang tampak bahagia makan di temani oleh Leo. Leo pun tampak senang jika Nara mau makan karena Leo kasihan pada Nara yang sedang hamil, tapi muntah terus.
Nenek yang berdiri di samping Jaden mengusap perlahan lengan tangan cucunya. "Kamu sabar dulu, Sayang. Bagaimanapun Nara itu sedang hamil dan perasaan orang hamil sangat sensitif. Pokoknya kamu harus mengalah dulu sama Nara.
"Aku akan berusaha, Nek, meskipun itu sangat sulit. Huft! Aku tidak pernah harus menuruti permintaan seseorang, bahkan mengalah, tapi dengan Nara benar-benar aku harus melakukannya."
Wanita tua di sampingnya menahan tawa mendengar keluh kesah cucunya.
"Buat calon bayi kamu. Kamu pasti ingin Nara bisa melahirkan dengan mereka berdua sehat dan selamat, kan?"
"Tentu saja, Nek. Aku sangat mencintai mereka berdua." Jaden melihat pada Nara yang sekarang malah minta disuapi oleh Mas Leo.
Jaden yang mau menghampiri mereka, sekali lagi dilarang oleh nenek. "Biarkan saja, Jaden. Nara juga tidak akan jatuh cinta pada Leo. Leo pun tidak akan mengambil Nara dari kamu."
"Tapi rasanya menjengkelkan melihat hal itu, Nek." Jaden menggeram kesal.
"Kamu mau Nara bisa baikkan sama kamu seterusnya, tapi tetap kamu harus mengalah."
"Katakan saja, Nek."
"Kemarilah, nenek akan membisikkan di telinga kamu." Jaden mendekat pada neneknya dan wajah Jaden tampak tersenyum miring.
Pria itu berjalan mendekat ke pada meja Nara dan Leo. Nara langsung terdiam dan melirik pada Jaden yang berdiri di dekatnya.
"Tuan Jaden, Nara makannya banyak sekali." Tangan Leo yang ketahuan menyodorkan sendok pada mulut Nara.
"Ada apa ke sini? Aku mau menambah makan lagi. Ada kamu nafsu makanku jadi hilang." Nara cemberut.
"Nara, lusa Kita akan menikah. Kamu bersiap-siaplah," ucap Jaden tegas dan cepat.
Nenek yang mendengar langsung menepuk dahinya. "Ini kenapa cucuku mengatakan hal sepenting itu dengan cara biasa dan terkesan biasa saja. Pakai bersimpuh di hadapan Nara atau dengan bahasa yang lebih romantis. Will You Marry Me atau dengan nada bicara yang terkesan dia grogi mengatakan hal itu. Eh! Ini kayak orang ngajak perang aja. Dingin dan kaku," omel nenek dari dalam hatinya.
"Apa? Tuan JL mengatakan apa?" Nara ini dengar, tapi pura-pura tidak mendengar.
"Besok lusa kita akan menikah, Nara. Nenek yang akan mengatur semuanya."
Nara beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menatap pria yang baru saja mengatakan ini menikahinya.
__ADS_1
Seketika air mata Nara menetes perlahan. "Kamu serius, Tuan JL?"
"Tentu saja serius! Memangnya wajahku terlihat bercanda," ucapnya ketus.
Leo dan Nenek saling melihat, dan wanita tua yang masih cantik itu meringis lucu. Dia malu dengan cucunya yang mengajak seorang wanita menikah, tapi nadanya kayak ngajak perang.
Nenek tidak tau saja jika di dalam hati Jaden sudah kebat-kebit tidak karuan. Dia baru pertama kali ini mengajak seseorang menikah, makannya dia mencoba menghilangkan rasa groginya dengan cara seperti itu.
"Aku mencintaimu, Tuan JL." Nara memeluk calon suaminya dengan sangat erat. Seketika hati Jaden menjadi sangat bahagia dan tenang. Dia pun membalas memeluk Nara dengan erat.
Leo yang duduk di sana tampak tersenyum sambil menunjukkan jari jempolnya pada Jaden.
Beda dengan Jaden, dia malah memberi isyarat pada Leo untuk pergi dari sana. Leo yang mukanya tadi senang berubah aneh. Dia tau maksud dari isyarat Jaden.
"Aku juga mencintaimu, Nara, dan juga mencintai bayi kita. Kamu jangan marah-marah lagi denganku. Maaf jika sikapku kasar sama kamu, nanti aku akan mencoba lebih sabar."
Nara mengangguk tanpa menarik pelukannya dari Jaden.
"Akhirnya mereka akan menikah juga. Nenek pasti yang melakukannya?" Leo melihat pada Nenek Miranti.
"Sudah saatnya cucuku memiliki sebuah keluarga kecilnya. Mau sampai kapan dia hidup seperti ini terus."
"Kamu benar, Leo."
"Nara ...!"
Kedua mata nenek dan Leo terkaget melihat Nara yang tiba-tiba muntah di baju Jaden.
"Nek," ucap Leo lirih.
"Sepertinya cicitku itu tidak mau dekat-dekat dengan ayahnya. Mereka kenapa musuhan begitu?" celetuk nenek Miranti.
Jaden berdiri dengan mengambil napas panjang dan membiarkan Nara menyelesaikan muntahnya. Jaden tidak jijik, hanya saja dia kesal karena Nara kenapa muntah lagi. Dia kasihan dengan bayi di dalam perutnya dan dengan Nara sendiri kalau tidak kemasukan makanan.
Kekacauan hari ini sudah di selesaikan. Nenek menyuruh Jaden membawa Nara ke rumah sakit agar tidak muntah terus. Apa lagi Nara terlihat sangat lemas.
Mereka berdua akhirnya diantar Leo ke rumah sakit. Nara duduk di belakang dengan bersandar pada pundak Jaden.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?"
"Badanku tidak enak dan aku mau muntah lagi," ucap Nara lirih.
"Mau muntah? Leo, kita menepi sebentar karena Nara mau muntah."
"Baik, Tuan." Leo menepikan mobilnya dan Nara segera turun, dia memuntahkan sisa makanan yang tadi dia makan sedikit sebelum berangkat.
"Apa sudah lebih enakkan?"
Nara mengangguk dan dia kembali masuk ke dalam mobil. Jaden yang melihat Nara tampak lemas jadi tidak tega.
"Aku mau minum, Tuan JL." Jaden segera memberikan air minum pada Nara dan gadis itu langsung menghabiskan sampai tandas.
"Kenapa bayiku sangat rewel dan menyiksa kamu seperti ini?" gerutu Jaden.
"Apa kamu lupa siapa ayah dari bayi ini?" celetuk Nara sambil melirik kesal pada Jaden.
Leo seketika terkekeh pelan. "Ada yang lucu, Leo?" Jaden menegur Leo dengan kesal.
"Tidak ada, Tuan." Leo menggeleng cepat.
"Tuan JL, aku mau muntah lagi." Nara menutup mulutnya untuk menahan sesuatu yang ingin tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Nara berlari keluar dan muntah lagi. "Bagaimana kita bisa sampai ke rumah sakit kalau begini terus?" Jaden tampak bingung.
"Tuan, apa boleh saya memberi saran?"
"Katakan apa, Leo? Jangan pakai basa-basi."
"Tuan, bagaimana kalau nanti Nara duduk di depan bersama dengan saya?"
"Kenapa harus duduk di depan?"
"Tuan jangan marah atau berburuk sangka dulu. Saya melihat Nara yang bisa merasa nyaman jika dekat dengan saya. Maaf! Itu bukan keinginan saya atau Nara, tapi mungkin keinginan bayi Tuan."
Jaden yang mau marah tidak jadi karena memikirkan tentang ucapan Leo yang memang benar.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Nara akan duduk dengan kamu di depan saja. Kamu hati-hati kalau bawa mobilnya." Jaden mengangkat tubuh Nara yang lemas dan mendudukkan di depan dengan Leo. Jaden Juga memasangkan safe belt pada Nara.
Nara tampak tenang dan duduk dengan nyaman sampai mereka tiba di depan gedung rumah sakit yang sangat besar, bahkan di perjalanan Nara sama sekali tidak muntah.